Bahasa Tubuh dan Perspektif dalam Berpikir

RADAR SURABAYA ● Minggu, 25 November 2012

Junaidi Khab's Cover Membaca Isi Pikiran Orang dari Bahasa Tubuhnya

Junaidi Khab’s Cover Membaca Isi Pikiran Orang dari Bahasa Tubuhnya

Judul               : Membaca Isi Pikiran Orang dari Bahasa Tubuhnya

Penulis             : Horriyah

Penerbit           : Laksana

Cetakan           : I, November 2012

Tebal               : 178 Halaman

ISBN               : 978-602-7665-31-6

Harga              : Rp.30.000,-

Peresensi         : Junaidi*

Mengapa Soekarno sebagai salah satu presiden pertama Republik Inodnesia (RI) ketika berpidato mampu menyita perhatian banyak orang, dan bahkan mampu memberikan tumpahan semangat yang berkobar pada seluruh rakyat Indonesia?

Bung karno mampu menyampaikan pesan dengan sistematis dan rapi, beliau juga memiliki bahasa tubuh yang bagus sesuai dengan apa yang beliau pikirkan. Beliau juga mampu menentukan kapan harus bersuara tinggi serta rendah, dan kapan harus mengepalkan tangan. Gerekan tubuh beliau sepenuhnya menopang teks dan penjelasan dari pidato yang disampaikan (Hal. 24-25).

Bahasa tubuh memiliki banyak peranan dalam menjalakna aktifitas keseharian. Salah satu di antaranya adalah mampu mempengaruhi seseorang agar mengikuti pemikiran atau keinginannya. Selain itu pula, bahasa tubuh akan membantu kita untuk memahami pola pikir seseorang. Dengan bahasa tubuh itulah kita akan mudah untuk mengajak dan memahami karakteristik seseorang. Jadi, bahasa tubuh dan pola pikir seseorang itu ada kaitan erat yang tidak dapat dipisahkan.

Maka dari itulah presiden RI pertama, Soekarno, mampu mengajak anak bangsa ini untuk maju dan bersatu mempertahankan kemerdekaan RI. Bahasa tubuh bisa menjadi cerminan dan penyemangat kehidupan. Sehingga tidak heran bila seseorang menggunakan bahasa tubuh ketika berdialog dengan lawan bicaranya untuk mempengaruhinya. Begitu pula kita harus mampu memahami bahasa tubuh seseorang untuk menafsirkan jalan pikirannya agar kita tidak mudah terjebak dengan berbagai persuasinya dalam menyampaiakan gagasan dan pesan-pesannya.

Jika saat ini kita termasuk orang yang percaya terhadap seseorang karena komunikasinya lincah dan lihai, atau karena mereka tidak pernah berbohong sebelumnya, mulai saat ini kita harus menambah kriteria bahasa tubuh sebagai bagian penting untuk membaca pikiran orang lain, meskipun dia itu teman akrab sehari-hari. Jika kita menghimpun informasi untuk membaca orang lain hanya dengan komunikasi lisan dan janji-janji, maka mulai saat ini kita harus belajar untuk menghimpun informasi dari bahasa tubuh lawan bicara yang kita hadapi agar kita tidak mudah terjerumus dalam lembah kebohongan seseorang. Dengan demikian, kita juga akan mampu memilah mana yang baik, mana yang buruk, dan mana yang harus diikuti dan yang tidak.

Namun dalam mempelajari bahasa tubuh itu harus secara menyeluruh. Sesuatu apapun tanpa sebuah pembacaan dan pemahaman secara keseluruhan akan berbuntut pada penarikan kesimpulan yang salah. Tidak jauh berbeda dengan kita yang membaca bahasa tubuh seseorang secara sepotong-potong. Maka, kita bisa terjebak pada penafsiran yang salah pula. Jika kita membaca bahasa tubuh seseorang, maka bacalah secara keseluruhan (Hal. 37).

Maka dari itulah, jika kita mempelajari bahasa tubuh seseorang jangan sampai setengah-setengah. Karena jika kita hanya memahami secara tidak menyeluruh tentang bahasa tubuh seseorang, maka kita akan melakukan interpretasi yang salah. Kemungkinan besar akan menimbulkan fitnah dari interpretasi yang kita lakukan terhadap bahasa tubuh seseorang. Inilah yang mesti kita hindari, kita harus mempelajari lebih mendalam dengan mencari berbagai literatur yang bisa membantu untuk membaca bahasa tubuh seseorang. Dengan buku-buku literatur itulah kita akan terhindar dari misunderstanding pada seseorang.

Horriyah juga menyebutkan bahwa perkataan, tulisan, dan simbol-simbol verbal lainnya, terbukti belum bisa menunjukkan bahwa itu adalah 100 % dari cermin pemikirannya. Banyak orang yang bisa beretorika dan bersilat lidah tentang kebenaran dan kejujuran, tetapi di belakang layar dia kadang menjadi pelaku kejahatan dan kecurangan. Ini bukan satu hal yang baru terjadi pada diri kita, akan tetapi sudah lama. Kita menjadi korban hal tersebut dan kita tidak pernah belajar untuk mengantisipasinya.

Lihatlah mereka dan para pejabat sebelum terpilih menjadi bagian dari parlemen negara, mereka berorasi dan memberi janji kepada pendukungnya. Seakan-akan apa yang disampaikan itu merupakan jalan pikir untuk mensejahterhakan masyarkat. Namun buktinya, ketika mereka sudah ada yang berhasil duduk di kursi parlemen negara, rakyat banyak yang acuh tak acuh, mengeluh, dan merasa tidak diayomi olehnya. Apa yang telah dijanjikan telah basi dimakan lapuknya masa lalu, semua hanya kebohongan.

Namun, jiwa yang memiliki nilai independensi kuat dalam melakukan suatu perbuatan tidak akan mudah mengikuti apa yang dikatakan oleh orang lain. Mereka akan melihat perkataannya itu dari berbagai sudut pandang, khususnya liku-liku tubuhnya ketika menyampaikan suatu pesan/perkataan. Sehingga mereka tidak akan mudah terpedaya oleh perkataan sebenarnya yang akan diungkap oleh pikiran kemudian ditransfer melalui bahasa tubuh. Dari bahasa tubuh itulah kita akan mengetahui jalan pikir orang yang menyampaikan suatu pesan kepada kita. Setiap gerak-geriknya perlu dipahami secara mendalam sebelum kita menginterpretasinya.

Dalam rangka menjaga dan mengantisisapasi dari kebohongan lawan bicara kita, buku ini bisa menjadi panduan utama dalam memahami bahasa tubuh yang digunakan oleh lawan bicara yang kita hadapi. Karena tidak sepenuhnya apa yang diutarakan oleh seseorang dalam bentuk ucapan atau tulisan itu benar. Terkadang mereka mempersuasi kita melalui ucapan hingga cara bicaranya begitu mengikat perhatian. Namun di balik itu semua, segala ucapan dan perkataannya benar (jujur) atau salah (bohong) bisa dideteksi dari bahasa tubuh yang digunakannya.

* Peresensi adalah pustakawan sekaligus penulis muda IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Advertisements

2 Responses to Bahasa Tubuh dan Perspektif dalam Berpikir

  1. Syukri Cut Ali says:

    Allhamdulillah semoga menjadi ILMU

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: