Kerudung Hitam

METRO RIAU: MINGGU, 14 April 2013

Oleh: Junaidi Khab*

Kerudung HitamPada malam itu angin mulai senyap. Hanya tinggal desir-desirnya yang membuat bulu kulit berdiri karena dinginnya gelap yang menyusuri rumah-rumah penduduk. Yeni di sebelah Nia menangis terisak-isak. Isakannya ditahan sekuat mungkin. Namun dinginnya malam menyelimuti tubuhnya hingga ia juga tak mampu menahan isakannya. Nia kaget terbangun. Memandangi wajah Yeni. Matanya bengkak. Wajahnya memerah.

“Yen, dirimu kenapa? Tanya Nia mengelus rambut kusam Yeni yang sejak sebelum tidur tidak disisir sama sekali.

Ranjanag itu hanya untuk mereka berdua. Sunyi malam mulai datang di kala Nia menanyakan sebab Yeni menangis. Yeni hanya diam. Air matanya mengalir ke mulutnya ditelan perlahan. Dengan mengigit bibir, ia merangkul Nia erat-erat. Selimut yang digunakan melorot hingga ke bawah. Sesekali Nia menarik selimut itu dan menyelimutkannya pada Yeni.

“Aku tak kuat menahan perih hatiku Nia…”. Bibir Yeni mulai terbuka dengan ingus yang masih menghiasi hidungnya.

“Ya, kenapa Yen? Kamu bisa curhat pada diriku”. Nia membujuk untuk menenangkan hati Yeni.

“Aku merasa dihianati”.

“Dihianati siapa?”.

“Rahasia!”.

“Kamu sudah punya kekasih ya?”

Suasana mulai jadi hening lagi saat Nia menanyakan tantang pribadi Yeni. Nia hanya terdiam. Merasa salah menanyakan hal yang tak pantas ditanyakan. Mereka menjadi teman akrab sejak bertemu pertama kali di pesta ulang tahun Toni. Namun meski mereka akrab, curhatan bukan hal utama bagi mereka. Pribadi mereka dijalani masing-masing. Pertanyaan Nia belum dijawab oleh Yeni. Namun Nia punya kecurigaan bahwa Yeni punya masalah dengan pujaan hatinya entah siapa itu.

Keheningan  suasana membikin hati Yeni terpukul. Dia merangkul bantal gulingnya. Menangis tanpa suara. Bantal guling yang tanpa kalus diremas hingga kapas-kapasnya keluar memenuhi mulut dan hidungnya yang penuh bercak ingus dan air mata.

***

“Kenapa dirimu tanya demikian?!” Bentak  Yeni sembari melempar bantal guling ke arah Nia. Nia pun kaget. Napasnya bagai badai ketika melihat kelakuan Yeni yang aneh itu. Namun perlahan dia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya penuh kelegaan.

“Ya, ya, ya kuingin membantu mengurangi bebanmu Yen”. Rasa kikuk Nia tak karuan saat akan mengutarakan maksudnya menanyakan prihal Yeni.

“Kelihatannya dirimu sering menangis setiap malam tanpa sepengetahuanku”.

“Aku sakit hati”.

“Sakit hati kenapa?”.

“Aku merasa dihianati oleh Toni”.

Nia terdiam saat mendengar jawaban Yeni demikian. Sebenarnya Nia adalah pacar Toni sejak dulu. Namun mereka seakan-akan tidak ada hubungan sama sekali. Hubungan Nia dengan Toni ditutup rapat oleh mereka berdua. Yang tahu hanya Toni, Nia, dan Tuhannya. Tak seorang pun tahu hubungan mereka. Nia merasa terpukul dengan jawaban Yeni. Yeni pun termenung dan heran melihat Nia yang terdiam seketika saat Yeni mengatakan yang sebenarnya.

Air mata yang akan keluar dari bilik matanya yang merona itu dikembalikan lagi. Dia tidak tahu kalau Yeni menyukai Toni secara diam-diam. Entah kenapa dia tidak mau mengungkapkan dan mengakuinya sejak dulu kalau dia ada hubungan dengan Toni. Nia tak habis pikir akan mendapat cobaan seperti itu.

“Dihianati bagaimana Yen?”.

“Ternyata dia sudah memiliki pasangan”.

“Kok kamu bisa tahu?”.

“Sejak pesta ulang tahunnya setahun yang silam aku mengambil kerudung hitam di kamarnya tanpa sepengetahuaannya”.

“Kenapa kamu cemburu?”.

“Aku mencintainya”.

Hati Nia semakin runtuh mendengar jawaban Yeni. Malam yang begitu dingin tidak lagi menyentuh kulitnya yang putih. Hawa di sekitarnya terasa pengap. Wajahnya memerah tak kuat menahan air matanya yang sedikit demi sedikit menetes tak dirasa. Yeni hanya melongo melihat wajah merah Nia yang mulai berkeringat.

Tak sepatah kata terucap di antara mereka. Tragedi itu yang baru dirasa oleh Nia selama menjalin hubungan dengan Toni. Nia bingung tak karuan. Pikirannya melayang-layang hingga dia tidak merasa kalau sejak tadi Yeni menggerak-gerakkan tangannya di wajahnya yang penuh air mata.

“Nia! Kamu kenapa?”. Yeni mengeraskan suaranya balik nanya ke Nia seraya menyadarkan Nia dari lamunannya.

“Tidak kenapa-napa. Terus apa yang membuatmu cemburu?”. Dengan serabutan Nia mengahpus air matanya dari pipinya. Nia melanjutkan pembicaraannya seraya mengalihkan dari apa yang dialaminya tanpa dirasa tadi.

“Dengan kerudung itu aku yakin Toni memiliki kekasih”.

“Menurutmu siapa Yen?”.

“Aku tidak tahu secara pasti, cuma buktinya dia menyimpan kerudung hijau itu”.

Keadaan mulai mereda. Hati Yeni masih dalam kegundahan. Tidurnya bolak-balik seakan ranjang itu terbuat dari kayu kasar yang tidak menyenyakkan tidur. Terlentang, miring dengan memeluk bantal guling yang dibuangnya tadi. Begitupun seterusnya hingga ia tertelap sendiri.

Malam yang tak bersahabat itu memeluk kehangatan Nia yang tak habis pikir dengan perkataan Yeni tadi. Padahal semenjak dia menjalin hubungan dengan Toni dia tidak pernah memberikan kerudung. Kecemburuan dan prasangka di hati Nia menjadikannya tidak bisa tidur. Dia keluar kamar meninggalkan Yeni sendirian ditemani bantal gulingnya.

Dengan ditemani selimut ia menerjang dinginnya malam pada musim kemarau itu. Dia duduk dengan keadaan jongkok di atas kursi tuanya memikirkan keadaan Toni. Tak ada kopi. Tak ada teh. Tak ada minuman yang menghangatkan. Sesekali menatap langit yang begitu cerah berhiaskan bintang-bintang. Bulan sabit baru menampakkan senyumnya di ufuk timur yang diiringi fajar yang akan menghampiri waktu solat subuh di ufuk barat sana.

Setengah malam suntuk Nia tidak dapat tidur. Kata-kata Yeni yang awalnya menusuk hatinya kini berubah menjadi teka-teki di dalam hatinya. Sulit sekali jawabannya. Antara kecemburuan dan kebimbangan menyelimutinya. Hingga waktu subuh kurang sekitar seperempat jam ia balik ke tempat tidurnya. Lalu pura-pura tidur di sebelah Yeni. Yeni pun membangunkannya untuk solat subuh ke musolla terdekat.

***

Pagi-pagi mereka bersih-bersih kamar dan halaman kontrakannya. Tanpa sepengetahuan Yeni, Nia pergi menemui Toni, kekasihnya. Ia melangkahkan kakinya perlahan setapak demi setapak agar tidak terdengar bunyi langkahnya oleh Yeni. Nia mengelus dada dan menarik nafas lega setelah agak jauh dari pandangan Yeni.

Nia mulai melangkahkan kakinya dengan santai menuju rumah Toni yang jaraknya sekitar setengah kilo meter. Namun meskipun demikian, ia masih merasa ada yang membuntutinya. Menoleh ketika terdengar bunyi daun kering di belakangnya yang disangka Yeni mengikutinya. Rumah Toni kelihatan sepi terlihat dari depan halamannya. Nia menoleh ke kanan dan ke kiri lalu nyelonong masuk tanpa menyalami Toni.

“Hei, Nia… Kamu? Kok gak bilang-bilang kalau mau ke sini?” nia kaget tiba-tiba mendengar suaru Toni dari balik kursi di ruang tamu. Toni menyapanya penuh keheranan.

“Silahkan duduk”. Toni mempersilahkan Nia untuk duduk di sebelahnya.

“Ya, maaf Ton. Aku sengaja gak memanggil dirimu terlebih dahulu”.

“Ya sudah tidak apa-apa, ada apa kok kamu kelihatan begitu murung”.

“Aku takut kelihatan orang. Aku ada masalah”.

“Masalah apa?”.

“Tentang diriku, dirimu, dan Yeni”.

“Ada apa dengan kita semua?”. Toni sedikit bernada tinggi karena kaget dengan kata-kata yang diucapkan Nia.

“Hubungan kita”. Sejenak kata Nia terputus dan ragu-ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Toni.

“Hubungan kita akan berantakan”.

“Kenapa?”.

“Ternyata Yeni teman akrabku mencintaimu Ton”. Air mata Nia mulai menganak sungai saat mengucapkan kata yang ditakutinya. Tangis isak mulai terdengar. Nia merebahkan kepalanya ke dada Toni dengan sesenggutan panuh kesedihan. Rambutnya yang baru disisir dielus perlahan oleh Toni. Toni hanya terdiam termenung dengan pernyataan Nia. Lalu Toni bertanya lebih jauh lagi tentang persaan Yeni yang diketahi oleh Nia. Nia pun dengan terang-terngan mengatakan apa yang ia ketahuai mulai dari curhatan Yeni tentang kerudung yang disimpannya.

“Cintaku adalah cintamu dan hanya milikimu Nia”. Toni meyakinkan Nia bahwa dia tidak menyimpan perempuan lain selain dirinya.

“Kerudung itu pemberian ibuku dan kusimpan kelak akan kuberikan ke istri sahku”. Toni menjelaskan tentang kerudung yang hilang di saat pesta ulang tahunnya. Nia mulai tenang mendengar penjelasan dari Toni.

“Terus, bagaimana dengan Yeni yang mencintaimu diam-diam?”.

“Nanti akan saya jelaskan pada Yeni kalau kita sudah ada ikatan kekasih”.

Nia pulang ke kontrakannya menemui Yeni lagi. Yeni tidak menanyakan sesuatu lagi tentang kerudung itu. Dia hanya terdiam melihat langkah kedatangan Nia yang sejak tadi menghilang entah kemana. Yeni kini sadar setelah ditelpon Toni sejak Nia berada dalam perjalanan pulang ke kontrakannya. Yeni menyerahkan kerudung ke Nia untuk diserahkan kembali pada Toni. Yeni merelakan cinta yang disimpannya itu pergi begitu saja agar menemui tempatnya yang pantas demi menjaga persahabatannya dengan Nia dan Toni.

Kini hari-hari mereka penuh keceriaan lagi. Malam tidak lagi menemani curhatan bagi hatinya. Bintang-bintang pun bertiduran di kala malam ditemani dinginnya embun yang menjaga tidur Yeni dan Nia di rumah kontrakannya. Tak ada isak tangis lagi di sebelah Nia. Malam berlalu melewati rumahnya yang senyap dan sepi di kala angin menepis rindunya akan kulit Yeni dan Nia.

Surabaya, 13 Mei 2012

* Penulis Bergiat di Komunitas Sastra IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Bergabung di Pondok Budaya Ikon Surabaya.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Silakan klik METRO RIAU Kerudung Hitam untuk men-download koran PDF aslinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: