Mencermati Reformasi Pemikiran Hukum Islam

RADAR SURABAYA ● Minggu, 13 November 2011

Junaidi Khab's Cover

Junaidi Khab’s Cover

Judul          : Pembaruan Islam dari Mana dan Hendak ke Mana?

Penulis       : Abdou Filali-Ansary

Penerbit     : mizan

Tebal         : 335 Halaman

Harga        : Rp. 20.000;

Peresensi   : Junaidi*

Dalam konteks semangat reformasi kaum Muslim inilah berkembang aliran pembaru keagamaan yang disebut gerakan Salafi atau mazhab Salafiyah (Jamal al-Din al-Alghani, Muhammad Abduh). Pengarang menunjukkan bagaimana gerakan ini pertama-tama merupakan sebuah reaksi yang terbawa oleh kesulitan-kesulitan yang ditemukan oleh Tanzimat. Itu karena yang disampaikan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali model Islam dalam “kemurnian aslinya” sebenarnya merupakan aliran yang amat dipengaruhi oleh ide-ide yang sedang populer di kaum kanan Eropa pada abad ke-20.

Jadi, pada dasar konsep-konsep yang disusun aliran ini, terdapat ide adanya permanen baik pada bangsa-bangsa maupun pada ciri-ciri khas kebangsaan, serte ide adanya suatu pemisahan pokok antara diri (identitas) dan orang lain (lawan atau musuh warisan). Agama dianggap sebagai instink alamiah yang mendefinisikan keanggotaan, yakni semangat dari suatu jenis kaum tertentu.

Buku yang setebal 335 halaman ini menjelaskan kasus Islam, hasrat akan identitas yang harus dihidupkan kembali dan dipersegar, agar dapat menghadapi orang-orang lain dengan lebih baik. Begitu juga objek kerja universalisasi model Islam, yang efeknya berjangka paling panjang adalah justru “mengaktualisasikan” penggambaran-penggambaran keagamaan agar dapat berperan seperti semestinya dalam konfrontasi atau lomba antar-peradaban dan bukan menemukan kembali sebuah Islam yang murni dan setia pada sumber-sunber asalnya.

Proses ini menurut pengarang menimbulkan sejenis “muslihat” yang melaluinya model-model historis sengaja dijauhkan dari konteksnya untuk diberikan isi yang dipinjam dari modernitas. Dari sanalah berasal serangkaian ketaksahan dan kerancuan serius yang terus memngaruhi dan menggelisahkan kesadaran Arab. Ide bahwa Islam merupakan sebuah model universal yang pararel dengan dan menyaingi modernitas lahir dari proses ini. Jadi, ia merupakan parade mutakhir yang bertujuan melawan keterbukaan masyarakat-masyarakat Islam bagi nalar universal.

Menghadapi arus ini, sebuah militantisme sekuler dipertahankan dengan berbagai cara, demi tercapainya sebuah sekularisme yang “gamblang terang dan sesuai dengan kenyataan”. Implementasinya secara paradoks terhalangi campur tangan Barat yang bersekutu dengan kecendrungan-kecendrungan yang paling reaksioner dari masyarakat Arab. Kekuatan Barat mengerti bahwa sekularisme akan menimbulkan penolakan kolonialisme oleh masyarakat Arab. Langkah berikutnya melihat berlanjutnya dua proses yang berbeda secara pararel.

Pertarungan Sekularisme

Dalam konteks inilah telah meledak polemik-polemik yang paling sengit dalam sejarah Arab kontemporer, melalui usaha-usaha Ali Abd Alraziq, dan Thaha Husain untuk menyekularasikan pemikiran atau mempertanyakan lagi elemen-elemen tertentu yang paling kokoh dalam paradigma Islam. Usaha-usaha ini menelanjangi pada tingkat intelektual, batas-batas, dan sikap yang sesungguhnya dari gerakan reformis dan pada tingkat sosial, kedalaman Islam dalam kesadaran kolektif. Penyebaran perdebatan pada tingkat masyarakat luas tidak membantu tindakan-tindakan keterbukaan yang telah dirintis.

Buku ini juga memaparkan tentang kekuasaan politik yang telah ditemukan dalam lembaga keagamaan kesempatan-kesempatan luas untuk memanipulasi opini publik, dan aneka cara untuk menangguhkan masa jatuh temponya modernisasi masyarakat. Pendekatan kritik yang serupa dengan yang dilakukan di Barat sehubungan dengan agama-agama mulai lahir.

Namun sekularisme tetap terkait dengan suatu sikap kritis umum, walaupun pengaruh konsep-konsep yang dibelanya sangat bervariasi menurut sektor-sektor dan kategori-kategori sosial. “Tahap kebangsaan” yang telah dicanangkan oleh sebuah revolusi, pertama-tama memberikan kesan adanya semangat baru pada sekularisme. Karena itulah konteks sekularisme dewasa ini bercirikan keterputusan antara realitas sekuler dari masyarakat dan wacana berbagai golongan yang ada. Keseluruhan karya pengarang ini benar-benar berporos pada penjelasan yang baginya tidak dihindari ini.

Buku ini menjawab dengan tegas “tidak”. Pembaruan tetap terjadi dengan pelaku tidak hanya terbatas pada kaum Muslim saja. Persoala-persoalan yang pada masa lalu menjadi garapan pemikir Islam semata, kini–sebenarnya sejak pertengahan abad ke-20–menjadi persoalan kemanusiaan yang diperbincangkan oleh banyak peneliti, komentator politik, dan pemikir dengan latar belakang keakinan yang berbeda.

Di sini pembaca akan dibawa ke bengkel kerja pemikiran modern yang menwarkan deskripsi dan analisis yang berbeda mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan pembaruan Islam, seperti cara memahami Alquran, hubungan antara wilayah politik dan wilayah agama dalam Islam, dan bagaimana menjadi modern tanpa meninggalkan keimanan. Dengan melihat itu barangkali ada bekal yang memadai untuk menjawab pertanyaan “apakah pembaruan Islam memang sudah berhenti?” dan melanjutkan perjalanan. Sehingga buku ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan khusunya oleh kaum sarungan, dan para pemikir Islam saat ini.

* Penulis adalah Mahasiswa Department of English Literary IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: