Mengerjakan Proyek dengan Perjanjian Lisan

RADAR SURABAYA ● MINGGU, 31 MARET 2013

Saya seorang kontraktor, tengah mengerjakan proyek perbaikan lapangan golf. Setelah pengerjaan mencapai 25 persen, saya jadi bimbang, sebab pengerjaan tersebut tidak diawali oleh kontrak tertulis dengan si pemberi kerja

Yang ingin saya tanyakan, apakah cukup pengerjaan itu hanya lewat perjanjian lisan, dan apakah saya bisa meminta kontrak tertulis?

Wass

Wibisono,

Di Sidoarjo

Mengerjakan Proyek dengan Perjanjian Lisan (Juanidi Khab)

Mengerjakan Proyek dengan Perjanjian Lisan (Juanidi Khab)

JAWABAN :

Dalam praktek di lapangan, pelaksanaan pekerjaan tanpa perjanjian tertulis sangat mungkin terjadi. Terlebih para pihak sudah sama mengenal, dan sudah terbiasa. Pasal 1313 BW (Kitab Undang Undang Hukum Perdata) menyebutkan; ‘’Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih’’ Sehingga dapat ditarik kesimpulan, suatu perjanjian tidak dibatasi pada perjanjian tertulis. Karena tidak adanya kewajiban untuk membuat perjanjian tertulis, bagi para pihak yang akan mengikatkan diri, maka sah-sah saja perjanjian dilakukan tanpa penandatanganan perjanjian atau kontrak tertulis.

Dalam hal salah satu pihak melanggar perjanjian (wanprestasi), agar dapat memaksa pihak yang melakukan wanprestasi untuk memenuhi prestasinya (kewajiban yang timbul karena perjanjian), diperlukan adanya bukti yang menjadi dasar gugatan. Pembuktian dalam hukum acara perdata di Pasal 164 HIR adalah menggunakan alat-alat bukti, yang terdiri atas saksisaksi, persangkaan-persangkaan; pengakuan; dan sumpah.

Bukti tulisan sangat penting dalam proses pembuktian dalam hukum acara perdata. Tanpa adanya perjanjian tertulis, cukup sulit membuktikan telah terjadinya suatu kesepakatan antara Saudara dengan pengguna jasa Saudara. Walaupun masih dimungkinkan penggunaan alat-alat bukti lainnya seperti saksi, persangkaan, pengakuan dan sumpah.

Untuk alasan pembuktian itulah maka diperlukan adanya perjanjian tertulis. Karena dalam suatu perjanjian kedua belah pihak memiliki posisi yang seimbang, maka masing-masing harus melaksanakan perjanjian dengan itikad baik, sehingga tidak merugikan pihak lainnya.

Maka menurut kami, ada baiknya kontrak tersebut ditandatangani terlebih dahulu sebelum pekerjaan tersebut diselesaikan, demi menghindari kesulitan pembuktian bila terjadi sengketa. Karena kedudukan Saudara dan pengguna jasa Saudara adalah seimbang, maka Saudara berhak untuk meminta perjanjian tersebut ditandatangani terlebih dahulu dan tidak melanjutkan pekerjaan tersebut sebelum perjanjian ditandatangani.

Demikian uraian yang dapat kami berikan, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: