Berangkat dari Sana

Junaidi Khab bersama kawan-kawan ketika hinggap di SMAP Al-in'am Pajagungan Banjar Timur Gapura Suemenp Madura

Junaidi Khab bersama kawan-kawan ketika hinggap di SMAP Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Suemenp Madura

Di awali dari sini. Sejak aku mengukir sejarah ini tidak ada banyak pandangan tentang kehidupanku yang akan datang nanti. Prospek bagiku pada waktu itu cukup buram. Entah mengapa aku harus berada pada titik buram itu. Mungkin karena noktah itu lingkunganku yang kurang menjadi teman keseharianku meski tiap hari aku selalu menyapanya. Tatkala waktu itu datang mendekatiku, aku hanya terdiam, cukup melihat dengan penuh harapan hidupku seperti mereka yang mempunyai segalanya. Ya, mungkin kerakusan yang ada dalam pikiranku. Aku menyadari, dari kerakusanku sudah terbesit sebuah catatan-catatan kecil yang tidak akan lama akan menjadi besar seperti sejenis pohon labu yang teramat kecil dengan buah yang teramat besar. Bukan beringin dan pohon-pohon yang besar dengan buah yang teramat kecil. Tapi aku pohon labu yang akan terus berbuah besar. Menjalar ke pohon-pohon yang teramat besar. Pohon yang besar akan menjadi topangan dan kendaliku bahkan akan menjadi tempat ketika buahku bergunung-gunung bak gunung yang tak bisa kubayangkan dengan ilustrasi alam manusia.

Aku yang berada dalam dunia sosial yang berbalut kejumudan itu tak mau kalah pula dengan orang-orang yang berada di kota peradaban yang sudah maju. Aku seakan ketinggalan kereta zaman dalam menempuh hidup ini. Lalu dari sanalah aku berjuang mengejar kereta itu menuju kota yang hingar-bingar katanya sudah maju seperti bianglala yang selalu berwarna-warni. Tak lebih dari sebuah ilusi yang menemani dalam perjalanan hidupku. Kekangan dalam daun-daun kering menjadi suguhan yang nyaris tak menemukan jalan terang. Laksana burung yang ingin keluar dari sangkar. Meski katanya, burung itu lebih baik dan berharga jika berada dalam sangkar itu. Tapi aku tak mau seperti burung-burung itu. Aku ingin jadi seekor elang yang terus membuana di jagat ini. Kepakan sayapnya akan menggentarkan dunia dan isinya. Bunyinya akan menjadi kewibawaan hidup yang sejati.

Jika aku harus bersujud di kekangan itu, maka aku akan bersujud sebagai simbol keagunganku. Namun bila aku harus menjadi budak dalam kekangan itu, maka aku akan memprotes. Hidupku sebenarnya aku dan Allah yang tahu. Aku yang sebelumnya tidak mempunyai apa-apa, kini memiliki segalanya.

Sayap-sayapku akan kubentangkan di atas kerikil-kerikil di halaman itu. Memberikan naungan bagi mereka yang kepanasan. Margaku, iya, itu margaku. Mereka yang ingin bersamaku dalam menempuh jalan Tuhan, jalan kebenaran yang hakiki. Perjuanganku akan kubawa sembari menepuk punggung-punggungmu dari balik kayu siwak yang terus menyela-nyelai rongga gigi, yang menjadi tonggak kehidupan dari masa ke masa hingga kini menjadi sebuah kontemporer.

Permulaan itu akan menjadi segalanya dan akan menjadi sebagian. Terserah mereka mau memilih yang mana. Kehidupan yang sangat cepat, sementara, seketika, sekejap mata, atau bahkan seujung jari saja. Atau mereka memilih hidup yang lebih lama, abadi, kekal, atau tak pernah lekang oleh situasi dan kondisi kehidupan dan kematian.

Aku tak ada maksud hinggap di dahan-dahan kering yang sesekali pindah ke daun yang hijau. Tonggak kehidupanlah yang membawaku melompat-lompati ranting satu ke ranting yang lainnya. Hingga pada akhirnya aku tahu dunia itu seperti apa. Ternyata kecil dan sempit dibanding kekuatan pikiran dan hatiku yang telah dianugerahkan oleh Allah. Patut kiranya kau mengagungkan dan mengabdi padanya. Semoga mampu, dan aku mampu untuk mengarungi itu.

Mari bersama-sama, bersamaku meraih pelangi itu. Pelangi dalam kehidupan negeri yang selalu pagi, negeri yang selalu ditetesi embun dan salju. Tak akan ada kering keronta. Segalanya serba penuh dengan keabadian yang tak akan didapat oleh orang lalim. Aku akan bersamamu jika kamu mau menjelma angin menuju bianglala-bianglala itu. Karena tak akan mampu sebongkah tubuh dengan kerakusan menempuh bianglala itu tanpa hembusan angin yang kencang hingga kita melaju dengan cepat di atas angkasa.

Kawan-kawanku, Sayiful Bahri, Azam, Atnawi, Syamsul Arifin, Syafiq, Fawaid Umar, Yasirul Umam, Puhawi, M Ridwan, Busri, Herman Busri, Syaiful Amri, Fathurrahman, Khotibul Umam, Yanto AG, Zahidi, Zuhdi, M Sutikno, Halim, Ahmadi Z, Kusik Kusuma Bangsa, Usmawati, Husniyah, Zahniyah, dan Muzzammil mari kita songsong masa depan kita dengan penuh kesumringahan hidup menapaki dunia pendidikan dari segala arah manapun. Jiwa kalian adalah jiwaku yang tak akan kubelah. Kini jalan hidup kita berjalan pada poros masing-masing. Tinggal kita yang menentukan mana yang layak dan mana yang tidak layak. Pilihlah yang terbaik bagi orang lain dan diri kita masing-masing. Namun utamakan orang lain jika kamu ingin berbakti dan mengekalkan hidup ini meski hidup ini hanya sejengkal.

Dari sanalah kuukir masa depan yang tak jelas arahnya. Ukiran-ukiran itu akan segera aku temui paska-konservatif pada masa itu. Hidup ini harus aku hayati dan aku pahami sedalam mungkin. Guna menemukan makna di balik pelangi yang indah. Membuang satu warna, membunuh segalanya. Kemajemukan itu perlu kita pelihara sebaik dan seelok mungkin demi menjaga keakraban di antara warna-warni kehidupan dalam dunia ini.

Perjuangan tidak akan berhenti di mana kaki kita menapaki bumi yang kadang gersang dan kadang subur bak surga yang tak pernah mati. Namun surga itu bukan Tuhan yang kekal. Ini menjadi kehendak Tuhan dalam mengekalkan surga. Makhluk Tuhan yang abadi. Bumi dan isinya termasuk pelangi juga binasa. Kecuali surga dan neraka yang tak ikut hancur. Mari kita merenung di balik surga dan neraka yang juga abadi ibarat sifat Tuhan yang kekal selama-lamanya. Namun seabadi-abadi surga dan neraka, ia tetap berstatus makhluk Tuhan yang ia ciptakan jauh-jauh hari sebelum manusia hidup dan mengenal kehidupan.

Mungkin ini awal kata dari sana yang bisa aku bagikan untuk kehidupan ini dan bagi orang-orang yang hidup dari sana dan di sana. Kekalkan hidup dalam menempuh kehidupan yang fana ini! Arungi hidup ini yang sangat panjang walau ukuran bumi hanya sejengkal, bahkan lebih pendek darinya!.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: