Romantika Cinta Dalam Pesantren

Junaidi Khab's Picture

Junaidi Khab’s Picture

Judul          : Salahkah Bila Aku Mencintaimu

Penulis       : Achmad Faizur Rosyad

Penerbit       : Lintang Sastra (2008)

Tebal          : 167 halaman

Peresensi    : Junaidi Khab*

Sayup-sayup namun terdengar jelas, dari rumah depan kudengar lagu “Kosong” yang dinyanyikan Dewa:

            Kamu seperti hantu terus menghatuiku. Kemanapun tubuhku pergi, kau terus membayangi aku. Salahku, biarkan kamu bermain dengan hatiku. Aku tak bisa memusnahkan kau dari pikiranku ini. Di dalam keramaian aku masih merasa sepi. Sendiri memikirkan kamu. Kau genggam hatiku, dan kau tuliskan namamu.

            Malam ini bulan masih berlabuh bersama bintang diiringi awan. Aku sendiri bersama awan dan bintang-bintang duduk sepi. Tapi yang kutemukan hanyalah wajah Adhitya. Aku ingin Adhitya hadir dan menemaniku. Adhitya… Namamu benar-benar  telah terukir di dalam hatiku. Guratan-guratan cinta dan coretan-coretan kehangatan telah melintasi batas kesadaranku. Aku bermimpi… Aku hanya berkhayal berangan-angan… Andaikan semua menjadi kenyataan. Malam ini daun yang luruh di wajahku menyadarkanku akan kesendirian ini.

            Malam semakin bergulir sudah ada suara adzan. Terdengar merdu berkumandang. Aku sucikan wajahku. Aku siapkan hatiku untuk bermunajat kepada tuhan. Aku hamparkan hatiku untuk mengharapkan keajaiban. Setelah aku baca ayat-ayat al-Qur’an, aku siapkan waktu untuk melanjutkan menulis lembaran cintaku hanya untuk Adhitya. Surat cinta yang hanya aku simpan di laci, untuk dambaan hati. Goresan-goresan cinta tercipta tanpa ada yang menikmati. Aku berharap suatu saat goresan tinta ini menjadi berarti.

            Tak kusangka, sudah dua puluh menit aku pandangi Hp-ku. Setengah jam yang lalu Adhitya menelponku.dia ingin bertemu denganku dan berbicara khusus empat mata. Hatiku berdebar-debar jantungku bergetar. Antara senang dan cemas, antara rindu dan khawatir , antara kegembiraan dan ketakutan berbaur menjadi satu. Aku ingat wajahnya yang lembut penuh pengertian. Sikapnya yang tegas penuh wibawa.

            Aku juga pernah punya cowok idaman selain Adhitya, orangnya sangat manis. Kami bersikap seolah-olah tidak berpacaran, jaim gitchu… Di kelas, di halaman, di rumah, di kos, dimanapun kami hanya saling pandang sebentar dan tersenyum, tidak lebih. Kami hanya merasakan hal istimewah ketika saling pandang, saling bertemu, dan salaing bercakap-cakap. Enam bulan kemudiandatang seorang cewek mendekati dia, akhirnya kita membentuk cinta segitiga. Dia lebih baik dan lebih cantik dariku. Aku yakin dia memiliki perasaan yang sama dengan cewek itu.

            Tapi dia mengatakan bahwa dia hanya berkenalan dengan cewek itu, hanya teman baru.aku tidak percaya. Gosip  antara dia dan cewek baru itu lebih santer dibandingkan gosip antara aku dan dia. Mungkin salahku, aku terlalu jaga imej di hadapannya. Aku bergaya tidak butuh dan tidak memperhatikan dia, meskipun hatiku berbinar-binar luar biasa.

            Setelah setahun, Tsubasha, seorang pemain bola handal dalam film kartun, akhirnya menjadi tokoh idolaku. Hal ini karena ada temanku yang memiliki wajah seperti dia. Setiap kali nonton film kartun Tsubasha, aku selalu berada di depan layar kaca. Memandang Tsubasha  seperti memandang teman sekolahku. Dia mendapat sebutan pria berwajah komik. Wajahnya bersih, matanya lebar, mulutnya mungil, pipinya simpluk, dan rambutnya kaku kayaknya ilalang di tanah lapang. Saat itu aku masih kelas I SMU. Dia membuat aku begitu simpati kepadanya. Dia masih kelas II. Kali pertama melihat dia aku pengen ketawa-ketiwi sendiri. Lucu banget deh. Karena wjahnya mirip komik, orangnya pandai dan manis sekali. Awalnya aku adalah cewek paling anti dengan komik, apalagi komik sepak bola. Namun setelah mendapatkan teman berwajah komik. Aku jadi gila sama komik.

            Dia mampu mengisi hari-hariku yang tidak istimewah menjadi sangat berguna. Setiap kali melihat dia aku senang. Ruang kelas seakan-akan penuh sesak dengan bunga teriring senyumnya yang mengembang. Aku sering curi-curi pandang. Meskipun hanya dari kejauhan aku happy banget. Tidak ada yang terindah selain selain melihat raut mukanya ketika cemberut, marah dan tersenyum merekah.

            Sungguh menakjubkan isi buku yang ditulis oleh cak Achmad Faizur Rosyad, begitu banyak kata-kata indah yang terangkum, terukir mewah dengan lantunan bahasa dan kata-kata yang begitu menggoda hati, selain kata-kata itu, juga cerita-cerita yang tersirat ada banyak sangkut pautnya dengan kehidupan kita yang penuh dengan kegembiraan, kesedihan, keakraban, kesetiaan, dan keromantisan hidup. Layaknya buku ini memberikan kesan dan pesan yang cukup menarik dalam kehidupan ini, dan kita sepertinya tidak akan bisa terlepas dari benang-benang cinta yang telah atau akan meliliti hati kita. Dan juga buku ini bisa dijadikan bahan rujukan untuk membuat sebuah karangan seperti halnya puisi, cerpen, novel, dan lain sebagainya dengan kata-kata yang bisa menarik simpati orang lain.

* Penulis adalah Mahasantri Pondok Pesantren Al-in’am Banjar Timur Gapura Sumenep Madura.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: