Koruptor Harus Mati, KPK Perlu Didukung dan Dinasehati

Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya dalam menghakimi dan menghukum para koruptor (Junaidi Khab)

Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya dalam menghakimi dan menghukum para koruptor (Junaidi Khab)

Ada hal yang mengganjal dalam pikiranku setelah aku membaca suatu harian surat kabar tentang korupsi: “Barang siapa yang menentang atau mempersulit kinerja KPK, maka dia itu dalang, pecinta, pelindung, dan penernak para koruptor”. Artikel yang saya baca ini terkait dengan isu atau kabar tentang PKS (Paratai Keadilan Sejatera) yang menantang KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) terkait kasus impor sapi. Juga disebutkan dalam surat kabar itu bahwa PKS untuk Pemilu tahun 2013 akan kehilangan pendukungnya. Siapapun boleh berkomentar di sini. Baik yang setuju dengan saya atau tidak sependapat dengan pendapat saya.

Selain itu, saya juga membaca surat kabar “Jawa Pos” edisi Senin, 13 Mei 2013. Pada kolom opini saya menemukan bahan bacaan opini yang berjudul “Rindu Partai Keadilan tanpa Sejahtera” yang ditulis oleh Heri Prabowo yang juga menyebutkan dalam identitasnya ada sangkut pautnya (relasi) dengan PKS. Namun kalau saya baca dari judulnya saja sudah menggambar dirinya tidak setuju dengan PKS itu sendiri. Entah karena apa dirinya menulis gagasan semacam itu. Dalam benakku diakui atau tidak, PKS sudah tercoreng akibat kasus impor sapi. Kiranya begitu yang diahrapakan oleh Heri Prabowo dari berbagai partai politik, utamanya PKS menjadi PK (Partai Keadilan).

Pikiranku jauh melayang, entah ke mana. Hingga hadir kembali dengan sebilah celurit. Di sisi lain saya ingin para koruptor itu mati, karena mereka secara tidak langsung telah memakan harta orang tuaku dengan cara yang salah, tanpa ijin yang dibenarkan oleh hukum. Pemungutannya cukup baik, melalui jalur pajak. Sebagai orang Madura yang selalu mendapat pandang stereotip dari orang secara umum sebagai manusia terkeras, pemberani, dan tanpa mengenal putus asa dalam menjalani hidup ini. Ingin rasanya mengalungkan celurit ke leher para koruptor sebagai yang diasumsikan kebanyakan orang. Ingin rasanya menebas mereka yang telah nyata di mata rakyat dan hukum bersalah dengan kasus korupsi.

Sejenak aku melayang, mengingat pada tanggal 9 Maret 2012 tahun lalu. Mungkin rata-rata akan melupakan hal itu. Karena tidak gampang orang mempercayai omongan politikus layaknya Anas Urbaningrum. Pada tanggal itu Anas bejanji siap gantung di Monas jika dirinya terbukti korup. Namun, kenyataannya setelah Anas terbukti korup oleh KPK, Monas tetap lah Monumen Nasional, bukan Monumen Anas. Saya pikir ucapannya akan terpenuhi, ternyata hanya kebohongan yang nyata yang tak patut dipercaya lagi omongan para politikus. Mungkin  ada yang salah dengan hukum di Indonesia yang kiranya perlu diperbaiki.

Di samping itu, saya pikir perlu kiranya memanfaatkan materai sebagai penguat sebuah janji. Setidaknya bagi mereka yang cerdas, dengan secapat kilat dan secerdas cahaya menyuguhkan surat pernyataan atas sumpah Anas Urbaningrum untuk gantung diri kalau terbukti korup. Dengan kekuatan materai hitam di atas putih yang ditandatangani oleh Anas sendiri, maka Anas sesuai perjanjiannya perlu dituntut untuk mati akibat perilakunya yang korup. Jika tidak demikian, maka kebohongan akan menjadi buah bibir para politikus di berbagai partai politik.

Jika ditawarkan kepada rakyat Indonesia mengenai hukuman para koruptor, mereka tentu akan serentak menjawab “bunuh para koruptor!” bahkan juga akan terdengar “gantung para koruptor hingga mati!”. Namun sayang, negara kita ini negara hukum yang segalanya berdasar pada hukum yang diberlakukan oleh pemerintah yang terkadang pula diselewengkan demi kepentingan parsial orang-orang elit. Hukum bagi rakyat tak lain untuk membunuh orang bawah. Aplikasinya dengan hukuman terberat berada dalam kehidupan rakyat Indonesia. Sulit menjalankan hukum secara adil, kecuali mereka yang memiliki pengamalan agama dan hukum secara murni demi keadilan dan kebenaran di muka bumi ini.

Mengingat betapa beratnya tugas dan beban KPK dalam menjalankan tugasnya, maka sebagai intelektual dan birokrat yang benci perilaku korup saatnya untuk menopang kinerja KPK dalam memberantas korupsi di negeri ini. Hal-hal apa saja yang dianggap mempersulit kinerja KPK perlu dimusnahkan. Tugas KPK bukan hal sepele, tapi tugasnya sangat berat. Yang menjadi target dan objeknya orang-orang kepercayaan rakyat Indonesia yang dahulu kala berkokok akan mensejahterakan kehidupan bangsa Indonesia, namun kenyataannya kini menjadi dalang pembunuh rakyat sendiri.

Maka dari itu, mengingat tugas mulia badan otonom KPK di Indonesia cukup sangat akut dan pelik, perlu terobosan baru dalam membantu memperlancar jalan KPK dalam memeriksa mereka yang menjadi tersangka. Utamanya dalam hal penyidikan, berikan jalan terbaik. Begitu pula jika KPK memang berada dalam jalan yang salah dan merugikan rakyat Indonesia perlu dinasehati guna sebagai evaluasi kinerjanya dalam memberntas para koruptor di Indonesia. Mempersulit kinerja KPK atau menantang kinerja KPK merupakan cerminan bahwa dirinya tidak suka dengan kehadiran lembaga independen itu. Kemungkinan besar, mereka yang tidak suka dengan kinerja KPK memiliki kerisauan jiwa, dirinya merasa terancam oleh keberadaan KPK.

Berbanggalah setidaknya dengan kehadiran lembaga independen KPK. Karena dengan lembaga otonom ini berbagai kasus korupsi sudah banyak terkuak dan pelakunya diseret ke ranah hukum. Khususnya pada periode kepemimpinan Abaraham Samad. Apresiasi dan dukungan kepada KPK perlu terus ditingkatkan agar berbagai macam bentuk korupsi di negeri ini bisa sirna. Jangan sekali-kali membela koruptor dalam berbagai situasi dan kondisi apapun, tapi bantu dan bela KPK dalam memberantas korupsi sebagai upaya menyelamatkan harta rakyat Indonesia.

Surabaya, 13-05-2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: