Mempererat Hubungan Sosial Melalui Takziyah

Duta Masyarakat: Minggu, 28 Oktober 2012

Junaidi Khab's Cover Panduan Memandikan & Menguburkan Jenazah

Junaidi Khab’s Cover Panduan Memandikan & Menguburkan Jenazah

Judul               : Panduan Memandikan & Menguburkan Jenazah

Penulis             : Abdul Waid

Penerbit           : DIVA Press

Cetakan           : I, Oktober 2012

Tebal               : 212 Halaman

Peresensi         : Junaidi*

Manusia pada umumnya adalah msyarakat sosial yang tidak bisa lepas dari berbagai kebutuhan dan bantuan orang lain. Tanpa ada rasa hidup bersama dan saling membutuhkan maka kehidupan ini tidak akan terasa sempurna dan nyaman. Meskipun secara logika di dunia ini tidak ada yang sempurna. Namun dalam hal ini sempurna dalam pandangan dan versi manusia ketika menjalani kehidupan di dunia yang fana ini. Selain itu pula pepatah mengatakan “tiada gading yang tak retak”, bahwa tiada manusia yang luput dari salah. Tiada manusia yang sempurna di dunia ini, mereka akan melakukan kesalahan. Akan tetapi, sebaik-baik manusia mereka yang berusaha memperbaiki kesalahannya dan menyesali apa yang telah diperbuatnya. Salah satunya dengan meningkatkan hubungan sosial dengan masyarakat.

Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam rangka mempererat hubungan sosial. Kali ini buku Abdul Waid memberikan klarifikasi tata cara kita sebagai umat manusia untuk terus mempererat hubungan sosial antar sesama. Dari klarifikasi tersebut Waid menyebutkan dalam rangka mempererat hubungan sosial adalah dengan melayat (takziyah) ke rumah warga yang tertimpa musibah, khususnya mereka yang salah satu keluarganya meninggal dunia (Hal. 55-71).

Misalkan ketika saudara kita ada yang meninggal dunia, belasungkawa atas kematiannya harus tumbuh dalam diri kita masing-masing. Dengan tumbuhnya belasungkawa itulah kita akan sadar untuk saling empati kepada orang lain. Di sinilah hubungan sosial akan semakin erat ketika kita dengan suka rela membantu meringankan beban keluarga yang meninggal.

Lebih spesifik lagi pembahasan Waid dalam buku ini adalah mempererat hubungan sosial dengan melayat jenasah saudara kita yang telah meninggal. Dengan metode demikian akan banyak hal yang dapat kita peroleh untuk mengikat hubungan dengan manusia dan lebih-lebih dengan Tuhan yang telah menjadikan kita hidup beranak-pinak dan berbangsa-bangsa. Tidak ada tujuan lain kita hidup di dunia ini kecuali agar kita bisa belajar hidup rukun dalam lingkungan sosial, baik dengan ras atau etnis apapun kerukunan menjadi kunci utama kesuksesan kehidupan kita di dunia.

Melayat saudara kita bukanlah hal yang mudah pada era sekarang ini. Karena mayoritas kehidupan kita dikekang oleh berbagai persoalan hidup yang begitu banyak dan rumit. Dengan keadaan demikian kita sangat sulit untuk mempererat hubungan dengan saudara kita. Selain itu pula, keengganan kita tidak melayat saudara kita yang telah meninggal karena beberapa alasan. Karena kita tidak mau berkabung dan ikut menyelesaikan proses pemakaman karena melelahkan. Dan karena kita tidak tahu tata cara dalam prosesi mengurus jenazah saudara kita dan cara meneduhkan keluarganya yang ditinggal.

Melalui buku ini kita akan mendapat banyak pandangan dan cara melayat (takziyah) saudara kita yang telah meninggal dunia dalam rangka memperkokoh tali persaudaraan sesama manusia. Misalkan bagaiamana cara kita berinteraksi dan bersikap ketika berada di lingkungan keuarga yang berduka, bagimana cara kita berpartisipasi ketika mengurus jenazah. Karena tidak semua dari kita akan tahu tata cara dan prosesi penguburan jenazah mulai dari cara merawat, memandikan, mengafani, mensolati, dan hingga dikuburkan. Memang secara rasional tidaklah rumit tata-tata caranya karena memang sangat simpel dan mudah. Akan tetapi tata cara tersebut perlu kita sering praktekkan agar kita ketika mengurus jenazah tidak canggung lagi (Hal. 73-134).

Ketika kita akan melayat jenazah kadang masih ada di antara kita yang bertanya tata cara mensolatkan jenazah, memang ada pula yang tidak bertanya entah karena tahu atau karena tidak tahu dan sungkan/malu untuk bertanya. Karena mensolatkan jenazah berbeda dengan cara kita ketika melakukan solat lima waktu. Maka dari itulah Abdul Waid merintis penulisan buku Panduan Memandikan & Mengubur Jenazah. Sedangkan hikmah di balik mengurus jenazah sangatlah banyak. Yang mana, selain mempererat hubungan sosial, hal itu juga bisa mengingatkan kita bahwa kelak kita juga akan menyusul sehingga sifat congkak yang ada dalam diri kita akan menurun.

Ulasan dalam buku ini lebih menekankan pada cara kita mengayomi keluarga orang yang meninggal dunia dengan status menjalin hubungan sosial agar lebih kokoh. Di antaranya cara ketika memandikan, mengafani, mensolatkan agar tidak hanya ikut-ikutan, dan ketika menguburkan. Selain itu pula bagaimana kita mampu menghibur keluarga yang sedang berduka agar tetap semangat menjalani proses kehidupan, karena kita di dunia ini hanya sementara dan ketika sudah tiba waktunya tidak akan ada yang mampu menghalanginya. Maka dengan demikian, hubungan sosial akan semakin erat dan kokoh.

* Peresensi adalah alumnus Sekolah Menengah Pesantren (SMAP) Al-in’am Banjar timur Gapura Sumenep. Sekarang nyantri di Pondok Pesantren Luhur Alhusna Wonocolo Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: