Beda Agama Kawin di Mana?

RADAR SURABAYA ● MINGGU, 10 FEBRUARI 2013

Saya seorang gadis beragama Islam, akan menikah dengan seorang laki-laki beragama lain. Kami berdua sudah sama-sama mencintai, sehingga untuk tidak bersatu kemungkinannya sangat tipis. Karena itu kami ingin meresmikan jalinan cinta kasih ini dengan sebuah perkawinan. Namun kendalanya untuk melangsungkan perkawinan di KUA maupun di Kantor Catatan Sipil tidak bisa mencatatkan perkawinan kami, karena perbedaan agama.

Apakah kami harus kawin di luar negeri? Mohon penjelasannya.

Hamidah,

Di Surabaya

 

JAWABAN :

Sahnya perkawinan diatur dalam Undang Undang Perkawinan (UUP) No 1 Tahun 1974. Di Pasal 2 ayat (1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Di ayat (2) menyebutkan: Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundangundangan yang berlaku.

Ketentuan mengenai pencatatan perkawinan diatur lebih lanjut dengan PP No 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No 1 Tahun 1974. Dalam PP tersebut mengatur apabila perkawinan dilakukan oleh orang Islam maka pencatatan dilakukan oleh pegawai pencatat sebagaimana dimaksud dalam UU No 32 Tahun 1954 tentang pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk, yaitu KUA. Sedangkan bagi mereka yang melangsungkan perkawinan menurut agama dan kepercayaannya di luar agama Islam, maka pencatatan dilakukan pada Kantor Catatan Sipil (Pasal 2 PP No 9/1975).

Berdasarkan ketentuan mengenai sahnya suatu perkawinan yang ditentukan dalam UUP No 1 Tahun 1974 maka permasalahan yang dapat timbul apabila dilangsungkannya suatu perkawinan beda agama antara lain menyangkut:

1. Keabsahan perkawinan. Mengenai sahnya perkawinan yang dilakukan sesuai agama dan kepercayaannya yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) UUP, hal ini berarti UUP menyerahkan keputusannya sesuai dengan ajaran dari agama masing-masing. Namun permasalahannya apakah agama yang dianut oleh masing-masing pihak tersebut membolehkan untuk dilaksanakannya perkawinan beda agama.

2. Pencatatan Perkawinan. Apabila perkawinan beda agama tersebut dilakukan oleh orang yang berbeda beragama, maka terjadi permasalahan mengenai Pencatatan Perkawinan. Apakah di KUA atau di Kantor Catatan Sipil, oleh karena ketentuan pencatatan perkawinan untuk agama Islam dan di luar agama Islam berbeda.

Perihal perkawinan beda agama yang dilakukan di luar negeri, maka dalam kurun waktu satu tahun setelah suami isteri itu kembali ke Indonesia, harus mendaftarkan surat bukti perkawinan mereka ke Kantor Pencatatan Perkawinan tempat tinggal mereka (Pasal 56 ayat 2 UUP). Pencatatan di sini bukan dalam konteks sah tidaknya perkawinan, melainkan sekedar pelaporan administratif.

Demikian penjelasan yang dapat saya berikan, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: