Mantan Suami Minta Hartaku

RADAR SURABAYA ● MINGGU, 7 APRIL 2013

Sejak kecil saya diambil anak angkat oleh kerabat jauh, yang secara ekonomi lebih mapan. Karena saya pandai mengambil hati, setiap kali apa yang menjadi keinginan saya, pasti dikabulkannya. Dari pakaian, perhiasan, motor dan barang mewah lainnya, termasuk rumah yang langsung diatasnamakan saya. Mereka lalu menjodohkan saya dengan anak lelakinya.

Masa-masa awal perkawinan, kami lalui dengan bahadia. Namun setelah perkawinan kami berlangsung sekian tahun, dan punya anak satu, saya baru sadar ia berperangai jelek. Selain pemarah, waktunya juga banyak dihabiskan di meja judi, dan perempuan nakal. Ia merasa tidak perlu mencarikan nafkah untuk keluarga, kerana semua kebutuhan kami selama ini selalu dipenuhi oleh orang tuanya.

Saya ingin suami saya mandiri menghidupi keluarganya. Untuk memberinya contoh, saya mengolah bisnis dengan modal uang pemberian orang tuanya. Tapi tetap tidak berhasil mengubah perangainya, bahkan rumah tangga kami jadi berantakan. Suami saya lalu mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Selain menceraikan saya, ia juga meminta kembali semua hadiah dari orang tuanya.

Yang ingin saya tanyakan, apakah bisa rumah dan harta pemberian orang tuanya diminta kembali, dengan alasan si suami mengatakan kalau hadiah itu adalah harta orang tuanya sebelum perkawinan dilangsungkan ?

Hormat saya

Rahma Prihartini,

Di Surabaya

Mantan Suami Minta Hartaku

Mantan Suami Minta Hartaku

JAWABAN :

Rumah yang Anda terima dari orang tua suami Anda sebelum perkawinan adalah hadiah. Jika kemudian si suami meminta kembali, dan mengatakan bahwa rumah tersebut adalah harta hadiah perkawinanannya, adalah salah besar, karena rumah tersebut Anda peroleh sebelum perkawinan. Terlebih rumah tersebut sudah atas nama Anda.

Lihat Pasal 35 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 mengatakan bahwa harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain. Kecuali jika ada harta hadiah lainnya yang digunakan untuk keperluan bisnis berdua atau untuk kepentingan rumah tangga, menjadi lebur karena jadi harta bersama. Pasal 37 menyebutkan bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing.

Namun yang terjadi dalam kisah Anda ini pada saat orang tua suami Anda membeli rumah pada waktu itu langsung diatasnamakan Anda. Maka rumah tersebut dapat dikatakan sebagai harta bawaan istri, karena tidak adanya peleburan harta. Jadi rumah tersebut tidak dapat diminta lagi oleh suami dan tetap milik istri selamanya.

Semoga jawaban ini dapat menenangkan dan menentramkan Anda. Amien.

Silakan klik untuk koran PDF aslinya: RADAR SURABAYA ● MINGGU, 7 APRIL 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: