Gus Dur Pembela Kaum Minoritas

RADAR SURABAYA ● Minggu, 6 Januari 2013

Junaidi Khab's Bapak Tionghoa Indonesia

Junaidi Khab’s Bapak Tionghoa Indonesia

Judul               : Bapak Tionghoa Indonesia

Penulis             : MN. Ibad dan Akhmad Fikri AF

Penerbit           : LKiS

Cetakan           : II, 2012

Tebal               : x+170 halaman; 12 x 18 cm

ISBN               : 979-25-5345-2

Peresensi         : Junaidi*

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah tokoh avant-garde dalam memperjuangkan hak-hak kaum minoritas di Indonesia. Pembelaannya telah mendapat pengakuan dari masyarakat nasional dan dunia internasional. Gus Dur telah berkali-kali mendapat penghargaan sebagai pembela rakyat kecil yang marjinal dan tertindas.

Perjuangan Gus Dur yang bersifat beyond symbols pada dasarnya bersumber dari pemikiran keislamannya yang universal dan toleran. Nilai-nilai universal dan toleran dalam Islam bagi Gus Dur adalah muatan dari ajaran Islam yang mengedepankan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keterbukaan. Yakni, suatu keterbukaan yang membuat kaum muslim mampu menyerap nilai budaya dan wawasan keilmuan yang beragam dari berbagai peradaban yang saling bersinggungan, sebagai akibat dari semakin meluasnya pergaulan dunia (Hal. 3-4).

Demikian merupakan uraian yang cukup rasional dari penulis dalam menelisik tentang teoritis pemahaman Gus Dur terhadap sebuah agama Islam yang dianggapnya sebagai agama yang memiliki nilai-nilai yang cukup luas dalam mengatur kehidupan umat manusia. Pada kenyataannya bukan hanya Gus Dur yang memiliki pemikiran untuk mempertahankan hak-hak mereka yang minoritas. Akan tetapi tiap-tiap individu memiliki kerangka teoritis yang hampir senada dengan apa yang Gus Dur perankan dalam membela hak-hak kaum minoritas, namun belum bisa direalisasikan.

Keinginan dan kenyataan kita terkadang tidak akan selalu berbarengan. Maka dari itulah Gus Dur sebagai sosok pemberani dalam mengaplikasikan hasrat dan impiannya dalam mengimplimentasikan nilai-nilai ajaran Islam yang universal. Salah satunya dengan memberikan ruang bebas bagi kaum minoritas dan mempertahnakan hak-haknya yang selalu dibelenggu oleh kaum mayoritas. Misalkan terhadap kaum minoritas Tionghoa yang ada di Indonesia, Gus Dur sangat mengedapankan dalam membela hak-haknya. Karena secara tidak langsung kaum minoritas Tionghoa memberikan kontribusi dalam merebut kemerdekaan negara Republik Indonesia.

Selain itu pula, sebagian besar pemuka Islam termasuk Wali Sanga menurut Gus Dur adalah keturunan Tionghoa dan ia sendiri merupakan keturuan Tionghoa dari Tan Kim Han. Tan Kim Han menurut Gusdur menikah dengan Tan A Lok yang merupakan saudara kandung Raden Pattah (Tan Eng Hwa), dan keduanya adalah anak dari putri Campa (putir Tiongkok) yang merupakan selir dari Raden Brawijaya V. Sehingga pernyataan Gus Dur ini menjadi kontroversi di kalangan sejarawan yang telah membukukan bahwa Islam itu ada yang mengatakan datang dari Gujarat, dan sebagian dengan beberapa peninggalan mengatakan berasal dari Timur Tengah (Hal. 84-85).

Kegigihan Gus Dur dalam mempelopori penegakan keadilan dengan memberikan hak-hak bagi kaum minoritas perlu kita jadikan sebagai paradigma. Karena itu semua merupakan nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran agama Islam yang jarang diimplimentasikan oleh para penganutnya. Maka dari itulah Gus Dur dengan pemikirannya memulai dari dirinya sendiri dalam mengaplikasikan nilai-nilai keuniversalan ajaran Islam.

Gus Dur dalam memandang keislaman lebih menekankan pada prinsip-prinsip dasar untuk menjadi ‘muslim yang baik’ sebagaimana diajarkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an bahwa ada lima syarat yang harus dipenuhi seorang muslim untuk dianggap sebagai muslim yang baik, yaitu menerima prinsip-prinsip keimanan, menjalankan ajaran (rukun) Islam secara utuh, menolong mereka yang memerlukan pertolongan (sanak saudara, anak yatim, kaum miskin, dan sebagainya), menegakkan profesinalisme, dan bersikap sabar ketika mengahdapi cobaan dan kesusahan (Hal. 95-96).

Sangat mulia apa yang menjadi keinginan Gus Dur dalam mempertahankan hak-hak kaum minoritas dengan mengaplikasikan nilai-nilai luhur ajaran agama Islam yaitu menolong bagi mereka yang membutuhkan pertolongan tanpa memandang bulu. Seperti halnya ketika masa Rasullah Saw., beliau selalu memberi pertolongan kepada mereka yang membutuhkan bahkan termasuk tetangga yang non-muslim. Dengan demikian, pandangan umat terhadap suatu agama, termasuk Islam tidak akan negatif dan penuh dengan kesadaran terhadap ajaran yang dibawanya. Sehingga dengan sifat demikian, mereka bisa membedakan mana yang harus menjadi panutan dan mana yang harus mereka tinggalkan.

Secara garis besar buku ini mengupas tentang sepak terjang Gus Dur dalam mempertahankan kaum Minoritas, termasuk di antaranya masyarakat Tonghoa yang ada di Indonesia yang sejak lama mendapat perlakuan tidak adil dari pemerintah. Namun, sejak Gus Dur berani tampil ke muka dengan pendekatan pada teoritis ajaran agama Islam yang universal, maka kaum minoritas lambat laun memperoleh hak-haknya. Peranan seorang Gus Dur bukan hanya sebagai sosok kiai, akan tetapi beliau sosok figur yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh agama Islam. Maka dari itulah Gus Dur memberanikan diri untuk mencalonkan sebagai presiden Republik Indonesia yang mana tujuannya untuk membuka dan memberikan hak-hak kaum minoritas yang didominasi oleh kaum elit.

* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: