Nasib Masyarakat Miskin di Era Korupsi

RADAR SURABAYA ● Minggu, 6 Maret 2011

Junaidi Khab's

Junaidi Khab’s

Judul          : Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan

Penulis       : Dr. Moeslim Abdurrahman

Enerbit       : Kanisius

Tebal          : 296 halaman

Cetakan      : II, 2010

Peresensi    : JUNAIDI *

Dalam dunia kepartaian, yang sekarang ini kenyataannya menjadi penguasa dalam rezim politik nasional, ide untuk memperjuangkan demokrasi sosial sudah barang tentu sulit diharapkan,. Sebab, partai-partai lama itu majusebenarnya belum berubah ke arah reformatif. Partai-partai ini masih tetap sebagai wajah politik aliran.

Dilihat dari perspektif orang miskin, perjalanan “demokrasi” yang kini tidak hanya terjadi di Negara-negara maju di Barat, tapi di negeri kita sendiri sidah memperlihatkan sebagai kelembagaan proses politik yang mahal, ada yang mengatakan bahwa pada dasarnya demokrasi merupakan sistem politik dari “orang kaya” untuk “orang kaya”. Hanya orang-orang berduit saja yang benar-benar melihat manfaat dari hasil suatu pemilahan umum, misalnya. Apalagi di zaman media, jangan coba-coba menjadi seorang  kandidat yang bertaruh dalam pemilihan umum, pilkada atau merebut jabatan ketua sebuah partai saja, jangan maju kalau  tidak punya uang. Sebab, kultur demokrasi kita sudah dibajak oleh kekuatan uang. Seorang calon yang ingin menang harus membayar mahal untuk membeli kemasan politik media yang tentu lebih dianggap penting pengaruh kemasannya dari pada isi kemasannya, sseperti soal visi dan gagasan politik apa yang diusungnya.

Dari buku yang ditulis oleh Abdurrahman ini membahas tentang rakyat, di mana pun, pasti mendambakan pemerintahan yang baik, kuat, mampu melindungi rakyat dan kedaulatan politiknya. Apalagi rakyat miskin (yang sekarang ini jumlahnya semakin membengkak akibat naiknya angka pengangguran yang tak terkendali). Mereka sesungguhnya tidak mungkin hidup dengan rumusan”konstitusi” yang baik yang biasanya riuh rendah diperdebatkan oleh partai-partai. Mereka butuh program nyata dari pemerintah untuk kesejahteraan mereka. Oleh karena itu, saya kira dibutuhakan adanya simbol kekuatan politik rakyat yang baru, terutama yang berorientasi politik berbasis komunitas, yang mampu memberikan ruang politik bagi rakyat untuk bersuara. Adalah suatu kenyataan bahwa kalangan yang paling dirugikan sekarang ini adalah mereka yang ada di akar rumput. Dalam situasi politik yang dibajak oleh elite sekarang ini, salah satu kelemahan yang mendasar untuk memperjuangkan politik emansipatoris adalah miskinnya orang-orang miskin dan kaum mustadl’afin lainnya, di mana mereka tidak memilih institusi, baik ekonomi, politik, bahkan keagamaan.

Ini sesungguhnya adalah teater global perjuangan umat manusia dalam lingkungan sosial dan sejarahnya di mana-mana. Suatu perjuangan umat yang universal tatkala nexus kental menggurita tanpa mengenal identitas bangsa, budaya dan agama. Pada aras ini, perjuangan untuk mancapai kehidupan dunia yang lebih adil merupakan cita-cita kemanusiaan yang harus diperjuangkan secara barsama-sama. Ini adalah jihad dari setiap orang yang mazlum, korban dari hegemoni politik dan ekonomi kapitalis.

Abdurrahaman mengungkap melalui buku ini bahwa dia belum pernah mendengar ada orang yang menyelidiki apakah tumpukan sampah memang meningkat jauh, baik yang ada di tong-tong tersebut ataupun yang ada di lokasi pembuangan akhir. Namun, sekadar pengamatan pribadi, saya lihat keadaannya memang seperti itu. Cobalah sekali-kali perhatikan saudara-saudara kita yang menjadi pemulung atau pemungut sampah itu. Dalam bulan Ramdhan, terutama anak-anak mereka, lebih rajin dan lebih pagi datang ke tempat-tempat sampah itu. Mengapa? Sepulan dari sembahyang subuh, saya pernah bertanya kepada anak-anak pemulung itu. Mereka mengatakan semua itu dilakukan selainan dorongan gairah yang menyenangkan melihat jumlah sampahnya lebih banyak, juga karena siapa tahu ada juga sisa-sisa makanan  dari buka dan sahur orang-orng kaya yang dibuang di sana”. Ungkap Abdurrahman.

Liputan media tentang tradisi berbuka puasa itu, memang dengan sendirinya juga agak redup. Dan cobalah datang ke mall-mall , atau hotel-hotel berbintang, pada waktunya berbuka rasanya sepi dan sedikit lengang. Tidak hanya itu, kerakusan orang berbelanja untuk persiapan buka dan sahur juga kelihatannya tidak “serakus” sebelumnya. Agak sulit dibaca  sebagai pertanda bahwa elite Negara ini tetap saleh dan sangat menghormati bulan suci. Sebab para pejabat ini sama sekali tidak peka terhadap nasib rakyat yang hidupnya menderita. Apa yang mereka lakukan tidak lebih dari sekadar memanfaatkan Ramadhan sebagai kesempatan “buka puasa” politik.

Semua itu tak ada kaitannya dengan keadaan rakyat yang sudah “berpuasa” jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan datang. Oleh karena itu, acara berbuka puasa para petinggi Negara pastilah akan dimaknai oleh public bahwa hal itu merupakan suguhan politik dalam rangka berbagi kekuasaan yang tidak mendatangkan empati rakyat.

Menarik sekali, buku yang di tulis oleh Dr. Moeslim Abdurrahman ini, isinya merupakan kritik terhadap para petinggi Negara dengan sindiran keadaan rakyat bawah yang hidupnya sengsara  yang kebanyakan tidak mendapat perhatian yang serius dari mereka, sehingga kehidupannya banyak menjadi pemulung dan pengemis. Buku ini juga berisi beberapa kritikan yang cukup mendukung bagi petinggi Negara untuk membangun demokrasi, dan humanisasi tanpa harus memilih antara yang kaya dengan yang miskin. Begitu juga berisi tentang bagaimana Dr. Moeslim Abdurrahman menyadarkan kelompok mayoritas (orang kaya) agar mau menyumbangkan hartanya bagi mereka yang membutuhkan, juga membahas tentang penyebab adanya teroris yang dilakukan oleh para pemuda.

* Penulis adalah lulusan SMA Al-In’Am Banjar timur Gapura Sumenep Madura, dan sekarang melanjutkan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Sastra Inggris(SI).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: