Anak Nakal, Tanggung Jawab Siapa?

RADAR SURABAYA ● MINGGU, 11 NOVEMBER 2012

Bapak atau ibu pengasuh rubrik Konsultasi Hukum yang saya hormati, akhirakhir ini saya melihat ada fenomena kenakalan anak, yang saya rasakan sudah sangat memprihatinkan. Meskipun usia mereka saya anggap masih belasan tahun, namun perilakunya sudah selayaknya orang-orang dewasa, tidak terkecuali, apakah mereka hidup di perkotaan atau di pedesaan.

Saya beri contoh, ada anakanak di daerah saya yang usianya mungkin baru 15 tahun, namun dengan tanpa sungkan mereka menggoda gadis-gadis remaja. Cara menggodanya pun juga sungguh keterlaluan. Misalnya dengan cara mencolek, bahkan ada yang dengan terangterangan mengelus pipi, serta mencuri cium para gadis yang sedang dijumpainya.

Tentu saja akibat ulahnya itu, banyak gadis yang berlarian ketakutan karena mungkin merasa risih, juga malu diperlakukan sedemikian rupa. Namun anehnya, begitu melihat korbannya berahamburan lari ketakutan, mereka malah bangga. Sambil tertawa, mereka mengolok-olok para gadis itu.

Lantas siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah mereka dapat dilaporkan ke pihak yang berwajib? Demikian, saya mohon pertanyaan saya ini dijawab. Sebelum dan sesudahnya, saya ucapkan terima kasih.

Diana

Di Malang

 

JAWABAN:

Jika ibu atau Mbak Diana menanyakan siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kenakalan anak, dan apakah bisa dilaporkan, jawabannya sebagai berikut. Terlebih dahulu, mari kita simak UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 di Bab X tentang Hak dan Kewa jiban antara Orang Tua dan Anak. Pada Pasal 45 Ayat (1) dijelaskan, kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anakanak mereka sebaik baiknya. Dipertegas pada Ayat (2), kewajiban orang tua yang dimaksud pada Ayat (1) itu berlaku sampai anak itu kawin atau berdiri sendiri, kewajiban ini berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus.

Tentang dapatkah anak nakal dilaporkan kepada pihak yang berwajib, jawabnya mari kita lihat ketentuan UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Dalam undangundang tersebut, pada Bab I Pasal 1 dijelaskan, yang dimaksud dengan anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. Itu artinya, bagi anak yang telah mencapai umur 8 tahun, tetapi belum mencapai umur 18 tahun dan belum pernah kawin, kemudian melakukan tindak pidana atau perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, maka perkaranya akan disidangkan di pengadilan anak. Peristiwa ini sering kita saksikan dalam persidangan anak di lingkungan peradilan umum.

Dalam UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak pada Pasal 1 Ayat (2) yang dimaksud dengan anak nakal adalah (a) anak yang melakukan tindak pidana atau (b) anak yang melakukan perbuatan yang dinya takan terlarang bagi anak, baik yang menurut peraturan perundang-undangan, maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Soal penyidikan terhadap anak nakal pada Pasal 42 Ayat (1), penyidik wajib memeriksa tersangka dalam suasana kekeluargaan. Pada Ayat (2) disebutkan, dalam melakukan penyidikan terhadap anak nakal, penyidik wajib meminta pertimbangan atau saran dari pembimbing kemasyarakatan dan bila perlu, juga dapat meminta pertimbangan atau saran dari ahli pendidikan, ahli kesehatan jiwa, ahli agama, atau petugas kemasyarakatan lainnya. Pada Ayat (3) dijelaskan, proses penyidikan terhadap perkara anak nakal wajib dirahasiakan.

Dalam pemeriksaan tersebut, sebagaimana disebutkan pada Pasal 5 Ayat (2), penyidik berpendapat, bila anak tersebut masih dapat dibina oleh orang tua, wali atau orang tua asuhnya, maka penyidik menyerahkan kembali anak tersebut kepada orang tua, wali, atau orang tua asuhnya._Namun pada ayat (3) disebutkan, bila menurut hasil pemeriksaan, penyidik berpendapat anak yang dimaksud tidak dapat dibina lagi oleh orang tua, wali atau orang tua asuhnya, maka penyidik menyerahkan anak tersebut kepada Departemen Sosial, setelah mendengar pertimbangan dari pembimbing kemasyarakatan. Demikian penjelasan dari kami, semoga bermanfaat bagi Saudara khususnya dan para pembaca Radar Surabaya umumnya.

2 Responses to Anak Nakal, Tanggung Jawab Siapa?

  1. Saya tidak setuju 100%, akan tetapi orang tua adalah ujung tombak yang bisa memberikan bimbingan kepada anaknya ke arah yang baik yang harus dilakukan sejak anak pada usia dini, maka dari itu peran orang tua amat sangat penting sebagai pembentuk karakter anak dalam tahap awal, jika tanggung jawab orang tua telah dilaksanakan, maka pada anak yang sudah dewasa, hal itu akan menjadi keputusan si anak walaupun peran orang tua masih ada.

    Like

    • junaidikhab says:

      iya, terimakasih atas komentarnya, itu merupakan jawaban dari rubrik konsultasi hukum yang saya posting, bisa lebih lanjut kirim via email ke rubrik konsultasi hukum.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: