Menelaah Sejarah Aswaja di Indonesia

DUTA MASYARAKAT: Minggu 3 Juli 2011

Junaidi Khab's Cover

Junaidi Khab’s Cover

Judul               : Pengantar Sejarah Ahlussunnah Wal-Jama’ah

Penulis             : Muhammad Idrus Ramli

Penerbit           : Khalista Surabaya

Cetakan           : I, Juni 2011

Tebal               : xii+200 hlm. 14,5 x 21 cm

Peresensi         : Junaidi*

Proses transmisi  ajaran-ajaran agama dalam islam memiliki kekhasan, keunikan dan keistimewaan tersensidri dengan terbangunnya struktur genealogi (sanad) yang kokoh dan berkesinambungan dari generasi ke generasi. Hal ini tidak dimiliki oleh agama-agama yang lain., semisal pengikut agam Yahudi dan Nasrani. Umat-umat Yahudi dan Nasrani tidak memiliki sanad yang bersambung tentang ajaran-ajaran mereka dari generasi ke generasi berikutnya. Berbeda dengan umat Islam, di mana setiap ajaran agamanya selalu memiliki struktur sanad yang berkesinambungan dari generasi ke generasi berikutnya.

Di dalam buku karya Ramli ini menjelaskan bahwa Ahlussunnah waljamaah sebagai umat Islam yang mengikuti ajaran Islam yang murni dari nabi Muhammad saw., dan para sahabatnya, memiliki kekhasan, keunikan, dan keistimewaan terbaik dalam hal struktur sanad tersebut, termasuk pula umat islam di Indonesia yang mayoritas ahlussunnah waljamaah dengan madzhab alasyari dan almaturidi. Dalam brbagai bidang ilmu pengetahuan keislaman tentang alquran, ilmu tafsir, hadits, ilmu hadits, teologi, ilmu fiqh, ushul fiqh, gramatika, bahasa dan lain sebagainya, Ahlussunnah Waljamaah yang dalam hal ini mengikuti mdzhab al-Asy’ari dan al-Maturidi memiliki sanad yang kokoh dan dipercaya dari generasi ke generasi berikutnya. Bahkan diakui oleh para pakar, bahwa setiap sanad ilmu pengetahuan keislaman yang sampai keapada kaum Muslimin dewasa ini pasti mata rantai sanadnya melalui jalur pengikut madzhab al-Asyari dan al-Maturidi.

Di Indonesia, transmisi ajaran madzhab al-Asy’ari dan al-Maturidi sejak awal dibangun oleh para penyebar Islam di kepulauan nusantara ini melalui para ulama yang tergabung dalam organisasi Wali Sango. Berdasarkan temuan dan catatan para sejarawan, ditegaskan bahwa Wali Sanga dalam hal fiqh mengikuti madzhab al-Syafie dan dalam hal teologi mengikuti madzhab al-Asy’ari. Tentu saja ajaran-ajaran yang mereka ajarkan bersumber dari generasi ulama sebelum mereka dalam struktur genealogi yang kokoh. Namun saying sekali, struktur genealogi Wali Sanga dari generasi sebelum dan kepada generasi penerus mereka belum dijumpai dalam bentuk catatan tertulis yang bisa untuk dilacak dan sampai kepada kita. Struktur genealogi ajaran madzhab al-Asyari di Indonesia yang dapat dijumpai secara tertulis dan sampai kepada kita baru ditemukan pada para ulama kita pada abad ke-19 Masehi, yang secara langsung belajar dari Makkah Almukarromah. Di antaranya adalah struktur genealogi keilmuan yang sampai kepada generasi ulama seangkatan KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama pendiri Nahdlatul Ulama di tanah air Indonesia ini.

Penjelasan mengenai kehidupan Abu Manshur Almaturidi dan Abu Alhasan al-Asy’ari cukup jelas, bahwasanya mereka hidup pada masa yang bersamaan. Keduanya berupaya memperjuangkan hal yang sama, yaitu mengembalikan akidah umat Islam kepada ajaran salaf yang saleh. Hanya saja lingkungan kehidupan keduanya berbeda. Al-Asy’ari hidup berdekatan dengan kamp pihak lawan. Ia hidup di kota Bashrah, tempat lahir dan berkembangnya Mu’tazillah. Perseteruan keras antara Fuqaha dan Ahl Hadits di satu pihak melawan Mu’tazillah di pihak lain terjadi di Irak, yang Bashrah merupakan salah satu kota besarnya. Sedangkan Abu Manshur al-Maturidi hidup di tempat yang jauh dari medan pertempuran, akan tetapi gaung pertempuran tersebut menggema ke berbagai penjuru bumi, termasuk di daerah al-Maturidi tinggal. Di negeri seberang sungai Amudarian, tempat tinggal al-Maturidi sendiri, juga terdapat orang-orang Mu’tazillah yang ikut serta dalam menggemakan pandangan-pandangan Mu’tazillah di Irak, dan al-Maturidi juga ikut serta menghadapi mereka.

Berhubung lawan yang dihadapi oleh al-Maturidi dan al-Asy’ari sama, maka hasil yang dicapai oleh keduanya pun hampir sama, meskipun tidak sama persis. Banyak juga para pakar yang meyakini bahwa perselisihan antara pengikut al-Asy’ari dan pengikut al-Maturidi tidak begitu besar. Bahkan sebagian pakar ada yang menyatakan bahwa perbedaan antara keduanya tidak lebih dari sepuluh persoalan, dan itupun perbedaan yang bersifat tekstual (lafdzhi), tidak bersifat kontekstual (ma’nawi).

Akan tetapi berdasarkan kajian yang mendalam terhadap kesimpulan akhir pandangan-pandagan al-Maturidi dan al-Asy’ari didapati bahwa antara keduanya terdapat perbedaan dalam paradigm pemikiran dan kesimpulan yang dicapai oleh keduanya. Karena demikian, menurut Abu Zahrah, golongan al-Maturidi memberikan peran yang cukup besar terhadap nalar tanpa berlebih-lebihan, sedangkan golongan al-Asy’ari membatasi diri dengan dalil-dalil naqli dan memperkuatnya dengan sungguh-sungguh, sehingga seorang peneliti akan mudah mengambil kesimpulan bahwa madzhab al-Asy’ari berada di garis antara Mu’tazillah di sati sisi, dan Ahl Fiqh dan ahli hadits di sisi lain. Sementara golongan al-Maturidi berada di antara Mu’tazillah dan Asy’ariyah.

Sebagian pakar ada yang mengembalikan latar belakang perbedaan madzhab al-Asy’ari dan al-Maturidi terhadap perbedaan latar belakang madzhab fiqh keduanya, di mana al-Asy’ari mengikuti madzhab al-Syafie, sedangkan al-Maturidi mengikuti madzhab Hanafi. Sudah dimaklumi, bahwa ushul fiqh dalam madzhab al-Syafie berbeda dengan ushul fiqh dalam madzhab Hanafi. Hal ini yang membawa pada perbedaan karakter pemikiran keduanya.

Mengkaji dan membaca buku ini bagaikan kita membaca buku-buku sejarah tentang perjuangan umat Islam dan perjuangan rakyat Indonesia dalam menuju kehidupan yang makmur, aman, dan sentosa. Buku ini memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman tentang bangkitnya beberapa pemikiran rakyat yang berkembang di Indonesia. Tidak hanya itu saja, buku ini memberikan beberapa substansi, cara, dan sifat menjadi seorang pemimpin dengan menggunakan kebijakan yang diatur di dalam ajaran agama Islam. Buku ini juga banyak memberikan beberapa contoh madzhab Islam yang sangat populer dan banyak pengikutnya di Indonesia, yaitu madzhab Al-Asy’ari dan madzhab Al-Maturidi.

 

* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.

One Response to Menelaah Sejarah Aswaja di Indonesia

  1. junaidikhab says:

    Sungguh baik untuk dipelajari.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: