Hakikat Sastra dalam Perspektif para Sastrawan

Bali Pos Minggu Pon, 19 Mei 2013

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Istilah sastra dari masa ke masa, dari zaman ke zaman yang berbeda tidak pernah hilang terbengkalai oleh perubahan waktu. Sastra terus melekat pada torehan-torehan zaman yang terus menjadi latar belakang munculnya berbagai inovasi sastra dari yang klasik hingga yang kontemporer. Dalam dunia akademisi sastra juga dikenalkan. Namun sayang, pengertian sastra terjadi perbedaan pendapat. Akan tetapi hal tersebut bukan persoalan yang perlu diperdebatkan. Hal sangat penting yaitu mengembangkan sastra sesuai dengan perubahan zaman dan peradaban umat manusia.

Sastra menurut Sumarno dan Saini adalah ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan, semangat, kayakinan dalam suatu bentuk gambaran kongkrit yang membangkitkan pesona dengan alat-alat bahasa. Sedangkan menuru Semi, sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni  kreatif yang objeknya manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya.

Sehingga dari dua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa sastra merupakan ungkapan dari hasil kreasi manusia yang bisa melahirkan hal-hal yang lebih menarik dan indah baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Secara tidak langsung pengertian itu mengarah pada kreativitas manusia dalam bidang seni untuk menghasilkan karya yang begitu mengesankan. Namun perlu kita tekankan, bahwa dalam memahami dari sastra itu jangan hanya berupa pemahaman parsial saja. Karena pemahaman secara parsial akan tereliminasi sendiri dan mendapat pemojokan dari pihak tertentu. Meskipun itu merupakan hak pribadi yang tidak bisa diotak-atik lagi.

Parsial-Minoritas

Pengertian parsial-minoritas yang lemah harus dihindari terhadap sastra. Karena jika hal demikian terjadi, maka hal tersebut juga akan merusak reputasi sastra itu sendiri. Sehingga keindahan sastra bagi diri sendiri dan orang lain sirna. Setelah beberapa tahun diamati terkait laju perkembangan sastra itu sendiri, ditemukan beberapa pengertian yang mengganjal. Salah satunya merujuk pada pengertian sastra yang hanya parsial-minoritas.

Dalam pandangan ini, sastra diartikan hanya menurut kehendak pribadi seseorang tanpa memperhatikan orang lain yang ada di lingkungannya. Hal-hal yang kumal dan tidak rapi ia anggap sastra. Kemungkinan besar orang yang semacam ini hanya ingin mencari sensasi saja dalam hidupnya. Kenyataannya bahwa setiap orang tidak menyukai hal-hal yang kumal, tidak rapi, dan compang camping. Atau kemungkinan besar orang yang dirinya mengaku sastrawan dengan pakaian yang tidak seperti biasanya ini termasuk orang yang malas untuk mau rapi dan bersih di sekujur tubuhnya. Hal ini dapat menimbulkan rasa sinis dan benci oleh orang yang berada di lingkungannya sendiri. Indah menurut dirinya sendiri dan belum tentu indah menurut orang lain.

Misalkan pengertian parsial-minoritas ini. Sebagian sastrawan ada yang memakai pakaian compang camping dalam kehidupan sehari-harinya. Ketidakrapian atau kecompang-campingan pakaiannya ia anggap hal-hal indah oleh dirinya sendiri. Karena ia bisa membaca puisi atau menghasilkan banyak karya puisi atau sering menulis, sehingga ia sok jadi sastrawan. Apakah seperti itu yang disebut sastrawan? Hanya memperhatikan keindahan menurut dirinya sendiri dan untuk orang lain tak mau tahu? Tentu tidak, sastrawan merupakan orang yang bisa menghasilkan seni kreatif dan indah untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Padahal, apa yang dianggapnya indah dengan pakaian yang compang camping dan kumuh memberikan rasa muak pada orang lain. Orang di sekitarnya bertanya-tanya tentang dirinya. Apa ini yang disebut sastrawan? Kumal, kumuh, tidak rapi, dan serba berantakan cara pakaian? Tentu mereka tidak dianggap etis dan tidak memberikan nuansa indah oleh lingkungannya.

Universal-Mayoritas

Maka dari itulah interpretasi istilah sastra harus merujuk pada pengertian yang universal-mayoritas. Tanpa pemaknaan terhadap sastra secara universal, maka hasil kreasi yang kita peroleh hanya akan indah dalam diri kita sendiri dan tidak indah menurut orang lain. Karena kita sudah tentu paham, bahwa hal-hal yang menurut kita indah belum tentu indah menurut orang lain. Mengenai keindahan dalam berbagai kreasi sebenarnya itu sangat relatif. Namun, jika kreasi yang kita hasilkan benar-benar indah tentu orang lain akan mengakuinya dan akan indah menurut pandangan orang lain.

Sastra dalam pengertian universal-mayoritas lebih mengedepankan pada pengertian indah menurut diri sendiri dan indah pula menurut orang lain. Kiranya begitulah istilah sastra yang bisa saya paparkan dalam tulisan ini. Pernah juga saya menemukan kejanggalan ketika belum menggeluti dunia tulis-menulis bahwa ada teman saya yang kata orang-orang ia adalah sastrawan. Pakaian serba nyleneh dari yang lain. Dan aksesoris pada pakaiannya pun begitu menjadi perbincangan banyak orang yang merasa jengkel dengan kelakuan yang katanya itu sastra. Namun dalam benak saya orang yang semacam ini hanya mencari sensasi dan tidak mengartikan sastra dalam lingkup pengertian universal-mayoritas.

Ketika saya melihat perilaku demikian yang katanya sastrawan. Saya kemudian mengaca pada sastrawan-sastrawan terkenal dengan berbagai karya sastranya baik dalam bidang puisi, cerpen, drama, dan naskah-naskah serta karya kreatif lainnya. Ternyata yang saya lihat berbeda dengan yang katanya teman saya itu sastrawan. Sastrawan yang memiliki karya sastra begitu fenomenal orangnya begitu indah, wibawa, rapi, disenangi, dan tidak mendapat perlakuan sinis dari masyarakat secara luas. Begitu pula dengan karyanya sangat nyata dan jelas bisa dinikmati oleh publik.

Sangat disesalkan sekali mereka yang menganggap dirinya sebagai sosok sastrawan yang hanya melihat hal indah dari cara pandangannya sendiri tanpa peduli pada orang lain. Dari cara pandang terhadap dunia sastra ini dalam memaknainya diharapkan agar selalu memperhatikan nilai putik oleh dirinya sendiri dan menurut orang lain. Dari cara pandang ini pemaknaan terhadap sastra yang universal-mayoritas akan bisa dirasakan bersama, baik oleh sastrawan itu sendiri dan orang lain.

* Penulis Bergiat di Pondok Budaya Ikon Surabaya.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: