Hati-Hati dalam Menulis Surat

Jawa Pos: Minggu 7 November 2010

DI BALIK BUKU

Oleh: Junaidi Khab*

Manusia adalah makhluk sosial, sebagai makhluk sosial ia tak dapat hidup sendiri, karena itu ia selalu berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain, baik lisan maupun tulisan. Dalam pemakaian bahasa lisan, seseorang relatif tidak mengalami kesulitan, karena bahasa lisan dapat dibantu oleh gerak-gerik, gaya, mimik dan sebagainya.

Berbeda bahasa tulis, dalam pemakaian bahasa tulis, seseorang hanya terbatas dengan menggunakan kata-kata, tidak dibantu dengan gaya dan mimik. Karena itu harus berhati-hati, maksudnya seseprang harus menggunakan bahasa yang baik dan benar, dalam arti harus memilih kata, gaya dan pemakaian ejaan yang benar (Sulastri, 1996: 2).

Dalam kehidupan sehari-hari, penulis sering menjumpai banyak kekeliruan orang dalam menggunakan bahasa tulis, terutama bahasa tulis yang tertuang dalam bentuk surat, sebab pada zaman sekarang ini surat memiliki peranan penting dalam komunikasi. Dalam hal ini surat bias menjadi duta atau wakil, maka hendaknya ditulis seteliti dan seperaktis mungkin, obyektif, sistematik, jelas maksud dan tujuannya serta dilengkapi watak sopan dan daya tarik. Untuk itu surat harus ditulis oleh orang yang berpengetahuan dalam bahasa (bahasa tulis).

Kelihatannya memang sederhana. Tapi, itu tidak mudah dilakukan. Karena itulah buku panduan menulis surat yang benar tetap dibutuhkan. Misalnya, buku Bahasa Indonesia Teori dan Aplikasi karya Dr. Warsiman, M.Pd.

Pada dasarnya, surat merupakan sebuah karangan yang digagas dan dituangkan secara tertulis. Oleh karena itu, surat merupakan sebuah karangan. Dengan demikian, ketentuan-ketentuan mengenai penyusunan karangan yang baik, berlaku pula dalam penyusunan surat. Ia terikat dengan pedoman-pedoman tertentu agar pemikiran yang dirumuskan dalam surat itu dapat mencapai sasarannya secara efesien dan efektif. Oleh karena itu, dalam penyusunannya, surat harus memperhatikan tema, tatabahasa, kalimat, alinea, tujuan komposisi, dan tanda baca. Sebagai karangan, surat dapat disusun secara deduktif maupun induktif. Secara deduktif, surat ditulis terlebih dahulu dengan memaparkan pokok persoalannya, baru berikutnya diikuti penjelasan dan alasannya, sedangkan secara induktif, apabila alasan-alasan sebagai latar belakang ditulis terlebih dahulu, baru persoalan pokoknya sebagai simpulan.

Surat yang sifatnya memohon akan lebih pas apabila ditulis secara induktif sebab akan tercipta suasana yang akrab bagi pembacanya. Apabila ditulis secara deduktif akan tampak kaku dan tampak menodong.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata tema sering dikacaukan dengan istilah topik. Dalam dunia surat menyurat, pengertian tema dapat dilihat dari aspek surat yang telah disusun dan aspek proses penyusunan sebuah surat. Dalam menyusun surat, hal pertama yang harus dilakukan penulis adalah menentukan topic surat yang akan ditulisnya. Kemudian, mencoba merumuskan tema dari surat tersebut. Tema itulah nantinya yang akan dirumuskan secara rinci dalam surat.

Tema surat merupakan inti sari dari maksud yang disampaikan. Tema surat lalu diuraikan penulis surat melalui kalimat-kalimat. Dalam penguraiannya, kalimat harus mengungkapkan fakta, perasaan, sikap, dan isi pikiran penulis surat kepada penerima secara jelas dan efektif.

Akhir-akhir ini, orang lebih cenderung memakai kalimat yang pendek-pendek dalam menulis surat. Dengan kalimat yang pendek-pendek, pembaca akan lebih mudah menangkap maksud dan isi surat tersebut. Berbeda dengan kalimat panjang, apabila tidak lengkap, sering menyebabkan informasi yang disampaikan sulit dipahami.

Dewasa ini kedudukan bahasa Indonesia semakain terjepit. Kita sering mendengar orang berdalih bahwa bahasa itu yang utama lawan bicara dapat memahami informasi yang kita sampaikan, dan tidak dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar sebagaimana yang diatur dalam bahasa Indonesia. Potensi itu berkembang menjadi sebuah aksioma di sebagian masyarakat. Dampaknya, bahasa Indonesia menjadi terabaikan.

Sepanjang sejarah bahasa Indonesia tidak menampik kenyataan terhadap masuknya bahasa lain. Justru bahasa-bahasa yang masuk itu dapat memperkaya bahasa Indonesia terutama dari segi perbendaharan kata (Badudu, 1996:7). Sungguhpun bahasa Indonesia diperkaya oleh bahasa lain, tetapi tidak sampai pada segi struktur bahasa. Karena itu, bahasa Indonesia tetap dapat menunjukkan jati dirinya.

Kenyataan memang tidak dapat dimungkiri. Kendati telah ditetapkan aturan baku tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi aturan tersebut masih diingkari oleh sebagian masyarakat kita. Bahkan, gejala merendahkan bahasa sendiri semakain nyata. Hal ini dapat kita lihat dari perilaku berbahasa bangsa kita.

Interaksi global dalam berbagai bidang dewasa ini tidak bias dihindari. Akibatnya proses transaksi nilai-nilai global dengan sendirinya juga akan terjadi. Bagaimana masyarakat kita dengan segala hasil budidayanya, termasuk bahasa Indonesia. Cita-cita menjadikan bahasa Indonesia sebagai bagian dari bahasa dunia tidak cukup dengan meneriakkan heroic, tetapi perlu sikap nyata.

Buku ini akan mengungkap beberapa hal tentang penggunaan bahasa Indonesia, dan bagaimana seharusnya bahasa Indonesia kita pergunakan dengan baik dan benar. Sepanjang kita berada di wilayah Negara Indonesia, merupakan sebuah keniscayaan untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah.

Buku ini sangat berguna terutama bagi mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, dan mahasiswa-mahasiswa jurusan lain serta masyarakat umum yng selama ini kesulitan memahami dan mempraktikan Bahasa Indonesia yang benar di masyarakat. Buku ini sangat cocok pula untuk membantu mahasiswa dan guru/dosen dalam membuat laporan karya tulis ilmiah (skripsi-tesis-disertasi) yang berkaitan dengan bahasa indonesia yang benar.

* Penulis adalah lulusan SMA Al-In’Am Banjar timur Gapura Sumenep Madura, dan sekarang melanjutkan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Sastra Inggris(SI).

Mobile: 087866119361

E-Mail: john_gapura@yahoo.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: