To Be Single is Good (Sebuah Catatan English Debate di Dalam Kelas)

Junaidi Khab bersama kawan-kawan di dalam kelas

Junaidi Khab bersama kawan-kawan di dalam kelas

Wah, aku ingin rasanya berpacaran dan mempunyai pasangan hidup ketika mendengar alasan dari opisisi negatif di dalam kelas. Katanya punya pasangan (dalam hal ini pacaran) bisa membangun segalanya, termasuk motivasi dalam belajar. Selain itu pula, ada yang mengeluarkan dalil al-Qur’an bahwa manusia (segala mahluk) itu diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan berpasangan. Nah, oposisi negatif ini yang tidak setuju dengan hidup menyendiri (single) tanpa pasangan hidup.

Sejenak terbesit dalam pikiranku mengenai dalil yang dilontarkan oposisi lawanku. Aku kira itu jalan yang kurang benar. Maksud berpasangan dalam ayat itu (lupa ayat dan surat apa) yaitu setiap insan itu memiliki pasangan yang memang sudah ditentukan oleh Allah Swt., bukan harus berpasangan dalam versi debat saat itu. sebagaimana diilustrasikan oleh Hasti Edi Sudrajat bahwa single dalam hal ini yaitu tidak berpacaran. Tak lebih dari itu. Namun opiniku tersebut belum sempat kutumpahkan dalam debat tersebut. Maka dari itu aku mencoba menuliskannya dalam noktah ini.

Hasti Edi Sudrajat selaku pembicara utama dalam kubu positif pembela single (juga selaku kubu yang kubela) menyatakan bahwa single itu merupakan hubungan (pacaran) antara laki-laki dan perempuan sebelum menikah. Hal tersebut menurutnya tidak baik. Maka dari itu, single itu merupakan cara yang terbaik dilakukan oleh kalangan remaja sebelum menikah.

Namun dari opsisi positif menyebutkan bahwa menjadi single itu merupakan hal yang terbaik ketika berada di lingkungan pendidikan. Yang mana hal ini ketika berada dalam lignkungan perguruna tinggi atau sekolah. Karena menurut Dian Risti Ningrum selaku partisapan dan pendukung kubu positif menjadi single menyatakan bahwa single ketika berada dalam lingkungan perguruan tinggi itu akan lebih memfokuskan pikiran kita pada materi-materi pelajaran dan berbagai bidang tentang kelimuan yang lainnya. Dengan berpacaran kita akan sulit untuk berkonsentrasi karena di balik itu semua menyimpan banyak keindahan dan persoalan kehidupan yang memengaruhi kehidupan.

Kemudian Hani sarah yang selaku pembela kubu negatif menjadi single menyatakan kebalikan dari asumsi Dian Risti Ningrum. Ia menyebutkan dengan hidup tanpa single (berpacaran) akan mempermudah dalam menyelesaikan persoalan (termasuk tugas-tugas kuliah) bisa dibicarakan dengan sang kekasih (pacar). Dian Risti Ningrum sedikit mengernyitkan dahi dan menganggukkan kepala seolah pendapatnya lemah. Namun seakan ada gelora bantahan yang ingin ia sampaikan, karena bukan ia yang mengatur, maka ia hanya pasrah dan tetap dalam gagasannya yang tertimbun di kepalanya.

Wah, perdebatannya hingga nyasar ke arah ta’aruf dalam perspektif Islam. Namun, setelah lama dibantah, oposisi negatif membantah lagi bahwa single itu adalah hidup tanpa orang lain. Entah apa itu apa katanya. Pokoknya seru perdebatan di dalam kelas waktu itu. Aku sendiri berada oposisi yang mendukung oposisi positif.

Ternyata dalam perdebatan itu ada hal-hal yang lucu dan unik. Salah satu di antara keompokku sendiri (oposisi positif) mengatakan bahwa dirinya memilih kelompok yang salah. Semestinya ia menjadi bagian dari oposisi negatif. Tapi pokoknya ramai situasi kelas saat itu.

Dosen pemandu dalam perdebatan ini yaitu Fikri Yanda sekaligus menjadi moderatot dan penentu mereka yang berhak bersuara. Namun kadang beliau tidak digubris oleh kawan-kawanku karena ketidakpuasan dari opini mereka masing-masing yang terus mendapat sanggahan yang berbeda. Namun, meskipun demikian suasana kelas C Sastra Inggris fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya tetap kondusif dan berjalan lancar.

Oposisi positif diketuai oleh pembicara pertama yaitu Hasti Edi Sutrajat, pembicara kedua yaitu Mukhammad Zainuddin, pembicara ketiga yaitu Viki Mahmudiyah, dan lainnya sebagai pendukung, seperti; Fatimatus Sakdiyah, Mohammad Habibi, Wulan Saprilia, Aminatuz Zahroh, dan kawan-kawanku yang lain.

Oposisi negatif diketuai oleh pembicara pertama oleh Chairun Nisa’, pembeicara kedua yaitu Muhammad Cahyadi Permana, pembicara ketiga yaitu Rendi Sulistiyo, dan lainnya sebagai pendukung, seperti; Sunarto, Hani sarah, Khairunnisa’, Siti Zulaikhah, Faridatul Ma’chumah, dan kawan-kawanku yang lain.

Surabaya, 13-05-2013

One Response to To Be Single is Good (Sebuah Catatan English Debate di Dalam Kelas)

  1. hasti edi says:

    #SaveJomblo #DukungJunaidiJadiPresidenJomblo

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: