Mengakhiri Sewa Rumah

RADAR SURABAYA ● MINGGU, 13 JANUARI 2013

Sebelum kedua orang tua kami meninggal, mereka menyewakan salah satu rumahnya ke temanya, tanpa dilengkapi dokumen perjanjian. Kini setelah kami (saya dan saudara-saudara) menganggap nilai sewanya terlalu kecil, sepakat ingin menyudahi sewa-menyewa tersebut. Terlebih ketika saya minta sewanya dinaikkan, ia keberatan.

Penghuni bersedia pindah jika diberi pesangon, yang besarnya hampir sama dengan nilai rumah jika dijual. Kami tidak setuju. Upaya apa agar bisa mengakhiri sewa-menyewa tersebut?.

Samsul,

Di Sidoarjo

 

JAWABAN :

Sewa-menyewa diatur dalam Pasal 1548 KUH Perdata. Sewa-menyewa rumah diatur khusus dalam Undang- Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Dalam pelaksanaan Pasal 12 dan 13, diterbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 44 Tahun 1994 tentang Penghunian Rumah oleh Bukan Pemilik.

Dalam perjanjian sewa-menyewa rumah, ada tiga unsur yang wajib dipenuhi: (1) adanya rumah yang disewakan, (2) ditetapkan nilai/harga sewanya, (3) ditetapkan jangka waktu persewaan tersebut. Apabila salah satu unsur tidak dipenuhi, maka perjanjian tersebut tidak memenuhi ketentuan perjanjian sewa-menyewa. Selain itu, PP Nomor 44/1994 Pasal 4 Ayat (1) bahwa penghunian rumah dengan cara sewa-menyewa didasarkan pada suatu perjanjian tertulis, antara pemilik dan penyewa. Perjanjian tertulis diperlukan karena berdasarkan praktik, jika terjadi sengketa, sulit diselesaikan karena tidak didasari oleh dokumen tertulis. Meskipun berdasarkan Pasal 1320 KUH Perdata tanpa tertulis pun suatu perjanjian sudah dapat dianggap sah.

Memperhatikan PP Nomor 44/1994, Pasal 21 Ayat (1 dan 2) menetapkan: (1) sewa-menyewa rumah, baik dengan perjanjian tertulis maupun perjanjian tidak tertulis yang tidak menetapkan batas waktu dan telah berlangsung sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992, dinyatakan berakhir dalam jangka waktu tiga tahun sejak berlakunya undang-undang tersebut, (2) dengan berakhirnya sewa menyewa rumah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), penghuni rumah atau penyewa dapat memperbarui sewa-menyewa berdasarkan perjanjian sewa-menyewa yang baru dengan pemilik.

Kesimpulannya, (1) semua perjanjian sewa-menyewa yang tidak ada batas waktu (baik yang tertulis maupun tidak), berdasarkan perundang-undangan dinyatakan berakhir tahun 1995, (2) sejak tahun 1995 sewa menyewa berakhir, perlu dibuatkan perjanjian baru, yang persyaratannya merupakan hasil kesepakatan kedua belah pihak (Pasal 1320 KUH Perdata). Apabila tidak terjadi kesepakatan, berarti pemilik rumah tidak menyewakan rumahnya dan penghuni harus meninggalkan rumah sewanya.

Demikian uraian kami, terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: