Buku dan Dosen Tantanganku

Annida Online, Inspirasi Tak Bertepi: Rabu, 11 Juli 2012 | Rubrik: Dapur Penulis

Penulis: Junaidi*

Menulis sebenarnya bukan bagian utama yang kucita-citakan sejak duduk di bangku kelas II SMA Pesantren Al-in’am Banjar timur Gapura Sumenep Madura pada tahun 2009. Cuma pernah menulis membuat cerpen dan dikirim ke salah satu buletin, namun tidak dimuat itu pun karena terpaksa disuruh oleh teman karena ada undangan mengirimkan cerpen dari sekolah lain. Entah karena apa, mungkin juga karena jelek atau bagaimana.

Memang diakui pada saat itu aku tidak begitu tertarik dengan dunia tulis menulis, apalagi di media nasional. Di tingkat sekolahan saja tidak mampu menembus bulletin yang tidak seberapa terkenalnya. Bagaimana di tingkat Nasional?

Setelah lulus SMA rencanaku akan kuliah ke Jombang. Namun, takdir berjalan beda dengan keinginanku. Ada ponakan sepupuku (anak sepupuku: Rahbini) yang lulus magister di UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) Jogjakarta memberikan brosur IAIN Sunan Ampel (Supel) Surabaya untuk putaran gelombang yang kedua. Lalu aku menyetujuinya untuk masuk di IAIN Supel.

Ternyata setelah aku masuk di IAIN Supel dituntut untuk menulis. Wah, ini menjadi tantangan tersendiri bagiku. Karena memang sejak awal aku kurang suka dunia tulis menulis. Pertama kali tinggal di Surabaya aku bertemu dengan sosok senior penulis bebas yang juga kuliah di IAIN Supel, Ach. Syaiful A’laa. Ternyata di juga teman Rahbini. Dia yang mengajakku untuk menulis pertama kalinya.

Setelah beberapa hari kenal dan berbincang-bincang, dia langsung menawarkan sebuah buku untuk diresensi oleh diriku. Aku langsung menerimanya dan kemudian bertanya banyak tentang kepenulisan khususnya tentang penulisan resensi yang baik.

Saat aku tinggal bersama A’laa dalam satu kosan, dia memberikan beberapa pencerahan tentang kepenulisan. Pada saat itu aku agak kikuk karena tidak tahu sama sekali tentang kepenulisan. Tiba-tiba di sela perbincanganku dengan A’laa, teman sekamar dengan A’laa menawarkan pemakaian komputer padaku, Ach. Shiddik Rokib. Dia juga memberikan sumbangsih dalam dunia kepenulisanku.

Buku yang dipinjamkan oleh A’laa padaku yaitu berjudul “Obama dan Amerika di Mata Nahdliyyin”. Berselang beberapa minggu buku itu berhasil kuresensi menggunakan komputer kepunyaan Shiddiq. Kata A’laa resensi itu harus dikirim ke DUTA MASYARAKAT Surabaya untuk pertama kalinya. Kuturuti nasehatnya untuk mengirimkan ke media tersebut. Namun sayang, sampai beberapa kali resensiku itu tidak dimuat-muat sampai beberapa bulan lamanya. Sungguh nahas!

Saat itu aku sambil menulis dan membaca dan masuk kuliah sebagaimana biasanya sebagai mahasiawa jurusan Sastra Inggris fakultas Adab IAIN Supel semester satu. Ada hal yang mengganjal dalam benakku pada salah satu dosenku. Beliau pengajar materi bahasa Indonesia. Kata teman-teman sekelasku beliau dosen yang “killer”. Memang beliau killer, namun disiplin.

Kalau aku melihat dari sisi kekillerannya aku tidak suka dengan dosen tersebut. Namun aku melihat dari sisi keilmuannya. Beliau memang ahli dan bagus dalam pengajaran bahasa Indonesia. Bagaimanapun killernya, beliau juga merupakan dosen yang memancingku untuk menembus media secara tidak langsung.

Bagaimana tidak. Pada saat beliau mengajar, anak-anak angkatanku disuruh membeli buku karangannya yang berjudul “Bahasa Indonesia Teori dan Aplikasi” karena memang buku itu menjadi panduan yang diajarkan di kelas. Wah, pada waktu itu aku terpaksa membelinya meski dengan harga Rp. 40.000,-, itu dengan alasan takut dimarahi, padahal aku sebagai orang baru di Surabaya harus menghemat uang untuk biaya hidupku. Namun aku berpikir lagi, nanti dengan buku itu uang yang kubayarkan akan terganti kalau tulisanku sudah dimuat di media.

Kini yang menjadi sasaran, aku harus meresensi buku yang dibeli dari dosen bahasa Indonesia tadi. Buku yang dipinjemi oleh A’laa tidak begitu kuhiraukan karena sudah berbulan-bulan tidak laku ke media yang kutuju. Kini buku dan dosen itu menjadi tantanganku untuk terus menulis. Buku yang kubeli itu kulahap hingga paham mengenai isi buku tersebut dan menuliskannya dengan bentuk resensi. Itu tanpa sepengetahuan A’laa, aku diam-diam pindah pada buku dosenku. Sekarang aku tinggal mengirimkannya ke media sesuai petunjuk A’laa dengan beberapa email media yang telah kukantongi darinya sejak lama.

Pada hari Kamis 4 November sekitar pukul 21:00 WIB. Aku sudah berada di depan komputer di salah satu warnet di Surabaya, dengan tujuan mengirim tulisanku. Meluncurlah tulisanku ke Jawa Pos pada malam itu. Hanya tinggal menunggu hari Minggu. Karena memang kolom untuk tulisanku hanya khusus hari Minggu saja.

Sabtu 5 November sekitar pukul 19:00 WIB. Rahbini menelponku, wah dia malah bertanya tentang perkembangan kepenulisanku. Memang sebelum itu tulisanku tidak pernah muncul di media. Sehingga dia menelpon dan menyindirku. “Makanya, itu salahmu tidak belajar menulis sejak duduk di bangku sekolah”. Wah, kata-katanya sungguh pedas, namun tidak sepedas cabe rawit. Dalam hatiku berkata “Tunggu saja nanti! Aku juga jarang melihat tulisanmu”.

Hari Minggu kini sudah tiba, pada tanggal 7 November 2010. Aku tidak mengurus tulisanku dimuat atau tidak. Cuma iseng jalan-jalan ke loker koran ke selatan dari kosku, aku tidak melihat tulisanku di koran Jawa Pos. Pulang dengan perasaan putus asa. Diam di kamar. Memikirkan kata-kata Rahibini malam itu sekaligus malu dengan kata-kata yang kudengungkan dalam hati.

Eh, tanpa kuduga ternyata setelah keluar dari kamar aku bertemu A’laa. Dia bilang kalau tulisanku dimuat hari itu di Jawa Pos tepatnya pada kolom DI BALIK BUKU dengan judul “Hati-Hati dalam Menulis Surat”. Aku kaget sekaligus bahagia. Lalu aku segera meluncur kembali ke loker koran dan langsung membeli satu koran Jawa Pos. ternyata benar apa yang dikatakan oleh A’laa. Tulisanku dimuat. Rasa banggaku tidak ada bandingannya. Aku mengirim SMS ke teman-temanku yang ada di Jogjakarta termasuk ke Rahbini entah di mana ia berada bahwa tulisanku dimuat di Jawa Pos.

Itu tulisan pertamaku yang dimuat di media. Kemudian berbagai tulisanku bermunculan di berbagai media lainnya. Bukan hanya resensi, akan tetapi opini-opini dan gagasanku mampu menembus beberapa media lainnya. Puji syukur kupanjatkan kepada Allah Swt. Uang yang kugunakan untuk membeli buku ke dosenku itu kini sudah kudapat kembali. Bahkan lebih dari harga buku yang kubeli. Sungguh Allah Maha Adil dan Bijaksana.

Teman-teman menyebutku sebagai penulis Jawa Pos pada saat itu. Hahaha… Dengan itu, aku merasa malu dan tertantang lagi untuk menulis lebih kreatif. Untuk saat ini, menulis menjadi teman keseharianku, tidak ada teman yang menemaniku kecuali abjad-abjad yang kurajut dengan penuh saksama.

Apapun tantangan dan kendalanya, tidak ada alasan untuk tidak menulis. Semangat bisa muncul dari berbagai objek. Cuma tinggal kitalah yang harus berbenah diri dan melihatnya dari sisi positifnya. Senegatif apapun suatu perkara, jika kita melihat pada sisi positifnya hal tersebut akan bernilai positif dan akan menjadi senjata yang ampuh dalam menjalani hidup ini. Termasuk dalam dunia kepenulisan menembus media, bukan hal yang tidak mungkin. Bagiku, dosen yang ‘killer’ ternyata mampu menjadi pemacu dan pemicu untuk menulis.

Semangat menulis dan publikasikan karya!

* Penulis adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.

http://www.annida-online.com/artikel-5741-buku-dan-dosen-tantanganku-.html

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: