Menginovasi Pemaknaan Kitab Klasik di Indonesia

RADAR MADURA ●  Minggu, 27 Januari 2013

Oleh: Junaidi*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Agama Islam identik dengan agama yang dinamis, berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Jika suatu ketika zaman berubah dan menghadapi berbagai persoalan yang sangat komplek, maka agama dengan doktrin keuniversalannya yang termaktub di dalam kitab dan buku akan beradaptasi sesuai dengan kebutuhan umat manusia itu sendiri pada masanya. Namun, meski doktrin agama bersifat dinamis, tetapi kedinamisan itu memberikan alternatif bagi kehidupan agar selalu berada dalam kebenaran dan menghindari segala perbuatan yang merugikan dan membahayakan. Yang mana kedinamisan itu akan kita temukan dan kita ketahui melalu beberapa kitab, khsusnya kitab klasik (kitab kuning) dan beberapa buku literatur keislaman lainnya.

Fazlur Rahman (dalam Abdou Filali-Ansary, 2009:218) tidak mengakui konsep berakhirnya “peradaban-peradaban” tradisional dan dominasi peradaban dunia yang tunggal. Kenyataan bahwa  kaum Muslim belum maju, menurutnya dapat dijelaskan dengan kelemahan pemikiran teoritis dan intelektualisme filosofis.

Penemuan Islam pada zaman modern telah terjadi melalui prisma nasionalisme. Meskipun ada potensi konflik di antara nasionalisme dan agama, keduanya tidak dapat dipisahkan. Harus dikatakan bahwa pada awalnya gerakan-gerakan pembaruan menangani dua “front”, front pembaruan dari dalam dan front pertentangan dengan orang dari budaya lain. Dibandingkan dengan gerakan-gerakan pasca-kemerdekaan, yang perhatiannya disita oleh rekonstruksi dan pembaruan politik, gerakan-gerakan itu diwarnai, bahkan dibentuk oleh tantangan ganda ini.

Gerakan itu mau tidak mau terpaksa melakukan apologi (pembelaan) terhadap Islam senyampang melakukan perlawanan terhadap sikap-sikap dan konsep-konsep kuno nan anti-kemajuan yang melekat pada Islam tersebut dalam masyarakat yang bersangkutan. Sebaliknya, sehubungan dengan gerakan-gerakan sezaman misinya relatif nyaman karena tidak terdesak untuk melakukan transformasi-transformasi cepat dalam kehidupan orang banyak.

Ada beberapa hal yang mesti terpenuhi dalam rangka mentransformasikan ajaran Islam agar tidak dikatakan sebagai agama anti kemajuan. Salah satunya dengan mengubah paradigma pemikiran masyarakat bahwa Islam itu dinamis dan harus melakukan gerakan-gerakan dan transformasi yang sesuai dengan zaman yang mengirinya. Selain itu pula dalam kajian-kajian keislaman melalui berbagai kitab dan pedoman umat Islam harus dilakukan dengan kajian empirik yang maksimal hingga mampu menyeimbangkan dengan berbagai fenomina kehidupan yang terus maju mengikuti arus zaman.

Terminologisasi Makna

Sebenarnya agama Islam bukan agama yang anti kemajuan yang banyak diinterpretasikan oleh kebanyakan orang. Namun yang menjadikan Islam dianggap sebagai agama anti kemajuan adalah penganutnya sendiri yang lebih didominasi oleh kajian-kajian yang bersifat fundamental dan kuno terhadap kitab-kitab kuning (kitab klasik). Maka dari itulah betapa sangat penting menginovasi tata cara membaca kitab klasik agar doktrin Islam yang universal bisa dilihat dan dirasakan oleh berbagai kalangan dalam lintas umat beragama.

Apalagi dengan dunia pesantren yang ada di Indonesia masih bersifat tertutup. Seluruh santri dikarantina dengan pagar pertahanan yang kokoh agar mereka tidak keluar dari area pesantren. Yang mana tujuannya agar mereka menggeluti keilmuan yang ada di dalam pesantren itu sendiri. Lagi pula dalam pesantren terkadang ada aturan seoarng santri dilarang menonton televisi dengan alasan hanya untuk pembodohan, padahal televisi menyajikan beberapa fenomina kehidupan yang perlu menjadi bahan kajian lebih lanjut. Dari sinilah tampak kekolotan sebuah pesantren tentang keilmuan dan metode-metode pengembangannya mengalami eliminasi dari dunia. Padahal mereka tahu sendiri bahwa agama Islam memandang suatu persoalan dari sisi keuniversalan bukan dari keparsialan.

Kefanatikan dan sifat fundamental pada kajian-kajian kita klasik jika ditinjau dari sisi sosiologi masih kurang memberikan kontribusi yang cukup memuaskan bagi kehidupan. Yang mana kajian dan pengartian makna-makna kitab klasik masih bertumpu pada pemahaman para kiai secara parsial saja. Begitu pula cara pemaknaannya masih menggunakan bahasa yang masih bersifat parsial tanpa melihat pada prospek dan tujuan islam yang bersifat universal. Padahal jika pemaknaan kitab-kitab klasik itu mengikuti arus perkembangan zaman, maka akan mampu beradaptasi dengan persoalan kehidupan umat manusia secara global, baik di bidang politik, ekonomi, dan berbagai persoalan keumatan secara luas.

Misalkan salah satu contoh kata ‘hadhorotul khalqi’ jika diartikan dalam pengrtian secara parsial dalam pesantren itu diartikan ‘kebudayaan ciptaan’. Namun jika kita memaknai kata tersebut dengan bahasa ilmiah-populer menjadi ‘kebudayaan inovasi’. Dengan demikian jelas bahwa jika pesantren masih fanatik terhadap pemaknaan kitab klasik secara parsial saja, maka peranan ajaran agama Islam dalam dunia internasional tidak akan memiliki taring yang kuat.

Padahal jika sebagai kaum sarungan mampu memaknai dan menganalisa makna kitab klasik dengan mengikuti peruabhan arus zaman, maka akan menemukan beberapa persoalan hidup yang berkaitan dengan perpolitikan, perokonomian, dan beberapa persoalan lainnya hingga bisa dicarikan solusi penyelesaiannya. Namun, jika hanya terpaku pada pemaknaan yang hanya bersifat parsial, maka makna yang mendalam dari kitab-kitab klasik keislaman tidak akan menemukan titik tumu dalam menyelesaikan persoalan kehidupan secara universal.

Pemaknaan kitab klasik harus mengiktui arus perkembangan zaman, agar ajaran yang dibawa Islam teraplikasikan dengan sempurna oleh belahan masyarakat di seluruh Indonesia dan secara umum masyarakat internasional. Ajaran agama Islam bukan hanya milik orang tertentu dengan menguasai kajian-kajian dalam kitab klasik secara parsial saja. Akan tetapi ajaran agama Islam milik orang yang ingin menyatukan umat dengan menegakkan keadilan dan melihat segala persoalan dengan penyelesaian yang bersifat universal tanpa memandang pihak tertentu saja. Kiranya itu yang akan menaikkan daun ajaran agama Islam yang sejati dalam kehidupan umat manusia.

* Penulis adalah Mahasantri Pondok Pesantren Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Madura.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: