Tanjung Papuma Jember Jawa Timur

Pantai Papuma dari bagian barat

Pantai Papuma dari bagian barat

Pantai Papuma di Jember memiliki keindahan yang cukup luar biasa dan menarik perhatian. Pantainya hampir sama dengan pantai-pantai di daerah lain. Di tengah-tengah terdapat onggokan batu besar. Seakan membentuk pulau baru. Yang menarik bagi saya pribadi dari keindahan pantai tersebut yaitu ombaknya yang begitu memukau. Berkejar-kejaran dan tinggi. Gulungannya tinggi dan putih. Dari pintu masuk ke Pantai tersebut jika tidak ikut ojek atau naik kendaraan akan terasa melelahkan, satu (1) km perjalanan yang harus ditempuh. Sebenarnya juga asyik berjalan kaki ke pusat pantai Papuma di sana. Di tengah perjalanan kita bisa melihat monyet-monyet yang bergelantungan di dahan- dan ranting-ranting pohon. Di area pantai disediakan tempat sembahyang bagi umat yang beragama (lupa alias tidak tahu nama tempatnya, apa itu untuk agama Hindu, Buddha, atau yang lainnya, tapi bukan masjid). Setelah baru sampai di sana aku ingin rasanya menaklukkan keindahan pantainya dengan gelombang laut yang memukau. Namun, aku teringat suatu pesan hati “jangan pernah melawan arus air, tapi ikutilah gelombangnya agar selamat sampai tujuan”. Aku teringat itu, sedikit aku berteori terhadap keinginanku yang ingin menerjang gelombang laut yang sangat memukau itu.

Aku pun berganti baju khusus renang yang memang sengaja kubawa dari Surabaya. Kaos singlet khusus olahraga, bukan khusus renang, tapi kupakai untuk berenang di bawah gelombang ombak yang tinggi dan memukau itu. Teman-temanku ada yang berfoto dan berpose sekehendak hatinya. Aku langsung terjun menikamti ayunan ombak-ombak itu. Agak ke tengah di atas gelombang yang sangat tinggi, benar-benar terasa sekali ketinggian gelombang itu. Aku melihat teman-temanku berada di bawah sana, di pasir putih.

Berselang beberapa lama setelah aku bermain dengan ombak. Aku mendapati rasa takut dan cemas. Ketika aku turun dari ketinggian ombak dan ombak sudah kembali ke tengah aku pun diam, lalu setelah menoleh ombak besar datang lagi. Aku digulung. Hidung dan mulutku dimasuki air laut yang asin. Sejenak aku melihat temanku (Ahmad Maskur) memperhatikan diriku yang digulung ombak. Seakan ia tak ikutan dalam perasaanku di bawah gulungan ombak itu. Aku pun pura-pura biasa. Padahal sebenarnya sangat perih. Matku keluar air. Hidungku pun juga keluar air. Perih banget. Aku pun naik lagi ke tinggian ombak menenangkan diri di atas sana. Di saat aku merasakan perih dalam kepala dan hidung aku meludah. Ternyata aku lebih kaget. Aku teringat di film-film perang yang dipukul lawannya lalu mulutnya muntah darah. Aku pun begitu. Mulutku keluar darah. Beberapa kali aku meludahkan darah yang cukup banyak. Namun aku tidak bilang apa-apa pada mereka (teman-temanku) yang lain. Aku takut kalau bilang nanti tidak diperbolehkan lagi masuk pada ketinggian ombak itu.

Junaidi Khab Mandi Pasir seusai turun dari ketinggian ombak karena mulutnya berdarah

Junaidi Khab Mandi Pasir seusai turun dari ketinggian ombak karena mulutnya berdarah

Sejenak setelah darah mulai berkurang dari mulutku. Aku turun dari ketinggian ombak. Perlahan aku menutupi mataku yang masih terasa perih. Aku pergi ke tempat di mana aku menaruh tas. Aku mengambil satu gelas air minum mineral dalam tas yang memang sengaja aku bawa sebelumnya sebagai bekal nanti kalau butuh air. Aku pun meminum air gelas itu sambil berkumur menghilangkan rasa asin air laut yang bercampur bau amis darah dari mulutku. Aku duduk santai beristirahat menenangkan tubuh dulu. Dan bermain-main dengan Fawaid anak Giliyang dan juniorku yang lain (cewek Entin, entah lupa namanya). Lalu berfoto-foto. Kemudian aku bergabung lagi dengan teman-temanku yang lain yang sedang berada di dekat ombak itu.

Seusai mandi-mandi air laut. Aku pun mengajak teman-temanku mencari tempat pemandian air tawar di sana. Ya, aku mendapatkannya. Wah, ternyata ada yang kusesali, harga satu sachet shampo yang biasanya seharga Rp. 250-” di Surabaya tempatku, di sana dijual Rp. 1000-“. Terpaksa harus ambil satu untuk keramas. Selain itu pula, harga sabun di sana tak kalah mahalnya. Harga sabun yang biasanya di Surabaya tempatku seharga Rp. 1500-“, di sana dijual dengan harga Rp. 5000-“. Mandi, uang air besar atau buang ari kecil satu orang seharga Rp. 2000-“. Terpaksa aku membelinya. Sebenarnya ingin kembali ke Surabaya dan membawa sabun sendiri. Tapi apa daya, kalau aku kembali cuma mau ambil sabun dan shampo malah lebih rugi.

Setidaknya kalau mau ke Papumu dan mau main-main air pantai bawa sabun dan shampo sendiri agar tidak diperas oleh orang-orang yang berjualan di sana. Tapi sebenarnya bukan persoalan bagi diriku. Namun aku mengakui, aku merasa diperas dengan harga yang tak imbang itu. Seusai mandi aku berpose lagi, berfoto-foto dengan teman-temanku. Sayangnya, kacamata hitamku yang dipinjem Ahmad Maskur hilang entah ke mana. Miliknya juga hilang katanya. Mungkin untuk mengusap dan meredam rasa kesalku padany sehingga ia juga bilang kalau kacamtanya juga hilang. Aku pun hanya diam, responnya tidak begitu pada keluhanku. Padahal itu kacamata kesayanganku. Dan kenangan pada pertama kali aku pulang dari Surabaya menuju ke Sumenep Madura.

Kakiku terasa capek ketika akan kembali ke tempat bus rombongan markir di dapura Papuma. Satu orang harus bayar Rp. 5000-” untuk abang ojek itu. Aku ikut ojek bersama Ahmad Maskur dan teman-teman yang ada yang juga iktu ojek dan ada pula yang jalan kaki. Aku bingung saat akan membayar, karena uangku pada saat itu bukan uang kecil (lima puluhan). Jadi Ahmad Maskur yang membayarnya denga uang pas Rp. 10.000-“. Terimakasih.

Papuma, Watu Ulo, Jember, Jawa Timur, 12-05-2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: