Merintis Kebangkitan Fatayat NU dan Hak-Hak Perempuan

Duta Masyarakat: Rabu, 24 April 2013

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) telah mempertegas bahwa manusia baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama. Hak-hak itu memang sudah melekat sejak manusia dilahirkan. Sehingga setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan harus mendapat perlakuan yang sama dalam lingkungan sosial. Mereka bebas hidup, berpendapat, melakukan hal-hal yang yang menurutnya bisa mensejahterakan hidupnya.

Namun dalam undang-undang tersebut juga diperjelas bahwa manusia memiliki tanggung jawab atas segala apa yang dilakukannya. Sebagaimana bunyi BAB 1 pasal 1 ayat 2 bahwa kewajiban dasar manusia adalah seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan, tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya HAM. Maka dari itu, antara hak dan kewajiban harus dipenuhi secara selaras dan seimbang. Karena secara otomatis jika kewajiban tidak dipenuhi oleh tiap-tiap individu, maka hak-hak yang melekat pada dirinya akan luluh dengan sendirinya.

Namun, seakan HAM itu dalam penegakannya tidak berjalan secara maksimal dan masih berjalan miring. Berbagai tuntutan dari berbagai pihak hingga ke meja hijau. Sangat miris sekali, dalam perampasan hak-hak itu dilakukan oleh penegak hukum sendiri. Misalkan kasus pelecehan seksual sodomi oleh salah satu oknum kepolisian atas anak usia dini di Jakarta Timur pada bulan Maret 2013 ini. Itu hanya kasus masih aktual, di balik itu masih banyak pelanggaran dan perampasan HAM oleh kalangan tertentu.

Melihat kasus itu, sekarang korban pelecehan seksual bukan hanya pada perempuan saja. Namun dari kalangan laki-laki pun terjadi. Kewaspadaan dari masing-masing individu laki-laki atau perempuan harus lebih waspada agar hak untuk bebas dan aman tetap bisa terpenuhi, utamanya perempuan yang rentan dilecehkan. Begitu pula dengan pemerintah harus objektif, tegas dan adil dalam menegakkan HAM dan keadilan di negeri ini utamanya hak kaum perempuan yang rentan dirampas.

Atas tidak terlaksananya dan teraplikasinya HAM dan keadilan hingga menimbulkan berbagai gejolak di muka bumi termasuk di Indonesia. Berbagai gerakan sosial demi menuntut keadilan atas HAM itu sudah mulai dirilis sejak beberapa tahun dan abad yang silam. Dari kalangan buruh, tenaga kerja wanita, dan kalangan perempuan yang tidak mendapatkan ruang publik dalam memajukan dirinya dan bangsa ini. Padahal laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dan potensi hidup yang sama di lingkungan sosial, hukum, dan politik.

Kiprah Fatayat NU

Melihat kesetaraan gender dan HAM yang tidak adil. Kemudian muncul beberapa organisasi yang menuntut kesamaan hak dalam berbagai bidang. Organisasi-organisasi itu tidak lain demi mencapai kemaksimalan HAM dan kesejahteraan sosial. Dalam hal ini perempuan yang sering dirampas haknya oleh kaum laki-laki lebih banyak menuntut dan berjuang.

Misalkan menuntut persamaan gender yang menuai beberapa pertentangan. Dari kalangan masyarakat muslim muncul organisasi Fatayat NU yang mana demi menjaga hak-hak kaum perempuan Indonesia yang dipelopori oleh tiga serangkai pemudi Islam (Murthasiyah, Khuzaimah Mansur, dan Aminah). Organisasi ini berdiri bertepatan dengan Kongres  NU ke XV tahun 1940 di Surabaya dan kemudian disahkan sebagai badan otonom pada Kongres NU ke-XVIII tanggal 20 April-3 Mei 1950 di Jakarta.

Organisasi Fatayat NU ini mendapat acungan jempol dari presiden Amerika serikat, Barrack Husein Obama. Dalam suatu forum dia mengatakan bahwa di Indonesia organisasi keperempuanan yang memiliki kepeduliaan tinggi atas hak-hak perempuan adalah Fatayat NU dan Aisyiyah. Namun sayang dua organisasi itu hampir sirna, bahkan dalam kancah nasional organisasi Aisyiyah jarang terdengar. Kini cuma Fatayat NU yang masih terdengar sayup-sayup perjuangannya di pelosok-pelosok desa.

Keadaan Fatayat NU yang memperjuangkan hak-hak kaum muslim perempuan kini sedikit demi sedikit longsor. Terbukti organisasi ini hanya berkembang di pedesaan, itu pun sudah minim hanya sebatas pertemuan saja dengan seremoni pembacaan solawat saja. Seandainya organisasi ini dirintis oleh seluruh kaum perempuan muslim di Indonesia utamanya kaum muslim di perkotaan, maka hak-hak kaum perempuan akan berada di garis depan dalam penegakannya. Begitu pula keseteraan gender di Indonesia tidak akan muncul ke permukaan karena sudah ada yang mewadahi berbagai hak dan aspirasi kaum perempuan melalui Fatayat NU.

Fatayat NU yang dipelopori oleh tiga pemudi Islam itu  harus tetap berada dalam garis depan dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan Indonesia dan secara umum di berbagai belahan dunia. Bahkan jika perlu pemerintah dalam ikut serta memperjuangkan dan mempertahankan hak-hak kaum perempuan Indonesia yang sering dirampas oleh kaum adam harus lebih maksimal.

Kekerasan terhadap perempuan kerap kali terjadi, baik di lingkungan keluarga bahkan dalam dunia internasional hak perempuan nyaris hilang. Kasus ini bisa kita lihat pada TKW Indonesia yang ada di luar negeri mendapat perlakuan yang tidak adil. Taring Indonesia pun kehilangan racun dan ketajamannya. Kemungkinan melalui organisasi Fatayat NU ini pemerintah perlu merintis untuk menghidupkan kembali di seluruh Indonesia dalam rangka menjaga aspirasi dan hak kaum perempuan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Namun dalam dukungannya, pemerintah tidak boleh mengekang dengan aturan perundang-undangan terhadap organisasi ini. Karena jika pemerintah terlibat mengatur di dalamnya, kemungkinan organisasi ini tidak akan otonom dan independen lagi sebagaimana asal mula berdirinya yang memiliki visi dan misi mulia untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan Islam.

* Penulis adalah Pemikir Islam Kontemporer IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Alumnus Pondok Pesantren Al-in’am Pajagungan, Banjar Timur, Gapura, Sumenep.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Silakan klik Duta Masyarakat Merintis Kebangkitan Fatayat NU dan Hak-Hak Perempuan untuk men-download bentuk aslinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: