Mengawini Wanita yang Mengandung

RADAR SURABAYA ● MINGGU, 24 FEBRUARI 2013

Pengasuh Rubrik Konsultasi Hukum Radar Surabaya yang baik. Izinkan saya menceriterakan kisah hidup saya di masa lalu, yang berujung membawa kekhawatiran di masa sekarang. Ini saya rasakan setelah saya berumah tangga, dan dikarunia momongan.

Kisahnya sebagai berikut; Sebelum saya menikah dengan suami saya saat ini, mulanya saya tergolong gadis yang mudah bergaul. Sehingga banyak pemuda yang tergila-gila dengan saya, termasuk yang sekarang jadi suami saya. Karena saya terlalu percaya diri, mendorong gaya hidup saya liar, dan berpacaran secara bebas, termasuk juga dengan suami saya ini.

Namun ketika saya menjadi istri, tiba-tiba hati saya menjadi gundah. Terlebih setelah saya sekarang sering ikut pengajian bersama ibu-ibu di komplek, saya sekarang merasa bersalah, menanggung beban seakan saya punya dosa. Mohon diketahui bahwa ketika menikah tempo hari saya sudah berbadan dua, sebagai akibat cara berpacaran yang salah.

Yang ingin saya tanyakan apakah sah perkawinan yang sudah saya lakukan, dan bagaimana pula status anak yang saya lahirkan? Mohon penjelasannya dan terima kasih.

Wass   

Lidya,

Di Lamongan

JAWABAN :

Ada pendapat Ulama membolehkan mengenai status pernikahan pasangan suami isteri yang hamil duluan sebelum menikah. Pendapat yang membolehkan/mengesahkan pernikahan semacam itu seperti madzab Syafi’i menganggap sah pernikahan ini, tanpa harus menunggu anak hasil zinah lahir, dengan alasan tidak ada keharaman pada anak zinah, karena tidak ada nasab/keturunan.

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Bab VIII kawin hamil dengan persoalan menikahkan wanita hamil diatur dalam Pasal 53. Di bab tersebut berisi 3 ayat yaitu:

1. seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dinikahkan dengan pria yang menghamilinya.

2. perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat 1 dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dulu kelahiran anaknya.

3. dengan dilangsungkan perkawinan pada saat wanita hamil tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.

Keputusan KHI di atas diperkuat oleh pendapat mayoritas ahli Fiqih yang membolehkan menikahi wanita yang dihamilinya.

Mengenai status anak yang dilahirkan, menurut sebagian ulama jika anak ini lahir 6 bulan setelah akad nikah, berarti usia kandungan sekitar 3 bulan saat menikah, maka si anak secara otomatis sah dinasabkan (sebagai anak) suami Anda sekarang, tanpa harus ada ikrar tersendiri. Namun jika si anak lahir kurang dari 6 bulan setelah pernikahan, berarti usia kandungan lebih dari 3 bulan saat menikah. Maka ayahnya dipandang perlu untuk melakukan ikrar secara tegas, bahwa si anak memang benar-benar dari darah dagingnya.

Demikian penjelasan yang dapat kami berikan semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: