Merekonstruksi Semangat para Kaum Difabel

Diterbitkan oleh: Rima News pada Sabtu, 08/06/2013 – 21:51 WIB | Indeks

Cover buku Ya Rasul Mataku Buta Ketabahan dan Kegigihan Para Penyandang Cacat pada Masa Kenabian (Junaidi Khab)

Cover buku Ya Rasul Mataku Buta Ketabahan dan Kegigihan Para Penyandang Cacat pada Masa Kenabian (Junaidi Khab)

Judul               : Ya Rasul Mataku Buta Ketabahan dan Kegigihan Para Penyandang Cacat pada Masa Kenabian

Penulis             : Alaik S.

Penerbit           : LKiS Pustaka Pesantren

Cetakan           : I, 2012

Tebal               : xvi+112 halaman: 12×18 cm

ISBN               : 13: 978-979-8452-85-7

Peresensi         : Junaidi Khab*

Tuhan menciptakan suatu makhluk tidaklah sia-sia. Segala ciptaan-Nya disertai dengan berbagai manfaat dan fungsi bagi kehidupan manusia dan yang lainnya. Seperti firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat: 26 “…Allah tidak akan segan membuat sebuah perumpamaan meski dari seekor nyamuk…”. Jadi, kita harus menyadari dan sadar terhadap ciptaan Tuhan, bahwa di bumi segalanya memiliki fungsi dan peran masing-masing sesuai dengan keahlian dan kelebihan tersendiri yang telah dibekalkan oleh-Nya.

Tidak ada alasan bagi mereka yang difabel untuk tidak berbuat kebaikan. Banyak jalan menuju roma. Juga banyak jalan yang bisa ditempuh dalam rangka beramal baik yang bisa mendatangkan manfaat bagi kehidupan manusia di muka bumi ini. Bukan karena mereka buta tidak bisa memberikan manfaat, bukan karena mereka tuli tidak bisa memberikan manfaat, bukan karena mereka bisu tidak bisa memberikan manfaat, dan bukan karena mereka lumpuh tidak bisa memberikan manfaat. Akan tetapi mereka tidak diberikan ruang untuk mengekspresikan kemampuannya oleh yang lebih sempurna darinya.

Dikisahkan dalam buku ini bahwa pada masa nabi Muhammad Saw. ada seseorang yang diangkat menjadi muadzin oleh baginda Nabi, yaitu Ibnu Ummi Maktum, seorang tunanetra yang memiliki semangat hidup membara. Sebagai manusia yang lebih memilih kemaslahatan daripada kerusakan baginda Nabi suatu ketika menunjuk Ibnu Ummi Maktum yang merupakan golongan kaum difabel menjadi imam solat ketika baginda Nabi sedang ‘udzur. Dari sinilah baginda Nabi tidak melihat penampilan fisik seseorang, akan tetapi kualitas dari orang itu yang menjadi pertimbangan meski dia itu kaum difabel yang tidak sesempurna manusia yang lainnya (Hal. 17-19).

Terkadang kita sebagai manusia yang dianggap sempurna melupakan kelebihan dan kualitas yang dimiliki oleh orang lain yang kita anggap tidak sempurna dalam hal pencipataannya. Padahal itu merupakan kesalahan besar yang tidak kita sadari. Dari saking angkuhnya manusia yang sempurna dalam ciptaan fisiknya sehingga tidak memandang kualitas dirinya dan orang lain. Yang ada hanya kesombongan tanpa peduli pada yang lainnya.

Maka dari itu, betapa pentingnya kita sebagai manusia yang dianggap sempurna dari segi fisik untuk terus berpikir lebih kritis yang memberikan manfaat bagi orang lain. Lebih spesifik lagi, kita harus mampu memberikan ruang bagi mereka yang difabel agar kemampuan dan kualitasnya dapat dimanfaatkan dengan baik.

Kedudukan orang difabel memiliki hak yang sama dengan manusia lainnya. Jika manusia yang memiliki kesempurnaan fisik harus dilindungi, kaum difabel juga harus dilindungi. Terkadang karena mereka tidak memiliki indra yang sempurna, kita dengan senang hati mempermainkannya. Padahal kita yang sempurna dan mereka yang difabel tidak ada perbedaan, sama-sama memiliki perasaan dan kelebihan masing-masing.

Jika seorang pria tidak boleh melihat kaum wanita ketika telanjang, kaum wanita juga tidak boleh melihat kaum pria ketika telanjang. Jika kaum difabel tidak bisa melihat orang yang keadaan telanjang bulat, maka lawan jenisnya pun juga tidak boleh melihat kaum difabel ketika telanjang. Karena derajat kita sama dan kita wajib memperlakukan setara dengan yang lain (Hal. 20-22).

Kita sebagai manusia yang sering dikuasai oleh nafsu, ingin selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan maupun kesempatan dalam kesempatan yang direncanakan. Lebih-lebih kepada kaum difabel. Kita lihat saja di berbagai kota banyak pengemis dari golongan difabel. Mereka ada yang meminta-minta di jalan-jalan dan di tempat-tempat umum dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Kesempatan ini sering dijadikan kesempatan oleh lintah darat untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan memperkerjakan mereka dan hanya mengambil hasil dari susah payahnya.

Selain itu pula, kaum difabel bukan bahan tontonan yang perlu kita lihat, olok-olok, dan menertawakannya di kala dirinya tidak merasa bahwa ada yang tampak dari aibnya. Perlakuan terhadap kaum difabel tidak ada perbedaan dengan mereka yang sempurna fisiknya. Jika kaum tunanetra tidak boleh melihat lawan jenisnya ketika tanpa pakaian, begitu pula dengan mereka yang sempurna juga tidak boleh melihat lawan jenisnya yang tunanetra dan kaum difabel lainnya ketika tanpa sehelai penutup badan. Kita jangan mengambil kesempatan ketika orang lain berada dalam kesempitan.

Secara garis besar, Alaik dalam buku ini mengulas tentang kaum difabel pada masa Rasullah Saw. Namun, meski kisah yang dipaparkan dalam alur buku ini hanya berkisar pada sahabat Nabi harus tetap pula menjadi tauladan bagi kita semua untuk memberikan ruang untuk mengekspresikan kemampuan para kaum difabel pada masa sekarang. Karena kita sadari, jika kita melihat ada orang yang cacat, kita kasihan, namun kita tidak mau untuk saling berbagi dan mengayomi dengan penuh ketulusan hati. Kita malah menelantarkan. Dari buku ini kita diharapkan mampu untuk memberikan ruang bagi kaum difabel sehingga kita bisa menggali skill yang dimilikinya serta mereka tidak merasa terisolasi dari kehidupan.

* Peresensi adalah Penikmat Buku di IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Advertisements

2 Responses to Merekonstruksi Semangat para Kaum Difabel

  1. Hamim Huda says:

    assalamualaikum wa rohmatullohi wa barokaatuh.
    Kami dari yayasan al-qudwah indonesia yang mempunyai konsen pada pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus/ difabel ingin membuat perpustakaan gratis bagi abk dan umum, mungkin buku yang anda resensi bisa kami akses di mana?

    Like

    • junaidikhab says:

      Wa’alaikum salam…
      Dengan hormat…
      Jika masih tersedia, di TOGA MAS juga ada. Tapi jika menghubungi pihak penerbit (LKiS) insyaAllah dapat bantuan dengan mengajukan proposal. Semoga bisa membantu. Amin.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: