Seni Penelitian Hadis Kontemporer

Radar Seni: Published On Saturday, May 18, 2013 By admin. Under: Buku Baru.

Cover Model-Model Penelitian Hadis Kontemporer (Junaidi Khab)

Cover Model-Model Penelitian Hadis Kontemporer (Junaidi Khab)

Judul               : Model-Model Penelitian Hadis Kontemporer

Penulis             : Saifuddin Zuhri Qudsy, S.Thi., M.A. dan Ali Imron, S.Th.I., S.I.

Penerbit           : Pustaka Pelajar

Cetakan           : I, 2013

Tebal               : 178 halaman

ISBN               : 978-602-229-086-5

Peresensi         : Junaidi Khab*

Meneliti sebuah hadis merupakan hal urgen yang sangat diperlukan guna memelihara otentisitas hadis yang benar-benar berasal dari nabi Muhammad Saw. Karena dengan mudah orang-orang yang memiliki kepentingan individu dan politik akan mengubah bentuk hadis atau mengada-ada keberadaan sebuah hadis. Selain hadis merupakan sabda nabi Muhammad Saw., itu juga merupakan tonggak hukum umat Islam dan secara umum umat manusia di dunia. Sehingga setelah ada penelitian hadis bermunculan macam-macam hadis. Seperti hadis shohih, dlo’if, maudlu’, marfu’, hasan, dan lain sebagainya.

Sehingga sebuah penelitian hadis dalam hal ini menjadi keharusan bagi kita bersama sebagai umat Islam. Namun dalam penelitian ini bukan hanya asal-asalan. Tetapi ada beberapa pola untuk meneliti sebuah hadis. Seni-seni model itulah yang juga akan memberikan pandangan secara cermat dan mudah untuk meneliti hadis. Misalkan dalam buku ini ditawarkan untuk menggunakan seni model biografi. Yang mana, dalam penelitian kali ini kita dituntut untuk menelusuri lebih lanjut tentang asal-usul perawi sebuah hadis. Karena tidak semua perawi itu bisa dipercaya dalam periwayatan hadis (Hal. 42).

Menjadi seorang perawi hadis bukan hal yang mudah. Di balik itu semua memerlukan suatu keseriusan dan penuh tanggung jawab agar hadis yang diriwayatkan bisa diterima dan tidak menjadi pertentangan lagi dalam kehidupan umat Islam. Sehingga para ulama sepakat dalam melihat tentang perawi hadis harus memenuhi beberapa syarat yang sudah menjadi tolok ukur kebenaran hadis yang akan disampaikan. Salah satunya tidak suka berbohong, bisa dipercaya dalam pergaulan sehari-hari, dan bahkan harus menutupi kepala dengan kain. Syarat-syarat lainnya bisa kita temukan dalam berbagai buku dan literatur tentang pra-syarat menjadi perawi.

Menurut Daud Rasyid dalam buku ini menjelaskan bahwa jika hadis terbukti keshohihannya, namun masih terasa ada pertentangan, maka peneliti harus merujuk pada komentar ahli ushul fiqh. Sebab dalam dua ilmu itu telah ada metodologi memahami secara tepat teks-teks yang tampaknya berbeda. Ini bisa disebut al-jam’u (kompromi). Nash itu ada yang bersifat umum dan ada yang khusus. Nash khusus adalah pengecualian atas yang umum. Bidang ini dikenal dengan “Ilmu Mukhtalaf al-Hadits” (Ilmu yang membincangkan hadis-hadis yang sepintas saling bertentangan”. Apabila kompromi tidak bisa dilakukan, maka metode berikutnya adalah tarjih, yaitu menentukan mana yang lebih kuat (Hal. 53-54).

Dari sini sudah jelas bahwa seorang peneliti hadis tidak serta merta melakukan penelitian dan justifikasi sendiri dalam menentukan keshohihan atau kedloifan hadis. Dalam hal ini disarankan bagi para peneliti hadis untuk melakukan rujukan dengan meminta pendapat ahli ushul fiqh. Melalui kombinasi dari ahli ushul fiqh ini akan ditemukan berbagai bentuk hadis yang disampaikan oleh sang perawi. Baik dari sisi bentuk keumuman atau kekhususan teks sebuah hadis akan mudah diketahui.

Selain itu pula, ada beberapa seni dan model sekaligus metodologi penelitian hadis yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman yang diulas dalam buku ini. Yang mana dalam hal ini terdapat tiga metodologi yang disajikan dalam bentuk umum. Di antaranya tiga model sekaligus metodologi penelitian hadis kontemporer yaitu, teori double movemnet, dari hadis ke sunnah, dan metode historis (Hal. 82-89).

Dari tiga metode mungkin sangat tepat jika digunakan oleh para peneliti hadis sebagai acuan dalam bidangnya. Karena sebagaimana kita saksikan bersama, perkembangan kehidupan keagamaan saat ini sudah berjalan sangat dinamis. Pada satu sisi kita dihadapkan pada fenomena menguatnya puritanisme agama seperti yang ditunjukkan oleh kaum salafi dengan simbol celana cingkrang dan jenggot panjangnya. Sedangkan pada sisi yang lain kita disuguhi fenomena liberalisme agama seperti yang ditunjukkan oleh Yusman Roi dengan shalat dwibahasanya. Padahal nabi Muhammad Saw. dengan jelas sudah menyatakan bahwa kalau kita bersolat harus seperti apa yang dilakukan oleh beliau.

Sajian dalam buku ini memberikan telaah lebih jelas tentang seni dan model-model penelitian hadis kontemporer. Model yang disajikan dalam buku ini yaitu; pertama, penelitian hadis model di media massa. Kedua, penelitian hadis model biografi intelektual. Ketiga, penelitian hadis mode studi wilayah kesejarahan. Keempat, penelitian hadis model sosio-antropologi. Sayangnya, dari beberapa model penelitian tersebut hanya dipaparkan secara umum dan gamblang tanpa penjelasan khusus mengenai perinciannya. Namun walau demikian, penjelasan dalam buku ini akan menjadi sebuah perwakilan dan panduan umum dalam melakukan penelitian hadis kontemporer pada masa sekarang yang objeknya lebih pada teks hadis dan pembacanya.

* Peresensi adalah Mahasantri Pondok Pesantren Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Medura.

Hp                               : 087866119361       

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: