Pluralisme Gus Dur, Gagasan Para Sufi

KORAN MADURA: JUMAT 19 APRIL 2013 NO. 0100 TAHUN II

Cover Sang Zahid MAngarungi Sufisme Gus Dur (Junaidi Khab)

Cover Sang Zahid MAngarungi Sufisme Gus Dur (Junaidi Khab)

Judul               : Sang Zahid Mengarungi Sufisme Gus Dur

Penulis             : KH. Husein Muhammad

Penerbit           : LKiS

Cetakan           : I, 2012

Tebal               : xviii + 164 halaman; 21 x 14,5 cm

ISBN               : 978-979-25-5381-9

Peresensi         : Junaidi Khab*

Do more talk less. Kata-kata itu layak disandangkan kepada sosok Gus Dur sebagai bapak pluralisme. Gus Dur tak banyak bicara soal wacana pluralisme berikut dalil-dalil teologisnya. Tetapi ia mengamalkan, mempraktikkan, dan memberi mereka contoh atasnya. Pluralisme lebih banyak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari Gus Dur dibanding diwacanakan (Hal. 51).

Buku ini membicarakan perihal kehidupan Gus Dur sebagai sosok pecinta pluralisme di Indonesia. Selain itu kesederhanaan dan kebersahajaannya dalam menjalani kehidupan ini tidak selalu bergantung pada materi. Dengan kata lain, selain sebagai bapak plurisme dia merupakan penganut aliran sufisme. Yang mana kehidupannya tidak dapat diukur dengan materi lagi.

Selain itu pula sebagai pegangan kecintaannya pada nilai pluralisme dari surat al-Baqoroh ayat 177 Gus Dur sering mengatakan bahwa Islam itu terdiri dari tiga rukun (pilar); yaitu, rukun iman, rukun islam, dan rukun tetangga. Sedangkan yang dimaksud rukun tetangga merupakan nilai-nilai kecintaan dan kepedulian kepada sesama manusia untuk saling merasa dan berbagi (Hal. 52-53).

Sehingga dengan nilai-nilai pluralismenya, ia mendapat sanjungan dari berbagai golongan, ras, agama, dan dari berbagai etnis masyarakat utamanya masyarakat yang kecil dan tertindas. Kematiannya menjadi kenanan indah yang tak ingin dihapus oleh mereka. Begitu banyak peranan Gus Dur dari sisi perjuangannya dalam pluraslisme hingga ia banyak mendapat pengagum dan penggemar pemikirannya meski dari belakang juga ada yang menusuknya. Itu tak lain merupakan bumbu kehidupannya dalam menegakkan nilai-nilai pluralisme.

Berangkat dari keilmuan dan buku-buku yang dipelajarinya ia juga tidak melupan untuk mengamlkan apa yang menjadi nasehat agamanya. Yaitu tidak cinta dunia dan tidak gila dunia. Namun, meskipun demikian ia tetap menjadi sosok zahid yang dapat dilihat dari perilakunya yang selalu memberikan uang hasil kegiatannya untuk mereka yang membutuhkan sebagaimana ketika ia menjabat sebagai ketua PBNU ia mendapat banyak surat yang meminta bantuan darinya. Lalu uang yang diperoleh dari hasil menulis dan mengahdiri seminar dibagikan menurut kehendaknya dan dikirim melalu wesel (Hal. 93-94).

Dari tindakan itulah antara nilai pluralisme dan sebagai zahid sudah tercerminkan. Bahkan dalam persoala keuangan ia tidak pernah mempertanyakan dapat berapa dan dibagikan kepada siapa. Sungguh tindakan dan paradigma yang patut kita tiru dalam kehidupan yang multi-agama, ras, dan etnis ini. Dengan begitu kebersamaan hidup di negrei ini akan mudah ditemukan meski dalam lintas agama, ras, etins, budaya, dan lintas negara secara universal.

Dan yang lebih menakjubkan dari kisah ketidakcintaannya pada dunia ia dalam mencalonkan presiden hanya bermodal Rp.3000.000,- dan pernah membagikan uang transportnya pada pengiringnya dari hasil mengahdiri untuk mengisi ceramah apda haflatul imtihan (Hal 97-99).

Kesederhanaan dan keluwesannya dalam mengayomi kehidupan umat dan bangsa ini yang sebenarnya menaruh perhatian umat manusia. Nilai tulus dari hati nuraninya pula yang memantulkan nilai pluralisme dan kezahidan dalam kehidupannya. Memang banyak para kaum intelektual yang berwacana. Namun tidak ada nilai-nilai realistis dari apa yang sering diwacanakan. Hasil wacana hanya dibagikan pada orang lain. Mereka hanya ingin berbicara, berpikir dan didengarkan. Namun mereka tidak mau melaksanakan, memberikan contoh, dan tidak mau mendengarkan.

Tulisan buku ini menceritakan sebuah pemikiran dan kehidupan Gus Dur secara sepintas dalam rangka memperingati seribu hari kewafatannya. Namun meskipun hanya terdiri dari beberapa uraian pengalaman pribadi penulis, buku ini sudah mewakili kehidupan Gus Dur sebagai bapak pluralisme dan tokoh sufi yang selalu mengedapankan implimentasi pemikirannya daripada selalu mewacanakannya tanpa ada tindakan realistis dalam kehidupannya.

* Peresensi adalah Alumnus SMA Pesantren Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Madura.

Hp                               : 087866119361       

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Silakan klik KORAN MADURA Pluralisme Gus Dur, Gagasan Para Sufi untuk mendownload koran PDF aslinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: