Makalah Aklhlak Tasawuf

KATA PENGANTAR

Puji syukur tiada tara kami ucapkan kepada kehadirat Allah Swt., karena telah memberikan kemampuan dan waktu kepada kami untuk menyelesaikan penulisan tugas makalah ini dalam kurun waktu yang cukup. Salawat beserta salam semoga tetap mengalir deras kepada junjungan kita, yakni baginda rasul Muhammad Saw., karena dengan diutusnya beliau kita bisa keluar dari alam kebodohan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan..

Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua sebagai salah satu sumber pelajaran bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa program studi Sastra Inggris (SI). Apa yang disajikan dalam makalah ini hanyalah merupakan garis besar materi kuliah. Untuk memperluas dan memperdalam wawasan dalam dalam bidang ini diharapkan mahasiswa membaca berbagai referensi yang relevan, terutama dengan membaca buku-buku yang dijadikan acuan dalam penulisan makalah ini.

Kami menyadari dan mengakui sebagai manusia biasa kita tidak akan bisa lepas dari sifat salah dan egois. Kami juga mengakui, mungkin banyak kelemahan yang terdapat dalam makalah ini, baik yang menyangkut isi, pengungkapan, maupun sistematika penulisan. Untuk itu, agar pencapain kami dalam dunia pendidikan dan kepenulisan yang baik dan benar, maka saran serta kritik yang konstruktif senaantiasa kami harapkan.

                                                                                     Surabaya, 05 April 2011

                                                                                     Penulis

DAFTAR ISI

Halaman judul ………………………………………………..……..…………..

Kata pengantar …………………………………………………………………………………….….i

Daftar isi …………………………………………………………………………………………………ii

Pengertian hulul……………………………………………………………………………………..01

Pengertian wahdat al-wujud……………………………………………………………………04

Penjelasan para ulama tentang kesesatan wahdatul wujud dan hulul………………………………………………………………………………………………………07

Kesimpulan…………………………………………………………………………………………….10

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………11

WAHDATUL WUJUD DAN HULUL

 A. Pengertian Hulul

Hulul secara etimologis berasal dari kata hall-yahull-hulul berarti berhenti atau diam. Secara harfiyah hulul adalah Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana.[1] Menurut Abû Manshûr al-Hallaj dalam tasawuf filosofis menyatakan bahwa hulûl adalah pengalaman spiritual seorang sufi sehingga ia dekat dengan Allah, lalu Allah memilih kemudian menempati dan menjelma padanya. Konsep hulûl dibangun di atas landasan teori lâhût dan nâsût. Lahut berasal dari perkataan ilaah yang berarti tuhan, sedangkan lahut berarti sifat ketuhanan. Nâsût berasal dari perkatan nâs yang berarti manusia; sedangkan nasut berarti sifat kemanusiaan. Al-Hallaj mengambil teori hulul dari kaum Nasrani yang menyatakan bahwa Allah memilih tubuh Nabi Isa, menempati, dan menjelma pada diri Isa putra Maryam. Nabi Isa menjadi Tuhan, karena nilai kemanusiaannya telah hilang. Hulul Allah pada diri Nabi Isa bersifat fundamental dan permanen.

Sedangkan hulul Allah pada diri al-Hallaj bersifat sementara; melibatkan emosi dan spiritual; tidak fundamental dan permanen. Al-Hallaj tidak menjadi Tuhan dan tidak menyatakan Tuhan, kecuali ucapan yang tidak disadarinya (syathahat). Al-Hallaj tidak kehilangan nilai kemanusiannya. Ia hanya tidak menyadarinya selama syathahat. Adapun tazkiyat al-nafs adalah langkah untuk membersihkan jiwa melalui tahapan maqâmât hingga merasakan kedekatan dengan Allah dan mengalami al-fana’ ‘an al-nafs. Out put dari tazkiyat al-nafs adalah lâhût manusia menjadi bening, sehingga bisa menerima hulûl dari nâsût Allah.

Keyakinan wahdatul wujud (meyakini bahwa semua yang ada ini hanya satu)
dan i’tiqad bahwa Allah menjelma (hulul) pada makhluk-Nya, maka semua keyakinan
ini adalah kufur dan mengeluarkan seseorang dari Islam. Wujud hanyalah satu, meskipun kelihatannya banyak. Wujud yang satu itu berkulit dan berisi, ada kenyataan lahir dan batin. Wujud ini mempunyai tujuh martabat: Pertama, Ahadiyah, hakikat sejati dari Allah. Kedua, Wahda, hakikat dari Muhammad. Ketiga, Wahdiyah, hakikat dari Adam. Keempat, Alam Arwah, hakikat dari nyawa. Kelima, Alam Mitsak, hakikat dari segala bentuk. Keenam, Alam Ajsam, hakikat dari tubuh. Ketujuh, Alam Insan, hakikat dari manusia.

Semuanya berkumpul pada yang satu. Itulah Ahadiyah, itulah Allah dan itulah aku.[2] Keyakinan hululiyyah dan ittihadiyyah (keyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya) merupakan jenis kekufuran yang paling buruk. Sama halnya dengan bentuk yang khusus seperti orang-orang yangberkeyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla menitis kepada `Isa Alaihissallam, kepada`Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu `anhu dan sebagian anak cucunya, kepadasebagian raja-raja atau syaikh-syaikh, dan orang yang memiliki bentuk fisik yang indah, atau yang lainnya dari perkataan yang lebih parah kesesatannya dariperkataan kaum Nasrani. Orang-orang yang berkeyakinan sesat tersebut berpendapat bahwa hulul dan ittihadnya Allah adalah dalam segala perwujudan hingga meliputi anjing, babi, atau benda-benda najis.

Hal tersebut seperti keyakinan orang-orang Jahmiyah dan orang-orang yang mengikuti keyakinan tersebut, seperti Ibnu `Arabi, Ibnu Sab’in, Ibnul Faridh, Tilmisani, Balyani, dan selainnya. -Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan. Sedangkan jalan para Nabi dan orang-orang yang mengikutinya dari orang-orang Mukmin, berkeyakinan bahwa Allah adalah Yang menciptakan alam semesta, Rabb Penguasa langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya, Rabb Pemilik`Arsy yang agung, dan seluruh makhluk adalah hamba-Nya dan semuanya butuh kepada-Nya. Allah Swt. berfirman: “Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” [Al-Faathir: 15] Juga firman-Nya. “Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan.” [Al-Ikhlash: 2]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit, bersemayam di `Arsy-Nya, berpisah dari makhluk-Nya.Meskipun demikian Allah tetap bersama para makhluk-Nya di mana pun mereka berada. Sebagai-mana firman Allah dalam surat al-Hadiid.

Pada tahun 301 H/913 M al-Hallaj[3] masuk penjara Baghdad selama 8 tahun karena dituduh terlibat makar dan nodai kesucian agama. Setidaknya ada empat tindakan subversif yang dituduhkan kepadanya. Pertama, ia dituduh memiliki hubungan politik dengan kaum Qarâmithah, gerakan bawah tanah yang hendak menggulingkan pemerintah Abbasiyyah. Kedua, keyakinan al-Hallaj yang mengaku dirinya Tuhan, ketika mengalami syathahât. Ketiga, keyakinan al-Hallaj bahwa ibadah haji bukanlah kewajiban agama yang penting. Dan keempat, keyakinan al-Hallaj tentang wahdat al-adyân (kesatuan agama).

Amnesti untuk al-Hallaj tidak terlaksana karena sikap Perdana Menteri yang menghalanginya. Kasus al-Hallaj diputuskan di Mahkamah Syari’ah dengan vonis hukuman mati dan dieksekusi dengan disalib pada tiang gantungan tahun 309 H/922 M. Saya memandang hukum mati yang diberlakukan kepada al-Hallaj lebih karena faktor politik karena sejarah peradaban Islam sangat didominasi oleh politik.

B. Pengertian Wahdat al-Wujud

Wujûd atau wahdat al-wujûd (dalam terjemahan bebas berarti kesatuan wujud) menurut mutakallim (teolog) adalah sifat wajib bagi Tuhan. Maka Ia memiliki wujud, alam memiliki wujud. Jadi, ada dua wujud, wujud Tuhan dan wujud alam. Wujud Tuhan mutlak dan absolut, wujud alam relatif dan nisbi. Sedangkan wujud menurut Ibn ‘Arabî adalah pandangan bahwa satu-satunya yang ada di alam ini hanya Allah. Dilihat dari satu sisi yang lain-manusia, dunia, dan seluruh keberadaan fenomenal lainnya-tidak benar-benar ada. Artinya, semua itu dan berada secara terpisah dari-dan, sebaliknya, sepenuhnya tergantung kepada Allah. Selain itu juga, wahdat al-wujûd dipahami dengan dua pemahaman. Pertama, wujud alam adalah wujud Allah, wujud makhlûq adalah wujud khâliq.

Segala yang ada adalah pengejawantah-Nya. Wahdat al-wujûd dipandang sama dengan panteisme, paham serba Tuhan. Namun, paham ini mendapat banyak kritikan dari sebagian besar para ulama yang salah satunya adalah Ibn Taymiyyah. Kedua, wahdat al-wujûd dipahami bahwa Tuhan tercermin pada alam dan alam cermin Tuhan. Al-Haqq, Tuhan Yang Maha Benar, ber-tajallî. Alam ciptaan Allah adalah tempat tajallî Tuhan (مظهر إلهي). Al-Khalq tidak memiliki wujud hakikat (yang sebenarnya), ia tergantung kepada al-Haqq, wujud yang mutlak atau wujud yang absolut. Adapun korelasi antara ittihâd, hulûl, dan wahdat al-wujûd adalah persamaan pada tataran esensi yang manifestasinya berbeda dalam bentuk bahasa.

Wahdatul wujud adalah kemuncak Tauhid. Allah Swt. adalah wajib wujud tanpa permulaan dan kesudahan. Begitu juga diartikan dari ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat dan wujud, wahdat artinya sendiri, satu, sendiri. Sedangkan wujud yaitu ada. Dengan demikian wahdatul alwujud berarti kesatuan ada.[4] Dialah puncak segala wujud kerana selain dari-Nya adalah ciptaanNya. Wujud Allah Swt. bukan jisim, bukan arah dan bukan benda. Apabila hakikat ini dilihat dalam keadaan syuhud di maqam fana, maka nyatalah apa yang dipikirkan akal adalah benar sebenar-benarnya.

Wahdatul wujud mengatakan bahawa hakikat wujud adalah satu iaitu ujud Allah Swt. yang lain yaitu alam dan makhluk tiada hakikat bagi ujudnya. Ia ibarat ujud bayang yang tidak mungkin ujud tanpa empunya bayang-bayang. Maka Allah Swt. wujud yang wahid dan wahdatul wujud. Firman Allah Swt. yang bermaksud “Sesungguhnya Allah, tiada suatu jua sertanya”.

Wahdatul wujud hanya dapat dinikmati melalui syuhud. Nikmatnya Tauhid hanya melalui perasaan hati bukan akal. Akal hanya pintu pengenalan sahaja. Syuhud yang kuat mendatangkan fana. Fana hamba tiada melihat alam yang beragam ini ujud hakiki. Fana hamba kepada Tuhannya itulah hakikat wahdatul wujud.

Ketika fananya hamba, Allah Swt. sahaja yang wujud. Maka timbul lagi istilah yang mendalam selain wahdatul wujud yaitu ittihad dan hulul. Ittihad berarti Allah dan hamba adalah satu. Hulul berarti Allah menjelma ke dalam manusia.

Hulul ialah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempa di dalamnya, setelah sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan.[5] Hulul hanya istilah untuk menggambarkan fananya hamba kepada Allah Swt. Ketika fana nyata baginya hakikat wahdatul wujud yang sebenarnya yang selama ini hanya bermain di akal. Apabila hilang ingatan kepada yang lain, maka Allah Swt. saja yang menguasai diri maka atas gambaran kalimat bahasa, disusunlah ayat bahwa ketika itu Allah dan manusia adalah satu, yakni satu dalam hakikat wujud dan satu dalam ingatan hamba. Dan Allah Swt. itu menjelma ke dalam hamba yaitu yang menjadi materi wujud hamba. Demikianlah mendalamnya maksud.

Maka jika wahdatul wujud, dan hulul diartikan dengan selain dari arti dan jalan maksud ahli sufi, ia akan mengundang kesesatan dan kesalahan, juga pertikaian. Artinya sesuatu itu haruslah diambil artinya dari tuan yang mengeluarkannya. Jika yang mengeluarkan ilmu mengenai wahdatul wujud, ittihad dan hulul itu dari ahli sufi, maka rujuklah kepada ahli sufi itu.

Contoh teladan kehidupan menunjukkan, sakit barah haruslah dirujuk kepada dokter yang mahir dengan sakit barah. Merujuk kepada doktor gigi adalah menampakkan kebodohan pesakit itu sendiri. Maka tiadalah heran jika wahdtul wujud, dan hulul dimomokkan sebagai istilah sesat hanya kerana salah tempat rujukan.

Memang jika seseorang akan berobat dan menyelesaikan masalah penyakit atau problem yang menimpanya, maka harus dibawa ke seseorang yang memang ahlinya. Jika kita salah orang dalam membantu menyelesaikan problemnya, maka bukan penyelesaian yang didapat, melainkan tambah parah dari apa yang telah diderita sebelumnya.

Untuk itu, kita jangan samapai salah memhami atau mengikuti sebuah paham atau pendapat seseorang agar kehidupan kita nyaman dan tidak sesat. Pemahaman seseorang memanga tidak harus sama, namun juga yang sama dengan pendapat kita. Kita harus memilah dan memilih dalam mengikuti sebuah paham atau pendapat seseorang, kita perlu mengkaji lebih mendalam dulu sebelum menjadikan pendapat tersebut sebagai panutan kita.

 C. Penjelasan Para Ulama Tentang Kesesatan Wahdatul Wujud dan Hulul

Hulul, inkarnasi. Kata ini mengisyaratkan “penitisan” Tuhan dalam diri manusia berupa masuknya sesuatu pada sesuatu lainnya. Inkarnasi (hulul) dipandang dipandang sebagai ajaran-ajaran bid’ah yang dikecam oleh Kaum Allah−yakni, orang-orang yang tahu bahwa”sang hamba tetaplah hamba dan Tuhan tetaplah Tuhan”, betapapun dekatnya mereka satu sama lain, dan bahwa “hanya Allah yang mengetahui Allah, hanya Allah yang melihat Allah, dan hanya Allah yang menyembah Allah”. Dia yang fan dalam Allah bukanlah Allah itu sendiri. Kaum hululiyyah adalah para penganut ajaran “inkarnasi”.[6] Dalam tinjauan al-Hafiszh as-Suyuthi, keyakinan hulûl, ittihâd atau wahdah al-wujûd secara hitoris awal mulanya berasal dari kaum Nasrani. Mereka meyakini bahwa Tuhan menyatu dengan nabi Isa, dalam pendapat mereka yang lain menyatu dengan nabi Isa dan ibunya; Maryam sekaligus. Hulûl dan wahdah al-wujûd ini sama sekali bukan berasal dari ajaran Islam. Bila kemudian ada beberapa orang yang mengaku sufi meyakini dua akidah tersebut atau salah satunya, jelas ia seorang sufi gadungan. Para ulama, baik ulama Salaf maupun Khalaf dan kaum sufi sejati dan hingga sekarang telah sepakat dan terus memerangi dua akidah tersebut. (as-Suyuthi, al-Hâwî, juz 2, hlm. 130. Pembahasan lebih luas tentang keyakinan kaum Nasrani dalam teori hulûl dan Ittihâd lihat as-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, hlm. 178-183).

Al-Imâm al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi menilai bahwa seorang yang berkeyakinan hulûl atau wahdah al-wujûd jauh lebih buruk dari pada keyakinan kaum Nasrani. Karena bila dalam keyakinan Nasrani Tuhan meyatu dengan nabi Isa atau dengan Maryam sekaligus (yang mereka sebut dengan doktrin trinitas), maka dalam keyakinan hulûl dan wahdah al-wujûd Tuhan menyatu dengan manusia-manusia tertentu, atau menyatu dengan setiap komponen dari alam ini.

Demikian pula dalam penilaian Imam al-Ghazali, jauh sebelum as-Suyuthi, beliau sudah membahas secara gamblang kesesasatan dua akidah ini. Dalam pandangan beliau, teori yang diyakini kaum Nasrani bahwa al-lâhût (Tuhan) menyatu dengan al-nâsût (makhluk), yang kemudian diadopsi oleh faham hulûl dan ittihâd adalah kesesatan dan kekufuran (as-Suyuthi, al-Hâwî, juz. 2, hlm. 130). Di antara karya al-Ghazali yang cukup komprehensif dalam penjelasan kesesatan faham hulûl dan ittihâd adalah al-Munqidz Min adl-Dlalâl dan al-Maqshad al-Asnâ Fî Syarh Asmâ’ Allah al-Husnâ. Dalam dua buku ini beliau telah menyerang habis faham-faham kaum sufi gadungan. Termasuk juga dalam karya fenomenalnya, Ihyâ ‘Ulumiddîn.

Imam al-Haramain dalam kitab al-Irsyâd juga menjelaskan bahwa keyakinan ittihâd berasal dari kaum Nasrani. Kaum Nasrani berpendapat bahwa ittihâd hanya terjadi hanya pada nabi Isa, tidak pada nabi-nabi yang lain. Kemudian tentang teori hulûl dan ittihâd ini kaum Nasrani sendiri berbeda pendapat, sebagain dari mereka menyatakan bahwa yang menyatu dengan tubuh nabi Isa adalah sifat-sifat ketuhanan. Pendapat lainnya mengatakan bahwa dzat tuhan menyatu yaitu dengan melebur pada tubuh nabi Isa laksana air yang bercampur dengan susu. Selain ini ada pendapat-pendapat mereka lainnya. Semua pendapat mereka tersebut secara garis besar memiliki pemahaman yang sama, yaitu pengertian kesatuan (hulûl dan ittihâd). Dan semua faham-faham tersebut diyakini secara pasti oleh para ulama Islam sebagai kesesatan.[7]

Dalam tinjauan Imam al-Ghazali, dasar keyakinan hulûl dan ittihâd adalah sesuatu yang tidak logis. Kesatuan antara Tuhan dengan hamba-Nya, dengan cara apapun adalah sesuatu yang mustahil, baik kesatuan antara dzat dengan dzat, maupun kesatuan antara dzat dengan sifat. Dalam pembahasan tentang sifat-sifat Allah, al-Ghazali menyatakan memang ada beberapa nama pada hak Allah yang secara lafazh juga dipergunakan pada makhluk. Namun hal ini hanya keserupaan dalam lafazhnya saja, adapun secara makna jelas berbeda. Sifat al-Hayât (hidup), misalkan, walaupun dinisbatkan kepada Allah dan juga kepada manusia, namun makna masing-masing sifat tersebut berbeda. Sifat hayat pada hak Allah bukan dengan ruh, tubuh, darah, daging, makanan, minuman dan lainnya. Sifat hayat Allah tidak seperti sifat hayat pada manusia.

Imam al-Ghazali menuliskan bahwa manusia diperintah untuk berusaha meningkatkan sifat-sifat yang ada pada dirinya supaya mencapai kesempurnaan. Namun demikian bukan berarti bila ia telah sempurna maka akan memiliki sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah. Hal ini sangat mustahil dengan melihat kepada beberapa alasan berikut;

Pertama, Mustahil sifat-sifat Allah yang Qadîm (tidak bermula) berpindah kepada dzat manusia yang hâdits (Baru), sebagaimana halnya mustahil seorang hamba menjadi Tuhan karena perbedaan sifat-sifat dia dengan Tuhan-nya.

Kedua,  Sebagaimana halnya bahwa sifat-sifat Allah mustahil berpindah kepada hamba-Nya, demikian pula mustahil dzat Allah menyatu dengan dzat hamba-hamba-Nya. Dengan demikian maka pengertian bahwa seorang manusia telah sampai pada sifat-sifat sempurna adalah dalam pengertian kesempurnaan sifat-sifat manusia itu sendiri. Bukan dalam pengertian bahwa manusia tersebut memiliki sifat-sifat Allah atau bahwa dzat Allah menyatu dengan manusia tersebut (hulûl dan ittihâd) .

D.    Kesimpulan

Wahdat wujud adalah kemuncak Tauhid. Allah Swt. adalah wajib wujud tanpa permulaan dan kesudahan. Hulul adalah pengalaman spiritual seorang sufi sehingga ia dekat dengan Allah, lalu Allah memilih kemudian menempati dan menjelma padanya.

Keyakinan wahdatul wujud (meyakini bahwa semua yang ada ini hanya satu)
dan i’tiqad bahwa Allah menjelma (hulul) pada makhluk-Nya, maka semua keyakinan
ini adalah kufur dan mengeluarkan seseorang dari Islam. Wujud hanyalah satu, meskipun kelihatannya banyak. Wujud yang satu itu berkulit dan berisi, ada kenyataan lahir dan batin. Wujud ini mempunyai tujuh martabat: Pertama, Ahadiyah, hakikat sejati dari Allah. Kedua, Wahda, hakikat dari Muhammad. Ketiga, Wahdiyah, hakikat dari Adam. Keempat, Alam Arwah, hakikat dari nyawa. Kelima, Alam Mitsak, hakikat dari segala bentuk. Keenam, Alam Ajsam, hakikat dari tubuh. Ketujuh, Alam Insan, hakikat dari manusia.

Dari pernyataan para ulama sufi di atas tentang aqidah hulul dan wahdah al-wujud dapat kita tarik kesimpulan bahwa kedua aqidah ini sama sekali bukan merupakan dasar akidah kaum sufi. Sama sesatnya dengan orang-orang berkayakinan hulul atau wahdah al-wujud adalah orang-orang yang berkeyakinan bahwa Allah bertempat di langit atau bertempat di atas arsy, karena bila demikian maka berarti Dia berada pada makhluk-Nya sendiri.

Hindari dan waspadai keyakinan Wahhabi yang mengatakan Allah bertempat di langit, pada saat yang sama mereka juga mengatakan di arsy, di dua tempat. Yang mengherankan: Mereka yakin bahwa arsy dan langit adalah makhluk Allah, tapi mereka mengatakan bahwa Allah bertempat pada keduanya, di mana akal mereka.


DAFTAR PUSTAKA

Solihin. 2005. Akhlak Tasawuf. Nuansa. Bandung

Chittick, William. 2002. Tasawuf Di Mata Kaum Sufi. Mizan. Bandung

Amstrong, Amatullah. 1995. Kunci Memasuki Dunia Tasawuf. Mizan. Bandung

Nata, Abuddin. 2009. Akhlak Tasawuf. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Fathurrahman, Oman.1999. Menyoal Wahdatul Wujud. Mizan Bandung

Nasution, Harun. 1990. Falsafat dan Mistisme dalam Islam. PT. bulan Bintang. Jakarta

Mustofa. 1999. Akhlak Tasawuf. CV. Lingkar Setia. Bandung


[1] Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), 2009, hlm. 239. (Lihat A. Qadr Mahmud, hlm. 337.

[2] Solihin, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Nuansa), 2005, hlm. 232. (Lihat Hamka: Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya).

[3] Seorang tokoh sufi Yunani yang hidup pada zaman setelah sahabat

[4] Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), 2009, hlm. 247.

[5] Mustofa. Akhlak Tasawuf. (Bandung , CV. Lingkar Setia). 1999. hlm, 269.

[6] Amstrong, Amatullah,  Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, (Bandung: Mizan), 1996, hlm. 101. (Lihat: Hu, ittihad, jam’ al-jam, sama’, wasahl).

[7] As-Suyuthi, al-Hâwî, juz. 2, hlm. 130, mengutip dari Imam al-Haramain dalam al-Irsyâd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: