Harta Gono Gini Dikuasai Saudara Ipar

RADAR SURABAYA ● MINGGU, 30 DESEMBER 2012

 

Pengasuh Rubrik Konsultasi Hukum yang terhormat. Perkenalkan nama saya Fitriani tinggal di Surabaya, telah menikah dengan seorang pria secara syah tercatat di KUA dan tidak dikarunia anak. Suami saya telah meninggal 2 tahun yang lalu. Harta gono gini yang saya peroleh selama perkawinan, hingga sekarang sedang dikuasai oleh saudara kandung suami saya. Alasannya menguasai harta suami saya tersebut, karena saya telah menikah lagi dengan seorang pria sekitar 6 bulan yang lalu.

Pertanyaan saya, bagaimana upaya yang dapat saya lakukan, agar harta peninggalan suami saya dapat saya miliki lagi?

Fitriani,

Di Surabaya

JAWABAN :

Ibu Penanya yang budiman,

Sebagaimana pengakuan ibu mencatatkan perkawinan ibu dan suami di KUA, itu berarti ibu harus tunduk kepada aturan Hukum Islam. Untuk itu perlu kami jelaskan terlebih dahulu, bahwa harta gono gini yang dihasilkan dalam perkawinan antara ibu dengan almarhum, sebagian merupakan harta waris, yang harus dibagi berdasarkan Hukum Waris Islam. Menurut Pasal 171 huruf e Kompilasi Hukum Islam (KHI) disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “Harta waris adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat”.

Berdasarkan ketentuan di atas, Ibu bisa menghitung berapa besarnya harta waris suami ibu. Adapun yang termasuk harta waris suami ibu, adalah harta bawaan suami ibu (kalau memang almarhum sebelumnya membawa harta sebelum nikah dengan ibu) ditambah sebagian dari harta gono gini, setelah dikurangi biaya pengurusan jenazah (tajhiz). Selain itu kalau memang ada termasuk juga biaya perawatan selama sakit sampai meninggalnya almarhum, pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat.

Ibu sebagai istri almarhum, mendapatkan separuh dari harta gono gini sebelum dibagi menurut Hukum Waris Islam, ditambah 1/4 (seperempat) dari Harta Waris Almarhum (Lihat Pasal 180 KHI). Meskipun dalam hukum Waris Islam diatur mengenai bagian dari masing-masing ahli waris, tetapi dalam Pasal 183 KHI ditentukan bahwa para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam pembagian harta warisan, setelah masing-masing menyadari bagiannya.

Upaya hukum yang dapat ibu lakukan atas hak dari separuh harta gono gini dan 1/4 dari harta waris almarhum, adalah dengan cara mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama. Namun saran kami, sebelum Anda menempuh upaya tersebut, sebaiknya Anda melakukan upaya musyawarah, untuk mencapai kata sepakat.

Semoga jawaban ini akan dapat memberikan pemahaman dan solusi mengenai masalah hukum yang Ibu sedang hadapi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: