Bambu Pak Suto

Riau Pos: AHAD, 24 MARET 2013

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab's Picture

Junaidi Khab’s Picture

Matahari masih belum bangkit dari peraduannya. Ayam-ayam baru saja mencakar-cakar tanah mencupil satu per satu rayap dan biji-bijian yang dilihatnya. Anak-anak kecil juga baru saja diusap wajahnya seusai menikmati dunia mimpinya. Mereka mau siap-siap untuk berangkat ke sekolah. Kepulan asap motor merk mesin kuno menjadi hiasan semangat kampung itu untuk bangkit dan terus bekerja. Begitu pula bajak-bajak yang sedang dipukul-pukul, diperbaiki untuk bekerja.

Suasan senyap itu tiba-tiba diramaikan oleh salah satu warga yang baru saja datang dari sawah mengontrol perkembangan padinya. Dengan nafas menggebu-gebu layaknya binatang sedang birahi. Sambil berdiri dan menopang badannya dengan tangan bersandar ke lutut melihat ke pintu rumah pak RT setempat. Ia berhenti di depan rumah pak RT, menenangkan deru nafasnya. Suasananya masih saja sepi. Orang-orang masih beres-beres kamar tempat tidurnya.

Tak lama kemudian daun pintu pak RT bergerak. Pertanda ada yang membuka dari dalam. Ujung sapu kipas terlihat melambai membawa seorobotan sampah berupa kertas dan plastik makan ringan. Namu  tak terasa oleh Emmok yang duduk bersandar melegakan deru nafasnya. Emmok terkaget oleh sahutan seorang perempuan di sebelahnya. Wajahnya mendongak dan melihat perlahan. Dari gagang sapu hingga sampai ke wajah si pemegang sapu. Nafasnya kini mereda. Ia mulai berdiri tegak melupakan payah yang ia halau sejak tadi.

“O… Bu Huma, pak Sued ada ya?” Sapa Emmok dengan deraian keringat di keningnya sambil perlahan mengusapnya yang mulai terasa menggelikan kulit pipinya.

“Iya ada Mok, ada apa emangnya?”

“Ada perlu bu, ini soal asusila”.

“Asusila bagaimana Mok?”

“Mmmmm, alangkah baiknya saya ketemu pak Sued dulu bu”.

Tak banyak tanya lagi, Huma langsung membalikkan badannya menuju kamar suaminya. Ia paham apa yang akan diceritakan oleh Emmok pada suaminya selaku RT di kampungnya. Dengan baju kumalnya Emmok menikmati kursi yang ada di sebelah pintu rumah Sued. Dag dig dug perasaannya menunggu kedatangan pak RT.

“Ada apa Mok?” . Sapa Sued dari dalam pintu sambil menuju kursi yang di sebelah Emmok. Perlahan Huma mendekat ke samping pintu. Ia juga menyimpan beribu tanda tanya persoalan yang akan disampaikan oleh Emmok.

“Pak, warung saya di sawah ditempati orang mesum semalaman”. Tutur Emmok penuh keraguan dan kesungkanan.

“Kok kamu bisa tahu? Apa buktinya?”

“Ini pak…”.

Emmok mengeluarkan sebuah celana dalam yang dibawanya. Celana dalam itu ia dapatkan dari warung di sawahnya. Emmok mulai meyakinkan pak Sued. Istrinya cukup tertegun dan tak begitu percaya. Namun setelah Emmok menjelaskan lebih panjang. Ia baru precaya dengan apa yang dituturkan oleh Emmok. Pada saat malam kebetulan hansip yang beronda melihat sejoli yang sedang berduaan. Namun hansip itu tak begitu menghiraukan karena bukan sosok maling yang dicurigai sebagaimana biasa ketika ronda.

***

Laporan Emmok benar-benar ditanggapai oleh Sued. Ia mulai melakukan pengecekan langsung ke warung Emmok di tengah sawahnya. Ternyata apa yang diaktakan oleh Emmok benar. Sued menemukan sebuah kondom warna merah. Melihat kondom ini ia mulai semakin berang dengan si pelaku. Ini perzinahan. Begitulah yang keluar dari benak Sued. Karena tak mungkin suami istri melakukan hubungan badan di tempat sepi.

Lalu Sued pulang. Ia tak habis berpikir mencari cara agar pezinah itu tertangkap. Kalau itdak kampungnya akan tercoreng oleh perbuatan asusila itu. Istrinya terdiam ikut resah dengan kabar itu. Saat suasana mulut tak bicara, aktivitas rumah belum dijalankan. Huma menyarankan suaminya untuk bertanya pada sesepuh kampungnya. Karena biasanya sesepuh memiliki banyak pengalaman dan hal-hal mistis yang ampuh. Ia pun langsung bergegas siap-siap berangkat menemui sesepuh kampung itu.

Sinar matahari yang sudah dua kali tinggi badannya ia terobos. Sued menuju rumah Suto. Dengan topi hitam lebar, kancing bajunya tak ia pasang. Jalannya begitu gesit. Lambai-lambai bajunya menjadi tanda tanya bagi warga yang menjumpainya. Ia tak biasanya seperti itu. Orang-orang nolah-noleh melihat Sued yang terburu-buru itu. Jalan yang hanya dilalui sadu atau dua orang bagaikan dialalu lebih dari sepuluh orang ketika Sued berjalan dengan lambaian bajunya. Setapak demi setapak mengantarkan Sued ke rumah Suto. Sesepuh yang usianya sudah sekitar delapan puluh tahun ke atas.

Rumah Suto mulai tampak dari arah jalan yang agak begitu berlumpur. Lalu Sued menyelipkan kanjing bajunya satu per satu. Sesampainya di depan pintu ia langusng mengetok. Tapi tak ada satu suara orang dari dalam. Ia langsung putus asa. Ia yakin tak ada orang di dalam. Ia pun duduk si ranjang kuno Suto. Menunggu Suto yang entah kemana perginya.

Dari kejauhan Sued melihat Suto ternyata ada di ladangnya. Ia mendekati pak tua itu. Baju yang compang camping menyelimuti tubuh Suto. Bulu putih dan jarang-jarang di kepalanya menjadi lirikan Sued. Tanpa dipanggil, Suto pun menoleh mendengar langkah Sued. Ia menghadapkan jenggotnya yang putih. Menoleh ke arah Sued.

“Ada perlu apa nak, kok sepertinya begitu penting?”. Suto langsung memulai percapakapan dengan suara agak begitu bergetar.

“Saya ingin menanyakan sesuatu mbah”.

“Tentang apa nak?”

Sued pun mulai menceritakan kejadian yang disampaikan oleh Emmok. Panjang lebar ia ceritakan kejadian yang ia ketahui. Suto hanya diam. Ia sedikit memejamkan matanya karena usianya yang telah tua rentah. Suto sebenarnya sudah paham ketika Sued membuka ceritanya. Namun ia ingin tahu pasti kejadian itu.

Tak lama kemudian. Suto mengepulkan asap rokok kulit jagungnya. Ia mengajak Sued pulang. Tanpa bertanya, Sued lalu mengikutinya. Akhirnya mereka berdua menuju rumah kuno itu. Sued disuruh duduk. Perlahan Suto membuka pintu rumahnya. Tak berselang lama. Batang hidung Suto pun muncul lagi di hadapan Sued. Ia membawa sejulur bambu berukuran kira-kira dua meter. Lalu Suto memaparkan apa yang harus dilakukan oleh Sued pada bambu itu. Ia hanya menuruti orang tua itu.

Bayang-bayang matahari sudah berada di arah timur tubuh Sued. Panjang sekali. Hampir melewati bayang-bayang solat dhuhur. Ia pun bergegas pulang. Dan memberikan uang lima puluh ribu pada Suto. Sesampai di rumahnya ia langsung solat dhuhur. Sejenak tiba-tiba suara beduk terdengar. Ia langsung solat asar. Seusai solat ia langsung menuju rumah Emmok. Ia mengajak Emmok ke warung di sawahnya. Sabit, paku, palu, dan kibas tak lupa dibawanya.

Bambu itu lalu dipotong dan dibelah oleh Emmok. Sued sebagai ketua RT hanya melihat dan memerintahkan seperti apa yang disarankan oleh Suto. Emmok dengan semangatnya penuh keyikinan pezinah itu akan tertangkap dan ketahuan orangnya. Kini bambu itu sudah terbelah menjadi beberapa belah selebar dua jari orang dewasa yang dirapatkan. Lalu belahan-belahan bambu itu diselipkan oleh Emmok di celah-celah sanggher[1] warungnya. Matahari pun sudah mulai pulang ke peraduannya. Kini malam mulai menyelimuti rumah Sued.

***

Pagi yang ditunggu-tunggu oleh Sued dan Emmok kini tiba. Usai solat subuh Sued langsung bergegas ke rumah Emmok. Dengan pakaiana yang biasa dipakai sehari-hari untuk bekerja Emmok langsung mengikuti ajakan Sued. Tak ada orang yang berlalu lalang. Suasana masih gelap diterpa dinginnya embun. Tak ada sinar senter dari arah mereka berdua. Itu memang sengaja agar tidak ketahuan jika memang ada orang di warung Emmok.

Suasana tiba-tiba tegang. Mereka bedua tidak berani mendekat warung itu. Mereka melihat orang yang rebah berdua di atas sanggher warung Emmok. Sued dan Emmok yakin itu pelakunya yang tertidur. Rasa malu pada diri sendiri dan rasa kasian pada orang itu membuat Sued kebingungan cara menyergapnya. Namun dengan tenang mereka mendekati sejoli yang sedang terebah di sanggher warung Emmok. Sejoli itu bertindih dengan posisi laki-laki di atas.

Perlahan Sued meminjam sabit yang dibawa Emmok memukul pilar warung itu agar sejoli itu bangun. Ternyata langkahnya sia-sia. Sejoli itu tak kunjung bangun. Melihat hal demikian mereka langsung menangkap dua sejoli yang sedang bertindih itu. Ia dibawa pulang. Tergopoh-gopoh karena berat. Kaki Sued dan Emmok keperosok beberapa kali ke lubang kecil di jalanan yang diselimuti pagi dan buramnya embun pagi. Ia langsung dibawa ke rumah Sued agar tidak banyak orang berkerumun menontonya.

Tak seperti yang ia duga. Sejoli itu belum juga terbangun. Setelah tindihan itu akan dilepas, usaha Sued yang memberanikan diri sia-sia. Kemaluan sejoli itu tidak bisa terlepas. Sued kebingungan menghadapi persoalan ini. Ia malu, ia sungkan yang akan membangunkannya. Ia agak sedikit menaruh rasa kasihan.

Dari arah yang tak disangkanya datang Suto dengan tongkat tuanya. Sued pun bergegas menuntun Suto menuju kamar dimana sejoli itu direbahkan. Sebenarnya Suto hanya mau bertanya hasilnya pada Sued. Ternyata apa yang diperkirakan sudah ada di depan matanya. Lalu Suto menyuruh Emmok mengambil air untuk disiramkan pada sejoli itu. Air pun disiramkan. Sejoli itu bergerak, namun tak mau melepas tindihannya. Mereka merasa bahwa kelaminnya tak bisa dilepas. Mereka sadar. Mereka malu. Hingga mereka menangis, merengek dilihat Suto, Sued, dan Emmok di atas ranjang.

Karena Suto yang memberikan cara itu. Maka Suto juga yang harus bertanggunjawaab melepaskan kelamin sejoli itu yang tidak bisa dicabut. Kemenyan pun dibakar di bawah ranjang sejoli itu. Perlahan laki-laki itu mengangkat tubuhnya berjongkok menutupi mukanya. Begitu pula dengan gadis yang ditindihnya. Akhirnya mereka ketahuan. Mereka bukan warga kampung Sued. Mereka warga luar desa yang bermesuman di kampung Sued. Terpaksa mereka mencium kaki Sued meminta ampun.

Takut aibnya menyebar, Sued memberikan pakaian bagi mereka. Lalu mereka langsung dipanggil ke rumah lurah untuk dinikahkan agar tidak mencoreng nama baiknya dan nama baik desanya sendiri serta kampung Sued.

***

Pasca perkawinan itu, berselang beberapa hari. Sued penasaran dengan bambu itu. Ia pun berencana akan berkunjung ke rumah Suto, sesepuh kampungnya. Ia mangajak Emmok. Waktu dan hadiah untuk Suto atas keberhasilannya pun disiapkan.

Dengan pakaian rapi mereka berdua menuju kediaman Suto. Dengan penuh semangat, Suto menyambutnya. Rasa senang menyambut Sued terpancar dari raut wajahnya. Lalu Sued dan Emmok dipersilahkan duduk. Kemudia mereka menanyakan perihal bambu pada Suto. Dengan penuh kenangan dan helaian nafas tua renta Suto menceritakan perihal bambu itu.

Suatu ketika Suto pernah memukul seekor anjing yang sedang menyetubuhi kucingnya. Lalu memukulnya dengan bambu yang ada di sebelah pintunya. Setelah kejadian itu, datang pak Addul, teman sejawatnya. Suto menceritakan kejadian itu. Kemudian Addul menyuruh untuk menyimpan bambu yang digunakan memukul anjing itu. Katanya kalau dibuat sanggher dan jika sanggher itu ditiduri orang yang berbuat zina, alat kelaminya tidak akan lepas dan mereka tidak akan sadar jika tidak dibakari kemenyan putih.

Mendengar cerita itu, Sued dan Emmok menghela nafas dan kagum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu mereka berterimakasih pada Suto dan memberikan hadiah padanya. Mereka langsung bergegas ke sawah Emmok untuk mengambil beberapa sanggher yang dipasang beberapa hari lalu untuk disimpan serta dikembalikan sebagian pada Suto, dan menyisakan satu sanggher di warungnya sebagai azimat.

Surabaya, 04 Maret 2013

* Penulis Bergiat di Komunitas Sastra IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Bergabung di Pondok Budaya Ikon Surabaya.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

http://www.riaupos.co/spesial.php?act=full&id=1087&kat=1#.UU7A9zdu6uY


[1] Sanggher merupakan bambu yang dibelah menjadi beberapa belahan dengan ukuran lebar dua jari orang dewasa dianyam dan dipaku dengan jarak pisah dua sentimeter, biasanya dijadikan alas penopang kasur, ranjang, dan warung di sawah. Benda ini banyak terdapat di daerah pedesaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: