Mempertahankan Keotentikan Budaya Masyarakat Madura

RADAR MADURA Minggu, 3 Pebruari 2013

Oleh: Junaidi*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Madura merupakan salah satu bagian dari Negara Indonesia yang memiliki beberapa kesenian dan tradisi hingga terbentuk sebuah budaya yang utuh. Salah satu contoh yang mudah dan gampang kita lihat dalam kehidupan masyarakat Madura adalah budaya sarungan yang sering kita jumpai. Mayoritas masyarakat Madura menggunakan sarung dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu pula, meskipun budaya sarungan itu dianggap budaya Madura juga disebut budaya religi oleh beberapa kalangan. Mereka menganggap budaya religi karena awal dan mayoritas yang memakai sarung adalah kaum santri yang mondok di berbagai pesantren sehingga budaya sarungan itu tidak mengherankan jika disebut budaya Madura yang Islami.

Padahal jika kita melihat lebih dari itu semua, budaya sarungan bukanlah budaya Islami, namun karena mayoritas masyarakat mengatakan demikian, maka kita cukup mengakui dan menyetujui saja. Namun yang menjadi titik tekannya adalah budaya sarungan substansinya bukanlah budaya religi Islami, cuma dimodifikasi seperti budaya religi Islami oleh para penyeru agama Islam di tanah Madura.

Salah satu bukti bahwa budaya sarungan bukan budaya Islami yaitu ketika kita memandang pada kehidupan Rasulullah Saw. sejak dahulu kala. Yang mana masa dahulu tidaklah ada para sahabat Nabi dan bahkan Nabi sendiri memakai sarung seperti sekarang dalam lingkungan pesantren dan khususnya di Madura. Ada yang mengatakan bahwa budaya sarungan itu merupakan budaya masyarakat yang beragama Hindu sejak masa pra-Islam, yaitu sebelum masuk ke Madura.

Kita bisa melihat budaya masyarakat yang beragama Hindu saja di Bali, dengan demikian kita akan menyadari bahwa budaya sarungan bukanlah budaya Islami pada kenyataannya. Namun, yang menjadi sangat penting dalam perspektif ini adalah tetap mempertahankan dan menjaga budaya sarungan, hal tersebut karena sesuai dengan aturan dalam agama Islam yaitu menutup aurat dan seluruh anggota tubuh, maka tradisi sarungan harus tetap dipertahankan meskipun bukan asli budaya Islam sejak dahulu, namun itu budaya masyarakat Madura yang beragama Hindu pada masa pra-Islam.

Namun, karena pemeluk agama Islam telah menggunakan sebagai penutup anggota tubuh yang tidak pantas dilihat oleh selain muhrim, maka menjadi keharusan menjaga dan melindungi keberadaannya tersebut. Budaya sarungan merupakan salah satu metode dalam menyebarkan agama Islam sejak dahulu, karena memang sejak dahulu di Madura mayoritas masyarakatnya adalah pemeluk agama Hindu. Dengan melihat kondisi dan situasi yang demikian, maka para pembawa dan penyebar agama Islam di Madura cukup mengubah sedikit dalam budaya sarungan orang Hindu menjadi budaya yang akhirnya digunakan oleh ajaran agama Islam karena hal demikian tidaklah bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Agama Islam di Madura mengakui budaya sarungan sebagai budaya Islam karena dari nilai positifnya. Sehingga pada masa Belanda sejak penjajahan di Indonesia para pembesar agama Islam (ulama’ dan kiai) mengharamkan umat Islam yang memakai pakaian ala Belanda seperti halnya memakai celana. Dengan tidak segan-segan mereka mengkafirkan yang menggunakan celana dengan berlandaskan pada sebuah qaul “man tasyabbaha bi qaumin fahua minhum” (barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari golongannya).

Sehingga dengan demikian, karena orang Belanda tidak beragama Islam, maka pembesar agama Islam mengkafirkannya. Namun untuk masa sekarang dalil itu tidaklah lagi digunakan dalam umat beragama, sekarang yang lebih dipentingkan adalah menjaga kedaiaman dan keadilan dalam kehidupan masyarakat, karena tujuan agama Islam adalah menegakkan perdamaian dan keadilan di muka bumi.

Seni Tari dan Seni Kidung

Masyarakat Madura selain memiliki budaya sarungan juga memiliki seni tari dan seni kidung yang digemari. Namun, perlahan dengan berubahnya zaman dari masa klasik pada masa modern sekarang ini, seni tari dan seni kidung sedikit memudar dari keasliannya. Ludruk, tandek, hadrah khas Madura, dan khendhingan kini mulai digerogoti oleh masuknya masa globalisasi dan kemodernan hingga banyak perubahan pada aspek keaslian seni tersebut.

Hal tersebut masih bisa kita harapkan, akan tetapi ada seni yang parah saat ini hingga hampir punah dari tangan masyarakat Madura karena roda perjalanan zaman yang menggilasnya yaitu seni kidung mamaca (membaca) merupakan seni membacakan sejarah nabi Yusuf yang didendangkan dengan cara dikidungkan oleh yang ahli.

Seni ludruk,  tandek, hadrah khas Madura, dan khendhingan dari segi lagu, musik, dan tariannya kini sedikit miring pada masa kemodernan. Seperti lagu-lagu dan peralatan musiknya diganti dengan sedikit gaya band dan musik kekinian masa modern sekarang ini. Itulah yang dikhawatirkan hilangnya keotentika budaya masyarakat Madura yang sangat unik. Untuk itulah meskipun kita berada dalam era modern tidak mengubah budaya dan tradisi asli masyarakat Madura yang telah lama berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Jika kita memang ingin mengikuti arus perkembangan zaman tidaklah harus dengan mengubah tradisi yang memang asli dimiliki masyarakat Madura. Akan tetapi kita harus mampu menciptakan budaya dan seni baru dengan masuknya masa modern ini. Denngan demikian, kita akan mempunyai budaya dan seni lebih banyak lagi dengan kekreatifan yang kita miliki.

Perlu kita tekankan bahwa budaya yang harus kita pertahankan keotentikannya bukan hanya yang disebut di atas. Akan tetapi masih banyak budaya dan tradisi masyarakat Madura yang perlu kita jaga dan kita lestarikan dalam menghadapi perkembangan zaman ini agar identitas kemaduraan tidak sirna. Menurut MH. Sa’id Abdullah mengatakan bahwa suatu bangsa akan berkembang dan maju apabila bangsa itu tidak melupakan pada identitasnya sendiri.

* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakulta Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya dan bergiat di Pondok Budaya Ikon Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: