Melacak ‘Budipekerti’ dalam Pancasila

METRO RIAU: SENIN, 1 APRIL 2013

Melacak ‘Budipekerti’ dalam Pancasila (Junaidi Khab)

Melacak ‘Budipekerti’ dalam Pancasila (Junaidi Khab)

Oleh: Junaidi Khab*

Dalam pembentukan negara dengan basis yang akan menjadi fondasi keberlangsungan kehidupan bangsa dan negara Indonesia, Ir.Soekarno, Drs. Muh Hatta, K.H.Wahid Hasjim, Mr.Muh Yamin, dan anggota-anggota yang lainnya telah menggagas tentang basis negara Indonesia. Sehingga dengan gagasan-gagasannya, mereka menghasilkan lima dasar negara (Pancasila). Pancasila sebagai asas negara kita perlu disadari dan dijadikan  bahan panutan dalam rangka membangun semangat kenegaraan yang perlu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena nilai-nilai dalam Pancasila seluruh aspek dan pandangan hidup masyarakat Indonesia telah dirumuskan oleh para the founding father kita.

Dalam catatan sejarah perjalanan kehidupan negara Indonesia pda tanggal 22 Juni 1945 panitia kecil merumuskan preambule dari UUD 1945 yang dikenal dengan Piagam Jakarta yang berbunyi: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syare’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan Indonesia. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun, satu hari setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945 bangsa Indonesia yang berada diwilayah Timur meminta agar rumusan Pancasila yang tercantum pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dirubah hal ini mengingat mayoritas non muslim. Maka demi mkeutuhan bangsa sila pertama dirubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga selengkapnya pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 berbunyi sebagai berikut: Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan Indonesia. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mengapa mereka disebut dengan the founding father, karena para pemimpin inilah yang menjadikan kita sebagai bangsa yang bersatu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Adalah pada tempatnya bila kita mengenang jasa-jasa beliau yang telah menjadikan kita bangsa yang duduk berdampingan dengan bangsa lain bebas untuk menentukan nasib sendiri.

Bagaimana seharusnya kita mengenang dan menghargai karya anak bangsa sebagai pendahulu kita, tentu kita harus mengisinya dengan meneruskan semangat dan perjuangan mereka sesuai dengan rintisan dan cita-cita Indonesia yang merdeka. Tentunya harus berlandaskan pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pembukaan UUD ’45, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan ketentuan NKRI.

The founding father sudah memberikan suatu cita-cita idealisme kebangsaan yang tertanam di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang sudah empat kali amandemen dan dasar ideologi tersebut dinamakan Pancasila. Panca artinya lima, sila artinya dasar, lima dasar ideologi. Apalah artinya sebuah nama Pancasila, namun ideologi yang dikemukakan oleh the founding father menjadi penting karena paham ini memang sudah menjadi akar budaya bangsa, yaitu bangsa yang mempercayai adanya Ketuhanan Yang Maha Esa, yang berperi kemanusiaan dan berperadaban dan bangsa yang bersatu, bermusyawarah dan bermufakat dalam setiap keputusan serta berkeadilan. Cita-cita ini perlu dilanjutkan ke depan dan ini bukan doktrin yang cendrung menekankan bagi kepentingan rezim penguasa.

Pendidikan moral Pancasila penting untuk dipahami anak bangsa, karena ia berbeda dengan pelajaran budipekerti, karena budi pekerti itu untuk menjaga terib sopan santun peribadi berbeda dengan Pancasila ia merupakan alat pemersatu bangsa, wawasan yang lebih luas, tidak salah jika nilai-nilai Pancasila masuk dalam kurikulum anak-anak sekolah dasar sampai sekolah lanjutan dan perguruan tinggi, meskipun berbeda metodenya sesuai dengan level kependidikan yang ada. Barangkali ini salah satu cara kita menghargai buah tangan para pendahulu kita, namun lebih daripada itu ideologi Pancasila adalah milik bangsa Indonesia.

Maka dari itulah, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila harus dipegang teguh oleh bangsa dan para pemimpin negeri ini, agar seluruh aspek kehidupan bangsa ini berjalan sesuai dengan harapan kita bersama, yakni kemakmuran dan kesejahterahan. Kunci utama berada pada sila ‘Ketuhanan’, jika sila ini diaplikasikan dengan baik, maka sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan Indonesia. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan terlaksana secara utuh.

Eksistensi Pancasila harus tetap dicanangkan dan diamalkan. Karena dengan adanya Pancasila serta pengamalan-pengamalannya, kehidupan bangsa in akan terlepas dari berbagai persoalan kebangsaan yang sulit dan rumit penyelesaiannya. Pancasila sebagai tonggak demokrasi di negara Indonesia memang perlu inovasi baru agar anak bangsa ini memahami secara benar dan mampu mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dari prosesi inilah keadann kehidupan negeri ini akan berjalan dengan baik. Maka dari itulah, semangat untuk hidup berbangsa dan bernegara harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Tidak lain kita melihat pada tujuan utama negara kita dibangun, yaitu untuk hidup sejahterha, aman, dan saling mengahrgai satu sama lain dalam kehidupan ini.

* Penulis adalah Pemikir Islam Kontemporer IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: