Menyangkal Pesantren Sebagai Lembaga Konservatif

KORAN MADURA: JUMAT 17 MEI 2013 NO.0119 | TAHUN II

Cover Modernisasi Pesantren Studi Transformasi Kepemimpinan Kiai dan Sistem Pendidikan Pesantren (Junaidi Khab)

Cover Modernisasi Pesantren Studi Transformasi Kepemimpinan Kiai dan Sistem Pendidikan Pesantren (Junaidi Khab)

Judul               : Modernisasi Pesantren Studi Transformasi Kepemimpinan Kiai dan Sistem Pendidikan Pesantren

Penulis             : Prof. Dr. Abd. Halim Soebahar, MA.

Penerbit           : LKiS

Cetakan           : I, 2013

Tebal               : xiv + 230 halaman; 14,5 x 21 cm

ISBN               : 978-602-17575-2-9

Peresensi         : Junaidi Khab*

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang ada di Indonesia sejak sebelum masa penjajahan hingga saat ini. Namun lembaga ini mendapat pandangan dan stigma konservatif dari berbagai pihak. Tak ayal, karena apa yang dipelajari hanya berupa kitab kunig (klasik) saja dan tidak mau mengikuti perkembangan dunia di luarnya.

Melalui penelitian Abd. Halim Soebahar ini, stigma konservatif terhadap pesantren akan dicoba untuk disangkal. Karena tidak serta merta pesantren sebagai lembaga pendidikan satu-satunya yang kolot. Objek penelitian dalam buku ini terfokus pada lima pesantren yang ada di empat kabupaten di Madura. Di antaranya, Pondok Pesantren al-Amin Sumenep, Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep, Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan, Pondok Pesantren al-Taroqqi Sampang, dan Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan (16-17).

Objek sampel dalam penelitian ini mengenai tuduhan pesantren sebagai satu-satunya lembaga konservatif akan ditolak dengan melakukan wawancara secara lansung, pengumpulan data, dan obsevasi partisipan. Melalui analisis yang digunakan ini tentu akan mendukung terhadap objek yang menjadi target bahwa pesantren merupakan lembaga yang melaju untuk hal yang lebih baru.

Menurut Dhofir, setiap pesantren berkembang melalui cara-cara yang bervariasi. Pesantren sendiri itu terbagi menjadi dua kategori, yaitu salafi dan khalafi. Namun menurut Abdullah Syukri Zarkasyi mengklasifikasikannya ke dalam tiga kategori, yaitu pesantren tradisional, pesantren modern, dan pesantren perpaduan antara pesantren tradisional dan modern. Berdasarkan survey Departemen Agama, jumlah pesantren di Indonesia mencapai 14.656 unit (Hal. 48).

Dari sekian jumlah yang ada, jumlah pesantren tradisional 9.105 unit, pesantren modern 1.172 unit, dan pesantren terpadu 4.370 unit. Kemudian pada halaman 50-51 disebutkan bahwa jika proses transformasi yang berlangsung berpengaruh terhadap munculnya “temuan baru” (inovasi), maka dapat dikatakan bahwa pesantren telah melakukan tiga pola inovasi dalam sistem pendidikannya, yaitu; pola inovasi yang diprakarsai oleh pemerintah, pola inovasi yang diprakarsai oleh LP3ES dan P3M, dan pola inovasi sporadis yang dilakukan oleh beberapa pesantren secara sendiri-sendiri, yakni menampik kemungkinan adanya keseragaman tema yang mengikatnya dan dilaksanakan menurut persepsinya masing-masing.

Dari pola inovasi ini akan ditemui pola dan sistem rotasi pesantren pada saat ini. Sebenanya pesantren memang berada dalam ranah konservatif. Namun dengan lambat laun pesantren berjalan mengikuti arus perkembangan zaman saat ini. Terbukti dari lima pesantren yang menjadi objek penelitian dalam buku ini banyak mengalami pola dan sistem pembelajaran dan proses kepemimpinan saat ini. Karena tidak mungkin manusia yang hidup dalam lingkungan pesantren terus mengikuti pola kuno. Selain itu pula orang yang berada di pesantren dengan caranya sendiri sebagai manusia tentu memiliki pikiran dinamis.

Garis besar utama buku ini merupakan bentuk sanggahan terhadap pandangan bahwa pesantren tak lain merupakan lembaga konservatif. Dari pandangan tersebut digali beberapa sumber bahwa pesantren berada dalam ranah modernisasi. Dengan jelas dan tegas buku ini tidak setuju jika pesantren disebut sebagai lembaga yang kolot. Maka dari itu buku ini mencoba meluruskan melalui kajian kepemimpinan kiai dalam pesantren yang ada di Madura dan beberapa sistem pembelajarannya serta inovasi-inovasi yang mulai dilakukan dalam lingkungan pesantren itu sendiri.

* Peresensi adalah Mahasantri Pondok Pesantren Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Madura.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Silakan klik KORAN MADURA Menyangkal Pesantren Sebagai Lembaga Konservatif untuk men-download file PDF aslinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: