Pikiran dalam Rinai Pagi

Junaidi Khab ketika awal masuk Surabaya

Junaidi Khab ketika awal masuk Surabaya

Pagi itu aku harus bangun di kala ayam masih berjongkok menikmati dingin di waktu subuh. Rencana itu sudah kupersiapkan hari-hari sebelumnya. Segala persiapan dan berbagai peralatan mandi telah kupikirkan sebelumnya. Aku hanya tinggal memasukkan ke dalam tas satu per satu. Pikiran sudah membuana jauh melayang ke daerah yang katanya itu indah, penuh makna dan perenungan yang sangat berarti dalam hidup. Aku pun terhipnotis lewat sayup-sayup angin dari mulut ke mulut. Aku pun bergelut dalam hipnotis-hipnotis itu.

Bagasi pakaian terasa penuh dengan pakaian saja. Namun di dalam tersimpan wahana hidup yang katanya menyenangkan. Aku pun lalu menggendongnya untuk menerjang waktu yang telah dikekang oleh diriku dan kawan-kawanku. Lebih jauh dari itu semua, aku melangkah dengan Fawaid anak Giliyang menempuh jalan pikiranku yang melayang entah ke mana arahnya. Namun cukup jelas, untuk masa depan dan hiruk-pikuknya kehidupan. Aku hanya mengikuti langkah kaki dan takdirku melangkah. Namun aku juga tak luput dari usaha-usaha yang telah digariskan sebelumnya. Hidup itu untuk kebahagiaan, bukan untuk kesenangan. Bedakanlah antara kebahagiaan dan kesenangan itu.

Sosok-sosok mata itu telah menunggu batang rambutku yang terus terurai. Mungkin mereka akan melihatku dari sisi bulu-bulu yang menurutku kadang indah juga kadang kurang enak dilihat dan menyenangkan kalbu. Bukan hanya basa-basi dalam perjalananku itu untuk hal yang tak berguna. Namun untuk segalanya yang akan membawaku pada air, api, dan tanah.

Sejenak aku melihat air yang mengalir dalam kegelapan. Penuh pernak-pernik yang membunuh manusia itu sendiri. Ku hanya menatap dengan penuh makna dan mencoba menuliskannya dalam benakku yang kelak juga akan kutulis dalam bentuk seperti tulisan ini. Indah kiranya kalau seperti ini dan bisa dinikmati oleh banyak orang untuk masa mendatang. Dari sana aku mendapat secarik wahyu yang begitu menggembirakan tentang kehidupan yang katanya jua abadi melalui torehan pena-pena kreatif atau tombol-tombol komputer atau laptop pada masa sekarang. Aku pun berbangga dan berbesar hati.

Namun tiba-tiba, gemelayut itu pun terus ku lalui. Kernyitan itu datang tatkala ponsel yang kupegang memberi setitik kata yang menggetarkan hati. Kepalaku sedikit bertanduk menelisiki wasiat itu. Panas rasanya tubuh ini diterpa goresan tombo-tombol ponsel itu. Aku pun mencoba menghapus kilasan yang mengiris lubuk hati itu. Tapi bukan diriku yang menjadi dalang di balik itu semua. Ternyata kawanku yang lain yang menjadi dalangnya.

Aku pun rela berpanasan di bawah terik matahari. Melembut hatinya. Menenangkan suasana batinnya. Bukan aku membelah hatiku padanya. Tapi sebagai kawan yang setia. Tak lebih dari itu. Aku pun mencoba terus membujuknya.

Tak berapa lama karena waktu yang terlalu berjalan jauh. Aku pun beranjak dari dunia itu menuju ke seberkas keabadian yang tak jauh dari sebuah ruang yang katanya penuh dengan uang. Beruang. Itulah pandanganku. Aku pun pegangi tubuh kehidupan dan keabadian itu. Tak ada ungkapan yang tak pernah aku hembuskan di lubang hidung dan mulut.

Aku lalu mencoba menagih janjinya yang setengah baya matahari itu bangkit dari peraduannya. Hidup demi seorang kawan. Kiranya begitu. Aku rela berpanasan dan dimakan kawan-kawanku yang lain. Aku pun sudah bisa dikatakan berhasil dalam membujuknya agar tegar dengan kata-kata yang sebenarnya merupakan sebuah keakraban dalam perkawanan.

Lebih jauh lagi aku memergoki pikiranku jauh melayang. Tasku pergi. Padahal hari itu telah kusisipkan di bawah daun-daun kepercayaan yang hijau. Aku pun ngoceh ke sana ke mari berorasi mencari sosok warna kecokelatan yang sirna dari pandanganku. Tasku hilang dengan beberapa kehidupanku yang abadi. Aku pun mencoba sabar. Itu jalanku dalam menghadapi suatu persoalan. Namun sejenak pikiran dan hatiku menjadi kecil sekecil daun kelor. Bahkan lebih kecil. Lalu aku menyiraminya dengan noktah-noktah yang ada dalam batinku sendiri.

Kesabaran yang kupahami kucoba untuk diaplikasikan sedemikian rupa menghadapi hal itu semua. Ke sana ke mari aku menemukan jalan terang. Di sanalah aku mendapati sinar terang dari bilik yang sudah tidak asing bagiku. Semuanya telah kembali. Cuma tinggal menunggu waktu untuk melanjutkan jiwa keabadianku di rumpun-rumpun yang penuh dengan sorotan dan tatapan mata mengenai wajah-wajahku. Kutampar sorotan dan tatapan yang tajam itu. Amti, seketika tertelan dalam detak-detak hawa dingin kontemporer dunia.

Tasku kudapat. Pikiranku menyesal. Apa yang kupersiapkan untuk kekekalan itu sia-sia di saat itu pula. Aku harus menunggu lebih lagi dari apa yang telah kuperkirakan. Aku harus berangkat dari garis yang telah digariskan oleh mulut-mulut yang kadang jujur dan terkadang khianat.

Surabaya, 11-05-2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: