Menelaah Keruntuhan Visi dan Misi Pendidikan

JATENG POS: Minggu, 2 Juni 2013

Cover Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel Visi Pendidikan Tantangan Literasi Pendidikan Lingkungan (Junaidi Khab)

Cover Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel Visi Pendidikan Tantangan Literasi Pendidikan Lingkungan (Junaidi Khab)

Judul               : Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel Visi Pendidikan Tantangan Literasi Pendidikan Lingkungan

Penulis             : M. Mushthafa

Penerbit           : LKiS

Cetakan           : I, 2013

Tebal               : xxvi + 126 halaman; 12 x 18 cm

ISBN               : 979-16776-8-9

Peresensi         : Junaidi Khab*

Sekolah sebagai sarana penunjang memajukan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan bukan malah memberikan keberhasilan dan apa yang diinginkan oleh masyarakat. Banyak siswa yang belajar dengan mengikuti bimbingan belajar (Bimbel) dan bahkan ada yang belajar melalui google di luar sekolah. Dengan adanya pemanfaatan Bimbel dan google oleh siswa dan siswi, ini mengindikasikan bahwa sekolah benar-benar masih jauh dari visi dan misi pendidikan yang diharapkan oleh masyarakat. Jika sekolah sudah menjalankan peran dan fungsinya dalam melayani kebutuhan masyarakat, tentu mereka tidak akan mengikuti Bimbel dan google sebagai sarana belajar, meski hal itu menjadi pembelajaran tambahan.

Persoalan tersebut sebagaimana ditulis dalam buku ini yang ditengarai oleh sebuah kesalahan besar pemerintah Orde Baru dalam hal pengembangan pendidikan yaitu terlalu kuat kehendak intervensi politis dalam soal pendidikan, sehingga dunia pendidikan tergantung oleh interest politik kelompok penguasa. Pendidikan Pancasila yang melibatkan seluruh lapisan kaum pelajar misalnya tidak menjadi wahana diskusi ilmiah bagi pengembangan ideologi bangsa menghadapi tantangan kehidupan bangsa yang kian kompleks, melainkan lebih dijadikan sebagai alat penguasa untuk menundukkan lawan-lawan politiknya. Pancasila kemudian direduksi semata-mata menjadi alat hegemoni (Hal. 6).

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa jika lingkungan pendidikan sekolah sudah diatur oleh pemerintah tanpa melihat kepada kebutuhan masyarakat, maka tujuan pendidikan untuk mensejahterakan masyarakat dan kaum pelajar akan hilang tanpa dirasa. Secara tidak langsung, jika sudah pemerintah yang mengatur persoalan dan urusan dunia pendidikan – termasuk sekolah – maka pemanfaatan sekolah sebagai wadah penyampaian ilmu pengetahuan dan pendidikan akan menjadi skandal perpolitikan yang hanya berkedok pada kepentingan pemerintah. Hal demikian yang disayangkan, peran pemerintah telah mengubah visi dan misi pendidikan peraturan yang diberlakukan.

Padahal jika pemerintah memang benar-benar memposisikan pendidikan sebagai strategi pembangunan peradaban bangsa berarti bahwa proses ini harus melibatkan seluruh elemen masyarakat. Pendidikan bukan hanya sekedar urusan yang berkaitan dengan ‘sekolah’, tetapi juga urusan keluarga (dalam tanda kutip), organisasi atau perkumpulan sosial, dan masyarakat. Pandangan konvensional yang melihat sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan harus diruntuhkan. Namun demikian, harus diakui bahwa sekolah memang merupakan elemen pendidikan yang penting. Cuma saja, persepsi yang selama ini berkembang tentang sekolah masih berada dalam kerangka berpikir yang lama, yang memperlihatkan keberhasilan konspirasi kekuasaan-kapitalisme-pendidikan (Hal. 10-11).

Sangkalan yang semacam ini mungkin menjadi sebuah tamparan bagi pemerintah dalam persoalan pendidikan di negeri ini. Campur tangan pemerintah dalam dunia pendidikan di sekolah mengindikasikan kegagalan pendidikan sebagai pembangunan peradaban bangsa ini. Intervensi pemerintah dalam dunia pendidikan bukan berarti mengubah visi dan misi pendidikan, namun setidaknya pemerintah memahami apa yang diinginkan oleh masyarakat, bukan malah memanfaatkan pendidikan sebagai dunia perpolitikan. Karena jika sudah masuk pada ranah politik, maka secara otomatis pendidikan kehilangan visi dan misinya untuk membangun peradaban tersebut. Namun akan lebih pada kepentingan sepihak saja.

Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (3) menyebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Pasal ini dapat dilihat sebagai landasan normatif yang mewajibkan negara untuk memenuhi hak setiap warga negara agar bisa mendapatkan pendidikan (Hal. 36).

Dari perspektif ini, sebenarnya undang-undang 1945 sudah dengan jelas menegaskan perihal pendidikan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Toto Suharto (2012) mengatakan bahwa ketika pemerintah melalui UU Sisdiknas 2003 mengungkapkan konsepsinya mengenai pendidikan berbasis masyarakat, sebenarnya pemerintah bersikeras mengutamakan kepentingan politiknya untuk mempertahankan kekuasaannya melalui kontrol pendidikan, bukan untuk kepentingan masyarakat. Itu kiranya sekolah kehilangan peran dan fungsinya sehingga kaum pelajar lebih berminat pada bimbingan belajar dan google yang dibahas dalam buku ini.

Persoalan dalam buku ini tidak langsung merujuk pada persoalan Bimbel dan google. Namun secara garis besar, ada tiga tema utama yang dibahas dalam buku ini. Bagian pertama mendiskusikan visi dan hal-hal mendasar dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Bagian kedua mengulas literasi dan tantangan era informasi. Bagian ketiga mengupas pendidikan lingkungan sebagai salah satu pintu masuk bagi pendidikan yang lebih kontekstual yang sebenarnya merujuk pada ranah perbincangan google dan Bimbel sebagaimana tertera dalam cover buku ini.

* Peresensi adalah Director of Writing University IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361       

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: