Mencermati Adegan Korupsi di Indonesia

DUTA MASYARAKAT: Minggu, 18 Maret 2012

Junaidi Khab's Cover

Junaidi Khab’s Cover

Judul          : Korupsi di Daerah Kesaksian, Pengalaman, dan Pengakuan

Penulis       : Hadi Supeno

Penerbit     :Total Media

Cetakan      : IV, 2012

Tebal           : xxiv + 244; 21 x 14 cm

Peresensi   : Junaidi*

Korupsi di negeri ini sudah menjadi sebuah budaya yang tidak asing lagi dan tidak dapat dihindari keberadaannya. Sebenarnya jika kita benar-benar mau mencermati lebih mendalam, sangat banyak macamnya dan tidak hanya dilakukan oleh pejabat-pejabat tinggi Negara. Namun, di daerah pun praktik korupsi masih menjadi hal yang biasa. Dikatakan membudaya karena korupsi memang sudah menjadi hal yang sudah lumrah dilakukan oleh pejabat Negara baik dari pusat hingga daerah.

Salah satu agenda utama reformasi politik tahun 1998 adalah pemberantasan kasus Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Hal. 03). Kenyataannya setelah sepuluh tahun reformasi berlalu, nyaris tidak ada perubahan budaya masyarakat yang gemar KKN. Tidak heran jika Hadi Supeno dengan buku yang ditulis ini mengutarakan dan memaparkan dengan jelas beberapa kasus korupsi di tingkat daerah. Sejak sebelum dan sesudah ada lembaga khusus yang menangani kasus korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), korupsi memang mulai diusut, namun tidak ada hasil yang cukup signifikan.

Kendala Pemberantasan

Banyak hal yang menjadi penyebab pengusutan kasus korupsi itu tidak sukses. Akan tetapi salah satu yang menjadi penyebab dominannya adalah karena bangsa ini tidak pernah sungguh-sungguh berperang melawan korupsi. Kita hanya membangun industri dan pabrik-pabrik yang menghasilkan barang-barang konsumsi, tetapi kita sangat kurang membangun industri hati untuk mendapatkan manusia dengan kekayaan spiritual guna merawat dan mencegah diri dari segala bentuk kasus korupsi (Hal.viii).

Dalam beberapa tahun terakhir, memang banyak kasus-kasus korupsi yang dibongkar oleh para penegak hukum. Sejak lima tahun terakhir pula beberapa pejabat publik dan pegawai rendahan hingga pejabat eselon, mantan menteri, dan anggota DPR kini berdesakan di dalam buih desas-desus kekhawatiran. Namun demikian, sesungguhnya belum menyelesaikan persoalan pemberantasan kasus korupsi tersebut. Kita masih menyangsikan keseriusan bangsa ini untuk memberantas korupsi secara sungguh-sungguh.

Selain itu pula, buku ini menjelaskan penyebab tidak berhasilnya pemberantasan kasus korupsi disebabkan oleh aparat hukum yang masih saja terindikasi bahkan tertangkap basah tengah melakukan praktik korupsi. Ketika seluruh aparat hukum bersih pun belum tentu pemberantasan korupsi berhasil, lebih-lebih jika para aparat hukum itu sendiri yang terlibat dalam kasus korupsi.

Korupsi via Proyek

Bagaimana dengan kondisi kasus korupsi di daerah? Sama saja dengan korupsi di pusat, bila di pusat kasus korupsi berlangsung hingga ke sudut paling atas dari bangunan kekuasaan, di daerah juga begitu, yaitu hingga pada sudut-sudut yang paling kecil di masyarakat. Proyek favorit, seperti pengadaan proyek pengaspalan jalan. Permainannya sederhana saja, dari kelebaran dan ketebalan aspal.

Kalau mau diteliti dengan sungguh-sungguh, lebar jalan aspal itu tidak sama, ada selisihnya walau hanya 5 cm, tetapi kali sekian kilometer panjangnya. Juga ketebalannya, tidak akan ada lembaga kepengawasan yang bisa menjamin sepanjang jalan aspal ketebalannya sama seperti yang tercantum dalam kontrak. Pembongkaran kasus-kasus korupsi akan ditilik dalam buku ini secara jelas (Hal. 77).

Kasus lain lagi yaitu proyek jembatan, dalam sebuah kontrak dianggarkan dengan sekian juta. Namun para penyelenggara tidak menggunakan dana yang diperoleh untuk membangun jembatan yang berkualitas, kuat, dan bertahan lama. Akan tetapi mereka menargetkan proyek tersebut selesai dan ada dana sisa yang bisa dijadikan saldo untuk pribadi para kroninya (mark up).

Seperti jembatan Tenggarong Kutai Kartanegara yang ambruk hanya dalam jangka sepuluh tahun, padahal ditargetkan 25 tahun ke depan, mengapa demikian? Tidak jauh berbeda dengan kasus sebelumnya yaitu mementingkan terbangunnya jembatan tersebut bukan mendahulukan kualitas dari jembatan. Dana yang dianggarkann untuk bahan-bahan yang bermutu dan berkualitas tinggi, tetapi dikorup sehingga hasil dari proyek tersebut tidak bertahan sesuai dengan apa yang telah ditargetkan sebelumnya.

Buku ini membeberkan hal dan ihwal praktik kasus korupsi dari daerah hingga pusat serta bentuk-bentuk pemberantasanya. Seperti siapa saja yang melakukan? Di mana melakukannya? Berapa banyak jumlahnya? Serta uang dari mana yang dihasilkan? Tidak pelak apabila buku ini akan tampil sebagai pemandu bagi para penegak hukum pemberantasan kasus korupsi di daerah hingga pada pusat.

Begitu juga buku ini layak dibaca dan menjadi referensi bagi aparat hukum, pejabat publik, aktivis anti korupsi, para dosen dan mahasiswa, dan siapapun yang menginginkan Indonesia maju, kuat, beradab, jauh dari praktik kotor korupsi.

 

* Peresensi adalah mahasiswa Jurusan Sastra Inggris fakultas Adab sekaligus wartawan LPM Solidaritas IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: