Meyosialisasikan Islam yang Toleran

DUTA MASYARAKAT: Minggu, 26 Maret 2011

Junaidi Khab's Cover

Junaidi Khab’s Cover

Judul          : NU dan Civil Islam di Indonesia

Penulis                 : Abdul Rauf

Penerbit         : PT. Intimedia Cipta Nusantara

Cetakan               : I, 2010

Tebal                    : 248 Halaman

Peresensi           : JUNAIDI *

Dalam konteks masyarakat muslim Indonesia, persoalan mendasar untuk menumbuhkan masyarakat yang kukuh terletak pada sikap konservatif mereka dalam memandang ajaran dan keyakinan yang mereka anut. Baik yang ada di Muhammadiyah maupun di Nahdltul Ulama (NU), serta organisasi keagamaan lainnya, masih terperangkap pada sikap untuk melihat identitas kelompoknya sebagai representasi civil society. Sikap konservatif ini nampak pada dua organisasi iti, terutama ketika bersikap eksklusif dengan beberapa kelompok lain maupun terhadap gagasan baru yang datang dari kelompok di luar komunitas mereka.

Buku yang ditulis oleh Abdul Rauf ini memaparkan bahwa masyarakat muslim Indonesia, sebagai kelompok mayoritas di negeri ini, memiliki potensi besar untuk memberi kontribusi dalam menentukan arah, kebijakan dan kemajuan bangsa ini demi kelangsungan bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Untuk mewujudkan hal itu, masyarakat muslim Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan diri sebagai civil society, satu gerakan keagamaan yang santun, ramah, dan humanis sebagaimana sifat asli agama-agama. Dalam pandangan penulis, civil Islam juga diartikan sebagai komunitas Islam yang telah mengembang dan menumbuhkan civil society, yang bermuara pada nilai-nilai civility (keadaban). Tujuan yang hendak dicapai dari civil Islam adalah tumbuhnya nilai-nilai demokrasi, pluralisme, toleransi, penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), dan keadilan social.

Selanjutnya, masyarakat muslim ini diharapkan akan menjadi penyumbang terbesar bagi lahirnya masyarakat Indonesia yang demokratis dan berperadaban luhur. Satu garakan yang kelak akan menampilkan citra Islam di Indonesia sebagai agama yang penuh kasih saying, tidak kejam dan tidak menakutkan. Pendeknya, kaum muslim dituntut untuk menghadirkan dan mengembangkan nilai-nilai civility (keadaban) serta membumikannya sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Dengan demikian, masyarakat muslim akan memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan menyejahterakan rakyat.

Keterlibatan peran serta agama dalam menciptakan tatanan masyarakat yang ideal, sudah disadari sejak lama. Keduanya memiliki misi yang sama dalam kehidupan profan, yakni merealisasikan kebahagiaan hidup manusia di dunia, menciptakan kemaslahatan bersama, serta mengatur hubungan sesama umat manusia.

Titik temu antara agama dengan Negara terlihat dari corak kebudayaan suatu bangsa. Semua kebudayaan, baik primitif ataupun modern, tidak bisa lepas dari pengaruh agama yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat itu. Begitu pula dengan masalah demokrasi, pluralisme, kebebasan manusia, dan penghargaan terhadap HAM, masing-masing agama mempunyai peran yang sangat penting dalam proses sosialisasi dan pengajarannya. Dalam konteks ini, membicarakan NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia sangatlah relevan. Pasalnya, dua ormas Islam ini memiliki kekuatan untuk menentukan warna hitam dan putihnya bangsa Indonesia. Sebagai ormas Islam, dua organisasi ini juga telah terbukti ikut meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup rakyat Indonesia sejak masa prakemerdekaan hingga era pascareformasi. Oleh karena itu pula, kehadiran civil Islam merupakan keniscayaan bagi proses tumbuhnya masyarakat sipil di Indonesia.

Adapun prasyarat untuk menghadirkan diri sebagai pelopor civil Islam adlah semua kelompok Islam harus memegang nilai-nilai civility. Selain itu, tidak selamanya sebuah komunitas harus berhadapan dengan Negara atau kekuasaan.

Abdul Rauf juga mengingatkan dalam buku ini, bahwa untuk menghadirkan dan merumuskan wacana civil society, NU mempunyai kendala-kendala yang muncul dari internal maupun eksternal. Menurut A.S. hikam di dalam buku Abdul Rauf ini, kendala internal muncul sebagai hasil dinamika internal organisasi yang menyangkut beberapa masalah, yaitu: Pertama, perbedaan tafsiran tentang kerangka-kerangka normatif. Kedua, struktur kelembagaan organisasi. Ketiga, masalah kemimpinan.

Adapun masalah eksternal muncul dari hasil hubungan dialektis antara NU dengan kekuatan-kekuatan di luarnya. Mengenai hal ini, Negara dan struktur politik ekonomi, makro adalah faktor dominan yang menjadi pengaruh negatif bagi kiprah NU, saat ini dan masa depan. Di samping itu, dinamika gerakan dan kekuatan-kekuatan Islam di luar NU berdampak bagi perkembangan NU, begitu pula interaksinya dengan organisasi sosial dan politik yang ada di negeri ini. Problem seperti inilah yang dialami NU dalam merumuskan masyarakat ideal.

Komitmen NU untuk menghadirkan diri sebagai civil Islam, juga diwujudkan dengan sikap independen terhadap kekuasaan Negara. Pondok pesantren, misalnya, sebagai basis Nu dan yang menjadi pusat munculnya tarekat, tidak dapat dihegemoni. Negara. Dalam sejarahnya, pondok pesantren mampu menyediakan kesmpatan belajar bagi masyarakat pedesaan tanpa bergantung dengan dan dan fasilitas dari Negara. Lembaga pendidikan tradisional ini secara mandiri mampu membiayai kebutuhan belajar-mengajarnya meskipun dengan segala keterbatasannya.

Nah, buku ini dimaksudkan sebagai bagian dari usaha memahami dinamika pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia, utamanya menunjukkan peran organisasi social keagamaan NU dalam menubuhkan civil Islam di Indonesia. Lebih dari itu, informasi dalam buku ini bisa memberikan kontribusi bagi tumbuhnya Islam yang humanis, Islam yang rahmah lil ‘alamin.

Dalam konteks inilah, buku NU dan civil Islam di Indonesia yang ditulis oleh Abdul Rauf ini sangat layak dibaca oleh masyarakat luas dan sangat penting untuk mengingatkan dan memotivasi warga nahdliyyin, khusunya, dan umat Islam di Indonesia secara umum, agar tidak bosan menjadi muslim yang civilized, muslim yang siap menebarkan kebaikan dan kasih saying untuk kalangan luas (rahmah lil ‘alamin). Hal ini sangat penting mengingat di berbagai daerah termasuk juga di Indonesia akhir-akhir ini marak terjadi kekrasan yang mengatasnamakan agama (Islam)

            * Penulis adalah lulusan SMA Al-In’Am Banjar timur Gapura Sumenep Madura, dan sekarang melanjutkan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Sastra Inggris(SI).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: