Sabun vs Lulur Tinja di Sungai

Oleh: Junaidi Khab*

Saya ini mempunyai kebiasaan mandi di sungai dekat rumah, jarak antara rumahku dan sungai sekitar 200 km. Setiap kali mau bepergian dan datang dari bermain, saya dengan teman-teman pasti janjian untuk mandi berbareng ke sungai dekat rumahku itu. Kalau aku mau berangkat sekolah, tidak lepas dari teman-teman yang lewat di jalan sebelah barat rumahku yang ngajak mandi ke sungai. Kadang aku sedang makan saat teman-teman ngajak mandi ke sungai. Meskipun sungai yang menjadi tempat pemandian itu agak kecil, namun airnya jernih bagaikan di kolam renang yang ada di perkotaan.

Berbeda dengan anak-anak yang jauh dengan aliran sungai yang kebiasaannya mandi di kamar mandi mereka masing-masing. Saya mempunyai waktu mandi yang rutin, dalam satu hari saya ditargetkan mandi tiga kali, ya sebagaimana biasanya kalau mandi kan tiga kali dalam waktu sehari. Waktu pagi kalau mau berangkat ke sekolah saya mandi, ketika datang dari sekolah sekitar pukul 14:00 WIB, dan ketika menjelang maghrib mandi lagi.

Kebiasaan mandi di sungai itu sejak saya masih anak-anak hingga saya dewasa dan hingga sekarang kalau saya pulang ke kampung halaman di Kalangka, Banjar barat, Gapura, Sumenep Madura. Setiap habis hujan teman-teman pasti nanya via SMS atau telpon, “Jun, di sungai airnya keruh ya?” Pertanyaan yang sering muncul di layar ponselku setelah turun hujan.

Sejak saya masih Mts./SMP, saya biasa berangkat mengaji kala hampir maghrib. Tentunya ketika mandi agak siang dikit agar tiba ke musolla tidak begitu kemaleman. Namun sayang, ketika saya menginjak usia SMA, saya agak jarang pergi mengaji ke musolla al-Hekmah binaan ustadz Thohir sekaligus ia kakak sepupuku. Berbagai kegiatan dan bermain menjadi hobi utama. Setelah solat asar langsung bersiap-siap pergi untuk latihan bola volli.

Saat itulah saya sering kemaleman saat akan mandi, kadang setelah maghrib masih nekat mandi sendirian ke sungai, karena kalau mandi di kamar mandi tidak enak. Selain itu pula airnya sedikit karena jarang diisi sehingga perlu dihemat dengan mandi ke sungai. Sangat nasib cara mandiku yang ini, namun saya masih bersukur karena bisa mandi secara normal.

Suatu hari ketika saya kemaleman dan buru-buru mandi ke sungai setelah latihan bola volli. Air saat itu agak sedikit keruh karena seharian hujan deras. Kalau sabun jatuh ke dalam air tidak bisa diketemukan, cepat hilang dibawa arus air yang mengalir ke hilir. Aku cepat-cepat mandi, selain waktu sudah malam juga sedikit takut dengan pekatnya malam. Aksesoris sabunku sudah lengkap. Sikat, pasta gigi, sabun, dan bering (bhs. Madura, alat pembersih semacam spon yang diusapkan ke badan dari sobekan jala, panjang sekitar 100 cm dan lebar 40 cm).

Saat mandi saya biasa mengusapkan sabun terlebih dahulu ke bering hingga berbusa sehingga mudah untuk meratakan busa sabun ke seluruh anggota tubuh hingga bersih. Ketika itu, bering-ku itu kuusap dengan sabun dan kutaruh di tepian air lalu saya menyabun anggota tubuh. Setelah saya menggunakan bering yang diusap dengan sabun hingga berbusa ternyata ada bau yang tidak sedap. Karena malam, saya tidak sempat ngecek bau apa itu. Ternyata setelah pagi saat mandi mau berangkat ke sekolah saya melihat bercak berak yang kayaknya separoh dari tumpukan itu hilang.

Wah, ternyata saya tadi malam mandi lulur sabun campur berak. Pagi itu saya gak jadi mandi di sungai lalu saya pulang cepat-cepat dan mandi di kamar mandi. Alangkah malangnya nasib saya saat itu. Sehingga ketika saya curhat ke teman-teman, mereka bilang padaku sambil ketawa, “Kalau mandi ya jangan di sungai”. Ketawa riang teman-teman SMA-ku di kelas menjadi riuh sekali. Pengalaman pahit itu sering saya waspadai saat pulang kampung ketika mau mandi ke sungai agar tidak terulang lagi.

Namun saya saat ini beruntung bisa mandi di kamar mandi setiap hari layaknya teman-teman yang lain. Karena saya sekarang sedang melanjutkan pendidikan di PT IAIN Sunan Ampel Surabaya dan nge-kos di daerah perkotaan. Maka saya mandi agak sedikit berubah dari kebiasaan sejak kecil dulu. Sekarang saya bisa mandi setiap hari di kamar mandi dan BAB di WC layaknya orang perkotaan atau orang desa yang sudah memiliki kamar mandi dan WC di rumahnya, jadi gak usah repot-repot pergi ke sungai lagi.

* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: