Madura dalam Pandangan Huub De Jonge

KORAN MADURA: JUMAT 7 JUNI 2013 NO. 0133 | TAHUN II

Cover Garam Kekerasan dan Aduan Sapi Esai-Esai tentang Orang Madura dan Kebudayaan Madura (Junaidi Khab)

Cover Garam Kekerasan dan Aduan Sapi Esai-Esai tentang Orang Madura dan Kebudayaan Madura (Junaidi Khab)

Judul               : Garam Kekerasan dan Aduan Sapi Esai-Esai tentang Orang Madura dan Kebudayaan Madura

Penulis             : Huub De Jonge

Penerbit           : LKiS

Cetakan           : I, 2012

Tebal               : xvi + 314 halaman; 14,5 x 21 cm

ISBN               : 979-25-5343-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Buku ini adalah kumpulan tulisan hasil penelitian tentang orang Madura dan kebudayaannya. Huub De Jonge, penulis buku ini, telah dikenal sebagai antropolog yang sangat konsen terhadap Madura dan kebudayaannya. Huub De Jonge hadir dengan penelitian-penelitiannya yang kuat dan berkualitas. Secara spesifik Huub menyoroti masalah stereotipe, karakteristik, dan kepentingan ekonomi serta sosial orang-orang Madura, baik orang Madura yang tinggal dan menetap di pulau Madura maupun orang Madura yang merantau dan bertempat tinggal di luar Madura. Masalah besar yang ingin dikedepankan oleh Huub adalah pada perubahan-perubahan identitas orang Madura, lapangan kerja, penghasilan, gaya hidup, dan orientasinya pasca pengoperasian jembatan Suramadu (Hal. v).

Madura bagi sosok Huub merupakan hal unik yang perlu dikaji secara mendalam melalui pandangan stereotipe sebagai pulau yang penuh kekerasan. Sebenarnya bukan hanya Huub saja yang menganggap Madura sebagai pulau kekerasan, namun pakar peneliti selainnya juga tertarik untuk menelaah melalui penelitiannya tentang orang Madura. Misalkan A Dardiri Zubairi dari sisi positif memandang orang Madura dengan kearifan lokal yang dimilikinya melalui bukunya yang berjudul “Rahasia Perempuan Madura” (2013).

Tidak banyak kelompok etnis di kepulauan Indonesia yang menyandang stereotipe negatif dan samar-samar sebanyak yang melekat pada orang Madura. Sedikit sekali sifat positif yang terdengar tentang mereka. Seandainya orang mempercayai berbagai stereotipe itu – sikap yang tentunya tidak boleh dilakukan terhadap stereotipe – kelompok etnis terbesar ketiga di Indonesia ini memiliki ciri negatif cukup berlimpah. Lagi pula, sungguh menakjubkan, citra suku Madura di Indonesia hari ini hampir tidak berbeda citranya pada zaman kolonial. Dulu maupun sekarang, orang-orang sebagai kata ganti yang paling lazim jika menyangkut stereotipe – menemukan dan masih saja menemukan segala macam kekurangan pada lelaki dan perempuan Madura serta putra-putrinya (Hal. 59-60).

Meskipun sama-sama mendapat pandangan stereotipe beberapa daerah dan pulau yang ada di Indonesia, namun tak kalah banyaknya pandangan stereotipe negatif terhadap orang-orang Madura. Eksistensinya, pandangan negatif itulah yang mengubah orang-orang Madura berperilaku seperti apa yang dipersepsikan oleh kebanyakan orang (lih. Dardiri, Stereotipe itu…). Padahal tidak semuanya orang madura itu keras dan kejam yang identik dengan budaya carok dalam menghadapai berbagai persoalan kehidupannya.

Satu pandangan stereotipe dari ungkapan yaitu sejauh dimungkinkan untuk berbicara tentang sifat umum, dapat dikatakan bahwa orang Madura kurang resmi, lebih bersemangat dan lebih mandiri daripada orang Jawa. Namun kemandiriannya tak jarang terlampiaskan sebagai sejenis kekerasan dan ketidaksopanan, yang bisa terasa tidak menyenangkan, khususnya ketika baru kenal, bagi seseorang yang terbiasa bergaul dengan orang Jawa yang santun, meski lebih menghamba. Bahkan dalam bercakap-cakap dengan para petinggi pun, nada suaranya berani dan tidak sungkan-sungkan, seringkali mendekati kurang ajar (Hal. 124).

Melalui buku Garam Kekerasan dan Aduan Sapi ini, Huub De Jonge mencoba untuk melihat orang-orang Madura serta kebudayaannya yang berkembang di sana. Kajiannya memberikan pandangan cukup luas tentang stereotipe negatif dari publik terhadap orang Madura yang identik dengan pulau kekerasan dan budaya carok. Selain itu pula, lebih jauh ulasan dalam buku ini mengarah pada pasca-Suramadu terbangun di antara Surabaya dan Bangkalan. Yang tentunya juga memberikan pengaruh tersendiri bagi orang-orang madura serta kebudayaannya. Istilahnya menurut D. Zawawi Imron bagi masyarakat Madura tidak akan ada lagi ungkapan naik dan turun atau alajer (berlayar) ke Jawa.

* Peresensi adalah Mahasantri Pondok Pesantren Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Madura.

Hp                               : 087866119361       

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Untuk men-download file koran PDF aslinya silakan klik KORAN MADURA, 07-06-2013 Madura dalam Pandangan Huub De Jonge . Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

2 Responses to Madura dalam Pandangan Huub De Jonge

  1. dee says:

    makasih atas bantuannya.. dan sepertinya saya pernah melihat anda… de javu mungkin ya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: