Makalah Ilmu Kalam

KATA PENGANTAR

Puji syukur tiada tara kami ucapkan kepada kehadirat Allah Swt., karena telah memberikan kemampuan dan waktu kepada kami untuk menyelesaikan penulisan tugas makalah ini dalam kurun waktu yang cukup. Salawat beserta salam semoga tetap mengalir deras kepada junjungan kita, yakni baginda rasul Muhammad Saw., karena dengan diutusnya beliau kita bisa keluar dari alam kebodohan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan..

Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua sebagai salah satu sumber pelajaran bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa program studi Sastra Inggris. Apa yang disajikan dalam makalah ini hanyalah merupakan garis besar materi kuliah. Untuk memperluas dan memperdalam wawasan dalam dalam bidang ini diharapkan mahasiswa membaca berbagai referensi yang relevan, terutama dengan membaca buku-buku yang dijadikan acuan dalam penulisan makalah ini.

Kami menyadari dan mengakui sebagai manusia biasa kita tidak akan bisa lepas dari sifat salah dan egois. Kami juga mengakui, mungkin banyak kelemahan yang terdapat dalam makalah ini, baik yang menyangkut isi, pengungkapan, maupun sistematika penulisan. Untuk itu, agar pencapain kami dalam dunia pendidikan dan kepenulisan yang baik dan benar, maka saran serta kritik yang konstruktif senaantiasa kami harapkan.

                                                                                 Surabaya, 07 Desember 2011

                                                                                  Penulis

DAFTAR ISI

Halaman judul ……………………………………..………..……..…………

Kata pengantar …………………………………………………………………………………….i

Daftar isi ……………………………………………………………………………………………..ii

BAB I PENDAHULUAN………………………….…….………………….01

BAB II PEMBAHASAN

  1. Riwayat Singkat Ibnu Taimiyah……………………………………………………02
  2. Keilmuan Ibnu Taimiyah……………………………………..……….02
  1. Ibnu Taimiyah dan Tasawuf …………………………..………………03
  1. Pemikiran Teolog Ibnu Taimiyah……………………………………..05
  2. Pemikiran Kontrofersi Ibnu Taimiyah…………………………………06

BAB III PENTUTP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………..08

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………….09

BAB I

 A.    Pendahuluan

Dalam sejarah panjang pemikiran Islam, ada banyak “kata” yang seringkali dianggap saling berbenturan dan membentuk sebuah efek paradoksal. “Kata” itu bisa saja mewakili sebuah kelompok pemikiran (firqah), seorang tokoh, atau juga sebuah pemikiran tertentu. Diantara deretan “kata-kata” yang saling paradoks itu mungkin tidak salah jika kita menyebut “Ibnu Taimiyah” (sosok tokoh pemikiran penting abad 7 H) dan “Tasawuf” (sebuah aliran pemikiran yang sudah lama berkembang) sebagai salah satu contohnya.

Dalam pandangan sebagian kalangan, kedua kata ini –Ibnu Taimiyah dan Tasawuf- dipandang sebagai dua unsur yang tak mungkin bersatu. Ini tentu tidak mengherankan, sebab Ibnu Taimiyah telah lama dianggap sebagai salah satu tokoh yang membenci, memusuhi, dan melontarkan kritik-kritik tajamnya terhadap Tasawuf. Pandangan ini tentu saja semakin menyempurnakan gambaran kekerasan pada tokoh yang satu ini. Sehingga –bagi mereka yang tidak memahami dengan baik- setiap kali mendengarkan kata “Ibnu Taimiyah”, maka opini dan image yang tercipta adalah kekerasan, kekejaman, permusuhan, dan yang semacamnya.

Hal-hal itulah diantaranya yang menjadi alasan pemunculan tulisan ini. Pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran “permusuhan” Ibnu Taimiyah dan Tasawuf akan berusaha dijelaskan melalui tulisan ini. Tentu saja dengan merujuk langsung pada karya-karya yang diwariskan oleh Ibnu Taimiyah untuk peradaban manusia.


BAB II

PEMBAHASAN

 A.    Riwayat Singkat Ibnu Taimiyah

Nama lengkap Ibnu Taimiyah adalah Taqiyuddin Ahmad bin Abi Al Halim bin Taimiyah. Dilahirkan di Harran pada hari senin tanggal 10 Rabi’ul Awwal tahun 661 H dan meninggal di penjara pada malam senin tanggal 20 Dzul Qaidah tahun 729 H. Ayahnya bernama Syihabuddin Abu Ahmad Abdul Halim bin Abdussalam Ibn Abdullah bin Taimiyah, seorang khatib dan hakim di kotanya[1].

Ibnu Taimiyah adalah murid yang muttaqi, wara, dan zuhud, serta seorang panglima dan penentang bangsa Tartas yang berani. Selain itu ia dikenal sebagai orang muhaddits mufassir, fiqih, teolog, bahkan memiliki pengetahuan luas tentang filsafat. Ia telah mengkritik khalifah Umar dan khalifah Ali bin Abi Thalib. Ia juga menyerang Al-Ghazali dan Ibn Arabi. Kritikannya ditujukan pula kepada kelompok-kelompok agama sehingga membangkitkan kemarahan para ulama’ sezamannya. Berulang kali Ibn Taimiyah masuk penjara hanya karena bersengketa dengan para ulama’ sezamannya.

Ibnu Taimiyah terkenal sangat cerdas sehingga pada usia 17 tahun, ia telah dipercaya masyarakat untuk memberikan pandangan-pandangan mengenai masalah hukum secara resmi. Dikatakan oleh lawan-lawannya, bahwa pemikiran Ibn Taimiyah sebagai klenik, antropomorpisme, sehingga pada awal 1306 M Ibn Taimiyah dipanggil ke kairo kemudian dipenjarakan.

Kelahirannya terjadi lima tahun setelah bagdad dihancurkan pasukan Mongol, Hulagu Khan. Oleh sebab itu, dalam upayanya mempersatukan umat islam, mengalami banyak tantangan, bahkan ia harus wafat di dalam penjara.

 B.     Keilmuan Ibnu Taimiyah

Semenjak kecil sudah terlihat tanda-tanda kecerdasannya. Begitu tiba di Damaskus, ia segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, hafizh dan ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang. Ketika umurnya belum mencapai belasan tahun, ia sudah menguasai ilmu ushuluddin dan mendalami bidang-bidang tafsir, hadits, dan bahasa Arab. Ia telah mengkaji Musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian Kutubu Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali ketika ia masih kanak-kanak, pernah ada seorang ulama besar dari Aleppo, Suriah yang sengaja datang ke Damaskus khusus untuk melihat Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, iapun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya, sehingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah sepertinya”.

Sejak kecil ia hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama sehingga mempunyai kesempatan untuk membaca sepuas-puasnya kitab-kitab yang bermanfaat. Ia menggunakan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar dan menggali ilmu, terutama tentang Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

 C.    Ibnu Taimiyah dan Tasawuf

Sering kita mendengar bahwa Ibnu Taimiyah itu anti tasawuf dan penentang sufi, padahal kalau diperhatikan dari sikap dan pandangannya dia adalah seorang sufi dan pengikut ajaran tasawuf suni (yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah), meskipun ia tidak mengistilahkan ajaran tasawuf dengan istilah tersebut. Istilah yang sering dipakai oleh Ibnu Taimiyah adalah istilah suluk, akan tetapi substansinya adalah apa yang ada pada ajaran tasawuf.

Suluk menurut Ibnu Taimiyah merupakan kewajiban setiap mukmin, seperti yang diungkapkannya dalam kitab Fatawanya. “Suluk adalah jalan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya berupa itikad, Ibadah dana Akhlak. Semua ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunah, dan suluk ini kedudukannya seperti makanan yang menjadi keharusan seorang mukmin”. Diantara kata-kata Ibnu Taimiyah mengenai tasawuf adalah “amal-amal hati yang diberi nama maqâmât dan ahwâl seperti: cinta kepada Allah dan Rasulnya, tawakal, Ikhlas, sabar, syukur, khauf dan semacamnya adalah kewajiban setiap maklhuk, baik kaum khâs atapun orang-orang awam”.

Kesufian Ibnu Taimiyah tidak hanya terbukti dari keilmuannya saja akan tetapi perbuatan dan sikapnya telah membuktikan akan semua ini. Adz-Dzahabi pernah bercerita bahwa dia tidak pernah menemukan orang yang banyak berdoa dan bertawajuh kepada Allah melebihi Ibnu Taimiyah. Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Madarus Salikin banyak bercerita tentang Ibnu Taimiyah dalam kerohanian. Dalam kitab Kawakibud Duriyah bahwa Ibnu Taimiyah pada malam hari sering menyepikan diri dari manusia, dia hanya sibuk dengan tuhannya, banyak bermunajat dan membaca Al-Qur’an.

Sedang ke zuhudan dan ketawaduan Ibnu Taimiyah adalah tauladan yang baik, dalam hal ini terbukti dengan kata-katanya, “Aku tidak punya apa-apa, dariku tak ada apa-apa dan padaku tak ada apa-apa”. Itulah pribadi Ibnu Taimiyah dalam suluk dan kerohaniannya, cukuplah kiranya Ibnu al-Qayyim dan karyanya Madarus Salikin sebagai bukti tarbiah Ibnu Taimiyah dalam konteks kesufian.

Tidak hanya itu, Ibn Taimiyah dan murid-muridnya sangat mempercayai adanya karamah para wali. Di sini Baduruddin al-Aini berkata tentang Ibnu taimiyah, “Di samping kemuliaan dan ketinggian Ilmunya, beliau (ibnu Taimiyah) juga mempunyai karamah yang tidak diragukan lagi seperti yang ku dengar dari banyak orang”.

Ibnul Qayyim juga banyak bercerita tentang firasat (mukasyafah) Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, “Aku telah menyaksikan firasat Syaikhul Islam dari hal-hal yang menabjubkan. Sedang hal yang tidak kusaksikan tentu lebih banyak dan lebih agung”.

Dengan demikian tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah dan kelompoknya anti ajaran Tasawwuf. Adapun kepercayaan-kepercayaan yang mengatas namakan sufi dan tasawwuf akan tetapi bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah tidak hanya Ibnu Taimiyah dan Madrasahnya yang menentang, para sufipun juga menentangnya.

Sebagai seorang intelektual wajar kalau Ibnu taimiyah sering melontarkan kritikan terhadap tokoh-tokoh lain, hanya saja kadang Ibnu taimiyah melampau batas dalam pandangan dan kritikannya sehingga menjadikan dia sebagai sosok yang kontrofersi.

 D.    Pemikiran Teologi Ibnu Taimiyah

Sejak awal mula Ibnu Taimiyyah menggeluti filsafat, tujuannya bukanlah untuk mendalami dan memahami ilmu ini untuk kemudian mengambil manfaat yang mungkin bisa diambil darinya. Akan tetapi sebaliknya untuk mencari sisi-sisi kesalahannya untuk kemudian merubuhkan bangunannya, karena dalam pandangannya filsafat telah menjadi semacam penyakit yang menyerang pemikiran orang-orang Islam, bahkan ia berpendapat bahwa sebelum seseorang mendalami akidah Islam.

Maka ia harus membersihkan diri dari segala hal yang berbau filasafat yang menurutnya dihasilkan dari kebohongan angan-angan dan bayangan, sikap Ibnu Taimiyyah ini kalau kita telusuri lebih jauh merupakan dampak dari kondisi politik dan sosio-kultural masyarakat muslim pada waktu itu.

Pemikiran-pemikiran Ibn Taimiyah, seperti dikatakan Ibrahim Madzkur adalah sebagai berikut:

  1. Sangat berpegang teguh pada nas ( teks Al-Qur’an dan Al-Hadis ).
  2. Tidak memberikan ruang gerak yang bebas kepada akal.
  3. Berpendapat bahwa Al-Qur’an mengandung semua ilmu agama.
  4. Di dalam Islam yang diteladani hanya 3 generasi saja (sahabat, tabi’in, dan tabi’i tabi’in).
  5. Allah memiliki sifat yang tidak bertentangan dengan tauhid dan tetap mentanzihkan-Nya[2].

Ibn Taimiyah adalh seorang tekstualis. Oleh sebab itu, pandangannya dianggap oleh ulama’ mazhab Hanbal, Al-khatib Ibn Al-Jauzi, Sebagai pandangan tajsim (antropomorpisme) Allah, yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Oleh karena itu, Al-Jauzi berpendapat bahwa pengakuan Ibnu Taimiyah sebagai salaf perlu ditinjau kembali.

Ibn Taimiyah mengakui tiga hal dalam masalah keterpaksaan dan ikhtiar manusia, yaitu: Allah pencipta segala sesuatu; hamba pelaku perbuatan yang sebenarnya dan mempunyai kemauan serta kehendak secara sempurna, sehingga manusia bertanggung jawab terhadap perbuatannya; Allah meridhai perbuatan baik dan tidak meridhai perbuatan buruk.

Dikatakan oleh Watt bahwa pemikiran Ibn Taimiyah mencapai klimaksnya dalam sosiologi politik yang mempunyai dasar teologi. Masalah pokoknya terletak pada upayanya membedakan manusia dengan Tuhannya yang mutlak. Oleh sebab itu, masalah Tuhan, katanya tidak dapat di peroleh dengan metode rasional, baik dengan metode filsafat maupun teologi. Ibn Taimiyah sangat tidak suka pada aliran filsafat yang mengatakan Al-Qur’ann brisi dalil khitabi dan iqna’i (penenang dan pemuas hati); aliran mu’tazilah yang selalu mendahulukan dalil rasional dari pada dalil Al-Qur’an, sehingga banyak menggunakan ta’wil; ulama’ mempercayai dalil-dalil Al-Qur’an, tetapi hanya dijadikan sebagai pangkal penyelidikan akal, meskipun untuk memperkuat isi Al-Qur’an, seperti Al-Maturidzi; mereka yang mempercayai dalil-dalil Al-Qur’an tetapi menggunakan pula dalil-dalil akal di samping Al-Qur’an (seperti Asy-Asy’ari).

 E.     Pemikiran Kontrofersi Ibnu Taimiyah

Pemikiran Ibnu taimiyah sering menjadi ajang polemik di kalangan para Ulama, sejak zaman Ibnu Taimiyah sendiri, dan gara-gara itu dia sering keluar masuk penjara, terutama mengenai masalah-masalah Akidah dan Fiqih. Keberanian Ibnu Taimiyah ini tidak hanya berbeda dengan para ulama di zamannya, namun Ibnu Taimiyah juga sering menyalahi Ijma`. Itulah yang membuat ulama di zamannya geram pada Ibnu Taimiyah.

Pemikiran pertama yang menjadi kontrofersi terjadi pada tahun 698 H. Hal itu gara-gara satu fatwa yang dikenal dengan masalah hamawiah. Fatwa ini membuat Qadhi waktu itu turun tangan, yaitu Imamauddin al-Quzwaini. Qadhi itu memberi fatwa “Barang siapa yang mengambil pendapatnya Ibnu taimiah maka dia akan dita`zir.” Pada tahun 705 Ibnu Taimiah kembali membikin heboh yang membuat dirinya kembali masuk penjara, dan pada tahun 709 dia dipindahkan ke Iskandariah, di sanapaun dia jaga mengeluarkan fatwa-fatwa aneh yang dipermasalahkan oleh ulama setempat.

Begitulah seterusnya Ibnu taimiiyah, dia terus keluar masuk penjara baik ketika dia di Syam atau di Mesir. Dalam beberapa kasus, Ibnu Taimiyah terkesan tidak konsekwen pada pendapatnya, kadang dia mengaku bermazhab Syafii, atau bermazhab Hambali dan kadang dia juga mengaku berakidah Asyairah namun di lain kesempatan dia juga mencaci tokoh-tokoh Asya’irah, seperti Imam Ghazali dan yang lainnya. Tidak hanya itu, Ibnu Taimiyah juga berani lancang mencaci sahabat Nabi. Oleh sebab itulah, ulama dari masa ke masa senantiasa memperselisihkan sosok dan pemikiran Ibnu Taimiyah, ada yang menganggapnya fasik, ada yang menganggapnya mubtadi` (ahli bid’ah) dan bahkan ada yang menganggap kafir. Tidak hanya para penentangnya yang mengkritik Ibnu taimiyah, murid-muridnya juga sering berbeda dan menasehatinya, seperti Ibnu Katsir dan adz-Dzahabi. Bahkan adz-Dzahabi menulis sebuah risalah husus yang berisi nasehat-nasehat agar Ibnu Taimiyah kembali dan bertobat.

Penentang Ibnu Taimiyah sejak zaman Ibnu Taimiyah sendiri sampai pada saat ini terus mengalir, mulai dari kalangan fuqaha madzahabil arb’ah sampai para ulama kalam. Sedang yang mengarang kitab yang berisi kritikan pada Ibnu taimiyah juga sangat banyak, seperti as-Subki dan ulama-ulama setelahnya.


BAB III

PENUTUP

 A.    Kesimpulan

Ibnu Taimiyah adalah tokoh yang hidup pada zaman akhir dinasti Abasiyah tepatnya abad kedelapan (w. 728 H), di mana ketika itu negeri-negeri Arab diserang oleh bangsa Tartar yang menyerang mereka pada tahun 699H. Oleh karena itu, segala pemikirannya dipengaruhi oleh kebijakan dan intervensi bangsa Tartar terhadap negeri Arab. Pengaruh Tartar tidak hanya pada politik dan ekonomi saja, bahkan mencakup pola pikir dan ibadah ritual masyarakat. Pada masa tersebut perbuatan bid’ah, pemikiran filsafat, dan mantiq yang menjerumuskan masyarakat sangat berpengaruh. Ibnu Taimiyah sendiri sempat mempelajari filsafat dan mantiq yang hasil akhirnya dia berkesimpulan bahwa filsafat dan mantiq tidak boleh dipelajari umat Islam. Ibnu Taimiyah adalah pejuang pena yang banyak membimbing masyarakatnya sehingga ditakuti oleh para pemimpin yang zhalim dan bangsa Tartar. Kehidupannya penuh dengan tantangan sehingga keluar masuk penjara dan bahkan diasingkan.


DAFTAR PUSTAKA

Rozak, Abdul. 2011. Ilmu Kalam. CV. Bandung: Pustaka Setia.

Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: Universitas Islam Press.

Madjid, Nurchlolis. 1994. “Masalah Ta’wil Sebagai Metodologi Penfsiran Al-Quran” Dalam  Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah. Jakarta: Paramadina.

Madkur, Ibrahim. 1995. Aliran dan Teori Filsafat Islam. Jakarta: Bumi Aksara.


[1] Abdul Rozak. Ilmu Kalam. CV. Pustaka Setia. Bandung: 2011. Hal. 114

[2] Ibid. hal. 116

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: