Madura, Narasi Kecil untuk Perubahan Besar

RADAR MADURA Minggu, 10 Pebruari 2013

Junaidi Khab's Cover

Junaidi Khab’s Cover

Judul          : Menuju Madura Moderen Tanpa Kehilangan Identitas

Penulis       : MH. Said Abdullah

Penerbit     : Taman Pustaka

Cetakan     : I, September 2011

Tebal         : iii + 204 Halaman 16.5 x 21.5 cm

Peresensi   : Junaidi*

Madura merupakan salah satu pulau yang kecil di Indonesia tepatnya di propinsi Jawa Timur dengan empat kabupaten. Di antaranya dari ujung timur adalah kebupaten Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan yang paling barat adalah Bangkalan. Pulau Madura berdekatan dengan kota Surabaya di pulau Jawa. Namun untuk saat ini kedekatan tesebut sudah tidak ada lagi antara pulau Madura dengan Pulau Jawa karena sudah terhubung oleh jembatan Suramadu (Surabaya-Madura).

Jembatan tersebut menjadi salah satu agen perubahan pulau kecil tersebut, baik dari tatanan kehidupan sosial, agama, dan tradisi. Dengan jembatan Suramadu, infrastruktur di Madura akan banyak mengalami perubahan dan perkembangan. Ada beberapa gagasan untuk perubahan di Madura dengan mengubah paradigma beberapa kabupaten di pulau tersebut. Salah satu gagasan tersebut yaitu kabupaten Sumenep akan dijadikan kota wisata dengan banyaknya budaya yang berkembang di sana. Kabupaten Pamekasan infrastrukturnya akan diubah menjadi pusat kota pendidikan. Sedangkan kota Sampang sebagai kota perdagangan dan Bangkalan akan diubah menjadi kota industri.

Dengan terbitnya buku yang ditulis oleh Said Abdullah ini kita akan mengetahui hal ihwal perubahan dan perkembangan pulau Madura. Memang diakui dari pulau tersebut mayoritas masyarakatnya adalah masyarakat tertinggal namun memiliki komitmen dan pekerja keras. Banyak masyarakat Madura yang mengadu nasib (merantau) ke berbagai daerah demi memakmurkan hidupnya dengan bekerja keras. Di setiap kota di Indonesia hampir akan penuh dengan masyarakat Madura. Semangat hidupnya untuk lebih makmur tidak dapat dihalangi lagi meskipun keadaannya terbelakang dari beberapa daerah di Indoensia.

Nama Madura itu sendiri berasal dari dua kata, yaitu Madu dan Darah. Dari dua kata tersebut bisa diambil sebuah makna dan simbol yang terkandung di dalamnya. Pertama, Madu merupakan air manis yang dihasilkan oleh lebah yang berarti masyarakat Madura adalah masyarakat yang sopan dan lemah lembut, dan masyarakatnya memang ada yang menjadi penghasil madu dengan ternak lebah. Kedua, Darah yang merupakan simbol semangat, keras, dan agresif. Dalam hal ini masyarakat Madura memiliki sifat keras dalam mengurus problem kehidupannya, sehingga di Madura dikenal dengan adanya budaya carok.

Madura merupakan pulau yang masih memiliki banyak pulau kecil, terutama kabupaten Sumenep. Di Sumenep ada beberapa pulau kecil yang mayoritas penduduknya merantau mengadu nasib demi mencapai kesejehteraan. Seperti pulau Kangaian, Ra’as, Gili Genting, Gili Rajeh, dan pulau Poteran (Talango). Tidak mengherankan, meskipun pulau tersebut jauh dari daratan, namun infrastruktur bangunan rumahnya sudah memiliki pola ala masyarakat madani. Di pula-pulai kecil tersebut keberadaan bangunan dan perekonomiannya memang bisa diacungi jempol. Namun dari segi keilmuan dan pendidikan masih terbelakang dan tertinggal jauh dibanding dengan masyarakat daratan.

Budaya dan Tradisi

Pembahsan tradisi dan budya dalam buku ini sangat edukatif. Madura yang kentara kebudayaannya yaitu budaya religiutas yang sangat kuat dan memang diakui oleh masyarakat luar Madura. Budaya religiutas tersebut ditandai dengan banyaknya pesantren yang berkembang di Madura.

Antara daerah, kecamatan dan hingga kabupaten di Madura memiliki budaya, tradisi dan adat yang berbeda. Dari cara tutur kata, pola hidup dan kulturalnya menunjukkan asal daerahnya masing-masing. Madura merupakan pulau yang unik dengan tradisi dan budayanya yang begitu banyak meskipun hanya pulau kecil.

Dalam menjalani perkembangannya, Madura akan mengalami perubahan yang signifikan pasca-pembangunan jembatan Suramadu. Buku yang ditulis oleh Said Abdullah ini akan mengulas tuntas bagaimana Madura itu menjadi salah satu pulau yang kaya akan budaya dan tradisi menjadi pulau peradaban dan pulau yan maju dari segi pembangunan, pendidikan, budaya, dan tradisi tanpa menghilangkan identitas asli kemaduraannya. Jika pulau garam tersebut sudah mengalami perubahan dan perkembangan, maka Indonesia akan memiliki asset budaya dan kultur yang lebih kuat untuk membangun masyarakat agar makmur dan sejahterah. Buku ini juga banyak mengandung gagasan-gagasan untuk membangun suatu daerah selain Madura agar lebih maju.

* Penulis adalah Pecinta Buku di Pondok Pesantren Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Madura.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: