Membahas “Salah Kedaden” NU dan Muhammadiyah

RADAR SURABAYA ● Minggu, 22 Mei 2011

Junaidi Khab's Cover

Junaidi Khab’s Cover

Judul          : Menjadi NU Menjadi Indonesia

Penulis       : Ayu Sutarto

Penerbit     : Khalista

Tebal           : xv+119 Halaman

Peresensi   : Junaidi*

Dalam buku Sutarto ini dipaparkan seorang tokoh, yaitu mbah Muchith. Dia adalah seorang pengikut Nahdlatul Ulama (NU) yang tidak pernah ada persoalan dengan Muhammadiyah. Menurutnya, ketidakakuran yang pernah terjadi antara NU dan Muhammadiyah selama ini adalah sesuatu yang salah kedaden (kejadian yang seharusnya tidak terjadi), bagaimana tidak, tuhannya sama, nabinya sama, kiab sucinya sama. Mengapa harus gontok-gontokan? Pihak yang satu kadang merasa lebih puritan dan menuduh pihak lain sebagai kelompok yang sarat dengan bid’ah dan khurarat. Sebaliknya, kelompok yang dituduh membalas tidak kalah sengit bahwa pihak lain bukan pengikut Ahlussunnah wal Jamaah.

Menurut mbah Muchith dalam buku ini bahwasanya penyakit salah kedaden tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Penyakit tersebut harus disembuhkan sampai tuntas, karena sangat berbahaya, bukan hanya berbahaya bagi NU dan Muhammadiyah ke depan, melainkan juga bagi Negara dimana keduanya bernaung. Salah kedaden yang membelit kedua kelompok Islam terbesar di Indonesia ini harus cepat-cepat dienyahkan. Jika dibiarkan berlarut-larut, salah kedaden akan menciptakan iklim yang tidak sehat dalam kehidupan beragama di Indonesia. Dalam pandangan mbah Muchith di dalam buku ini, jika dengan kelompok seiman saja tidak rukun, maka dengan kelompok lain yang berbeda iman pasti juga sulit untuk rukun. Nah, dengan melihat pendapat tadi, dimanakah semangat Bhinneka Tunggal Ika diposisikan?

Adakah cara terbaik untuk menghilangkan salah kedaden yang sampai sekarang limbahnya masih terasa? Dengan tegas mbah Mchith menjawab di dalam buku ini, “Iya”. Selalu ada cara jika sesorang itu menginginkan sesuatu untuk memenuhi keinginannya, dan sangat tidak sulit apabila dua kekuatan Islam tersebut ikhlas dan mau. Kiai yang dikagumi oleh para tokoh Muhammadiyah di Jember ini menjawab bahwa saudara seiman, kedua belah pihak harus saling belajar dan menasehati. Apalagi perbedaan yang mencuat tersebut diakui bukan sesuatu yang prinsip. Saran mbah Muchith, jangan ada pihak lain yang lebih pintar, lebih modern, lebih Islam, lalu mengejek kelompok lain sebagai kelompok yang kolot, bodoh, tradisional, dan lain sebagainya. Sebaliknya, kelompok yang merasa lebih memiliki akar keagamaan yang kuat dan hampir seluruh hidupnya diabadikan di pesantern serta selalu bergelut dengan kagiatan yang bernuansa agama, jangan pula merasa labih Islam dan lebih dekat dengan surga.

Sesungguhnya NU dan Muhammadiyah adalah “dua murid, tunggal guru”. KH. M. Hasyim Asy’ari merupakan tokoh NU dan KH. A. Dahlan seorang tokoh Muhammadiyah yang pernah belajar pada satu guru di Makkah . KH. Abd. Wahab Habullah dan KH. Mas Mansur pernah berkiprah dalam satu forum diskusi yang disebut ”Tashwirul Afkar” di Surabaya. Tetapi dalam proses dinamika memajukan pendidikan Islam terjadilah salah kekaden. Muhamadiyah menjadi berjauhan dengan kepesantrenan, sedangkan NU tetap bertahan dengan kepesantrenannya. Alhamdulillah sekarang sudah mulai nampak sikap saling mendekati.

Dalam buku Sutarto ini mbah Muchith menegaskan bahwa baik NU maupun Muhammadiyah harus saling menghilangkan rasa curiga dan rasa sebagai pihak yang paling benar. Orang NU harus belajar dan membaca tentang ke-Muhammadiyah-an dan orang Muhammadiyah harus belajar tentang ke-NU-an, itu semua tidak sulit jika antar kedua belah pihak mau dan ada kesepakatan bersama. Banyak buku yang bisa dibaca agar pihak yang satu mengerti visi dan misi pihak lain. Orang Muhammadiyah dipersilahkan membaca dan memperdalam khittah NU, dan orang NU harus pula belajar mengkaji dan mendalami keputusan-keputusan Majlis Tarjih Muhammadiyah.

Keduanya harus saling belajar tentang kelemahan dan kekuatan masing-masing. Misalnya, untuk sementara dan harus diakui bahwa Muhammadiyah lebih maju dalam hal pendidikan dan berbagai aktivitas sosial. Untuk itu, orang NU harus belajar dari Muhammadiyah. Sebaliknya, orang NU memiliki perekat yang kuat dengan para guru yang telah membesarkannya, dan menjadi tumpuan harapan kelompok akar rumput. Muhammadiyah dapat belajar dari kekuatan ini agar program-program sosial-kebudayaan semakin kukuh.

Dalam buku ini ada beberapa cara untuk menjalin hidup rukun dan kebersamaan, NU memilahkan tiga pokok prinsip yang harus diamalkan. Pertama, harus ada hubungan berdasarkan agama. Kedua, hubungan berdasarkan “persamaan tumpah darah”. Ketiga, hubungan antar umat sebagai makhluk Tuhan (Allah Swt.). NU memiliki keyakinan demikian bahwa Islam mengatur hubungan antar manusia dalam tiga macam ikatan tersebut adalah agar kehidupan manusia senantiasa tertuju pada persaudaraan/kerukunan berdasar sikap saling mengerti dan saling menghormati. Persaudaraan dan kerukunan diajarkan oleh Islam disebut ukhuwah Islamiyah, sebuah hubungan dalam skala besar.

Buku Menjadi NU, Menjadi Indonesia ini kembali menegaskan agenda besar yang ingin diraih oleh NU, yaitu sikap tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri dan untuk menjaga kerukunan antar sesama umat beragama yang pada akhirnya akan tercapai sebuah kemakmuran. Cita-cita NU tidak jauh berbeda dari cita-cita bagsa Indonesia. Buku ini berisi tentang nasehat-nasehat agar bangsa selalu ada dalam kebersamaan menjalani hidup dan tidak saling memecah belah anatara satu pihak kepada pihak yang lain. Begitu juga buku ini sangat perlu dibaca oleh berbagai kalangan khususnya umat Islam dalam rangka memberi pemahaman pentingnya hidup rukun dan kebersamaan.

* Penulis adalah Mahasiswa Department of English Literary IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: