Ideologi Islam Sunni Pertama di Indonesia

RADAR SURABAYA ● Minggu, 19 Juni 2011

 

Junaidi Khab's Cover

Junaidi Khab’s Cover

Judul               : Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Tentang Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah

Penulis             : Achmad Muhibbin Zuhri

Penerbit           : Khalista Surabaya

Cetakan           : I, Desember 2010

Tebal               : XXVI+ 328 Halaman

Peresensi         : Junaidi*

Sebuah pemikiran/pandangan yang bagus dan cemerlang adalah pemikiran yang dapat diterima oleh semua orang dan dilandasi dengan alasan-alasan, dalil-dalil, dan pengukuhan lainnya yang bisa menjadi penyokong pemikiran tersebut. Pemikiran seseorang memang kadang kala bertentangan dengan pemikiran orang lain, namun itu tidak menjadi sebuah penghalang untuk orang yang mau untuk berpikir. Yang perlu kita ingat adalah ketika kita mengutarakan sebuah pemikiran adalah harus dengan sportif dan rasional, bukan hanya asal berpikir saja, akan tetapi harus siap menerima masukan/respn dari pemikiran orang lain.

Buku yang ditulis oleh Achmad Muhibbin Zuhri ini menyajikan sebuah pemikiran/pandangan seorang tokoh Nahdliyyin, dari tokoh Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah yang diskontruk yaitu kiyai Hasyim Asy’ari melalui berbagai karyanya dapat dikatakan banyak dipengaruhi oleh tradisi intelektual Islam periode pra-modern. Berbagai narasi yang diajukan oleh kyai Hasyim lebih merupakan elaborasi ari pemikiran dan pandangan generasi pendahulunya di era klasik dan abad pertengahan. Bahkan, tidak jarang kyai Hasyim secara terbuka menyebtkan tokoh-tokoh abad pertengahan dan kitab-kitab mereka yang dijadikan rujukan karya-karyanya.

Meskipun dikenal sebagai pengikut madzhab imam Syafi’e, tampaknya kyai Hasyim lebih berkecendrungan merujuk pada generasi pasca Syafi’e. Pada karya-karya kyai Hasyim, jarang sekali dijumpai rujukan yang bersumber langsung dari Syafi’e. sebaliknya, cukup mudah mendapati ulama-ulama generasi pasca Syafi’e yang digunakan kyai Hasyim menjadi rujukan dalam merumuskan pemikirannya. Dalam risalah ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, misalnya, kyai Hasyim hanya menyebut dua kali nama imam Syafi’e. penyebutan itu pun masih dalam satu sub kajian yang sama, yakni tentang kontroversi status bid’ah atau tidaknya praktek keagamaan yang belum pernah sama sekali dilakukan pada masa nabi Muhammad Saw., dan terjadi di era generasi salaf.

Sementara itu, dalam pemikiran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah yang terkait dengan bidang kajian fiqih dan kajian ritual yang lainnya, kyai Hasyim cukup dipengaruhi oleh para ulama pemikir abad pertengahan.

Paparan singkat di atas menggambarkan bahwa pandangan kyai Hasyim tetap bersandar pada otoritas penuh ulama abad pertengahan, terutama dari madzhab imam Syafi’e sebagai rujukan dalam memahami dan menerjemahkan Islam di nusantara. Penerimaan terhadap pemikiran para ulama abad pertengahan ini menunjukkan konsistensi kyai Hasyim mengenai pandangan-pandangan yang telah dirumuskan dalam karya-karyanya. Sebagai baigian dari intelektual yang secara implicit tidak lagi mengakui praktek berijtihad, dan sebalinya meneguhkan posisi taqlid, maka ia lebih memilih menyadarkan diri pada para otoritas intelektual abad pertengahan sebagai rujukan penulsan pemikirannya.

Selain itu, pilihan mengambil karya-karya para ulama pada abad pertengahan sebagai rujukan sangat mungkin didasari oleh pertimbangan logis maupun praktis. Karena selain dari aspek jarak waktu yang lebih dekat, juga karena isu-isu yang berkembang dan dihadapi oleh kyai Hasyim lebih tersedia pada karya-karya ulama abad pertengahan.

Kodifikasi pemikiran  Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah kyai Hasyim tidak hadir dalam ruang hampa. Kyai Hasyim dan pemikirannya hadir dalam ruang Islam nusantara yang sedang mengalami proses perubaha yang cukup signifikan ketika itu. Ekspansi gerakan pembaruan Islam melalui organisasi-organisasi keagamaan yang secara formal baru terkonsolidasi, menjadi pendorong utama perubahan tersebut. Paling tidak, Islam di nusantara mengandaikan polarisasi baru menjadi dua kutub pola keberagamaan yang seringkali berada dalam posisi yang berhadapan antara kalangan pesantren dan para pendukung gerakan pembaruan Islam.

Kutub pertama menunjuk pada kelompok yang tetap mempertahankan hidup bemadzhab, taqlid, dan peringatan ritual lainnya, ziarah ke makam nabi Muhammad Saw. dan makam para leluhur serta makam para wali, dan makam-makam yang lainnya. Sementara, di kutub berlawanan, para pendukung gerakan pembaruan Islam begitu terpengaruh dengan gerakan kelompok Wahhabi yang menuding pola keberagamaan yang selama itu berkembang di tengah-tengah masyarakat sebagai penuh takhayyul, bid’ah, dan khurafat. Dalam kajian sosiologis, dua kutub yang berhadapan ini biasanya diidentifikasi dengan distingsi tradisional-modernis.

Kalangan modernis yang banyak terinspirasi ole hide-ide Wahhabisme di Timur Tengah mulai menyerang pola-pola keberagamaan Muslim tradisional, terutama di pulau Jawa. Kehidupan bermadzhab, dan taqlid merupakan dua bentuk pola kebergamaan yang menjadi sorotan utama kalangan modernis tersebut.

Buku ini memberikan sebuah pandangan seorang tokoh ulama Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, yaitu kyai Hasyim Asy’ari dalam mengutarakan hasil pemikirannya dengan menggunakan akal sehat dan rasional sehingga pemikirannya bisa diterima di berbagai kalangan, meskipun ada beberapa para penentang pemikirannya itu yaitu golongan Wahhabi yang tidak segan-segan telah menuduh semua perbuatan warga Nahdliyyin adalah bid’ah seperti berziarah ke kuburan, dan tahlil. Bahkan mereka berani mengkafirkan terhadap mereka yang malakukan ziarah kubur. Namun, dengan melalui membaca buku ini semua tudingan yang diutarakan oleh kelompok Wahhabi itu bisa diluruskan dengan melihat pada cara berpikirnya kyai Hasyim Asy’ari yang cukup rasional dan dikukuhkan dengan pemikiran-pemikiran para ulama abad pertengahan.

Di dalam buku ini juga akan lebih banyak lagi pembahasan mengenai sebuah pemikiran kyai Hasyim Asy’ari dan beberapa pertentangannnya dengan pemikran para kaum Wahhabi dari Tinur Tengah yang bertolak belakang. Layaknya buku ini di baca oleh semua kalngan untuk mengembangkan pola pikir yang sportif dan rasional, lebih-lebih para kalangan Nahdliyyin.

* Penulis adalah Mahasiswa Department of English Literary IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: