Eksotisme dan Kekayaan Alam di Balik Konflik Papua

RADAR SURABAYA ● Minggu, 15 Januari 2012

Junaidi Khab's Cover

Junaidi Khab’s Cover

Judul            : Pasang Surut Sejarah Papua dalam Pangkuan Ibu Pertiwi

Penulis        : Syafaruddin Usman dan Isnawita Din

Penerbit               : Planet Buku

Cetakan                : II, 2011

Tebal                     : 156 + 14.5 x 21 cm

Peresensi             : Junaidi*

Orang yang menjadi arsitek ulung dalam strategi merebut Irian Barat adalah bung Karno, proklamator kemerdekaan dan presiden pertama Republik Indonesia. Bung Karno mengkombinasikan daya politik diplomasi Indonesia dengan daya militir maritime darat dan udara, sambil memanfaatkan adanya rivalitas Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk mengisolir kekuatan kolonialisme Belanda.

Kendali Indonesia atas Papua atau Irian Jaya tidak pernah luput dari tentangan dari beberapa bagian masyarakat Papua. Selama masa rezim pemerintahan Soekarno dan pak Harto, pemberontakan Papua yang terkait dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) melakukan aksi-aksi tidak teratur di dalam dan di luar Irian Jaya (nama Wesy New Guinea, West Irian, Irian Jaya, West Papua, dan Papua digunakan silih berganti, tergantung situasi dan periode) untuk mengungkapkan perlawanan mereka pada kekuasaan Indonesia. OPM didirikan pada 1964, dan melancarkan aksi pertama melawan pemerintah Indonesia pada tahun berikutnya, saat pada sebagian besar rakyat Papua sedang menghadapi kesulitan di bidang sosial dan ekonomi di bawah rezim pemerintahan baru, pemerintah republik Indonesia.

Pembaca akan diajak menelusuri sejarah perjalanan Papua dengan berbagai macam alur dan plot yang berkesinambungan. OPM melancarkan aksi-aksi terpencar, menggunakan taktik gerilya, seperti jebakan bersenjata, penculikan, dan san sabotase. Operasi OPM sejak 1969 paling efektif di sepanjang perbatasan Irian Jaya dengan Papua Nugini, karena mudah mencari tempat perlindungan di wilayah Papua New Guinea (PNG) dan ada dukungan dari pengungsi Irian.

Munculnya tuntutan untuk merdeka dari sebagian rakyat Irian atau Papua lebih dikarenakan kekecewaan yang terlalu lama sehinga mereka menuntut keadilan atas hak-haknya. Banyak orang Irian percaya bahwa kepentingan mereka dikorbankan pada perjanjian New York dan oleh penerimaan PBB atas hasil Pajak. Hanya ada sedikit pengalaman orang Irian yang meyakinkan mereka bahwa masa depan preferensi politik mereka adalah untuk tetap menjadi bagian dari Indonesia. Sulit untuk membayangkan bahwa apa pun yang kurang dari transformasi total atas pemerintahan Indonesia akan bisa membujuk mereka untuk berpendapat sebaliknya.

Operasi di sepanjang perbatasan menimbulkan ketegangan yang besar antara Indonesia dan Papua Nugini. Namun hubungan antara kedua Negara membaik sejak Treaty of Mutual Respect, Friendship and Cooperation, Perjanjian Saling Menghargai Persahabatan dan Kerjasama antara kedua negara ditandatangani pada tahun 1987.

Buku yang setebal ini akan mengungkap tentang sejarah Papua yang menjadi rebutan berbagai negara karena Sumber Daya Alam (SDM) yang dimilikinya. Propinsi Irian Jaya atau yang dikenal dengan julukan Bumi Cenderawasih yang sekarang disebut Papua terletak di kawasan pada kawasan paling timur dari Negara Indonesia yang berbatasan dengan Negara Papua New Guinea.

Wilayah perbatasan darat Indonesia – PNG tersebut memanjang dari utara ke selatan memotong tengah Pulau Irian sepanjang hampir 800 kilo meter. Wilayah perbatasan secara umum letaknya terisolir dari konsep tat ruang nasional. Wilayah perbatasan Indonesia – PNG seperti halnya wilayah perbatasan internasional yang lain sering terjadi berbagai masalah, karena terjadinya perbedaan kepntingan (hal. 05).

Irian atau Papua lebih dari sekedar koteka atau emas di Tembagapura. Eksotisme Irian menarik siapa saja yang pernah menginjakkan kakinya di sana. Dari kejelian gubernur Belanda, Van Baal membangun Hollandia  yang sekarang Jayapura, ia memilih suku yang pekerja keras dan cinta laut, hingga Michael Rockefeller yang datang ke Agats dan meninggal di Sungsi Bets, ia sebenarnya ingin mengumpulkan patung-patung Asmat untuk dipamerkan di New York, Amerika Serikat.

Belakangan, meski otonomi khusus sudah diberlakukan sejak tahun 2001, isu pelepasan Irian atau Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia masih terus bergulir hingga pertengahan tahun 2007 lalu dalam sejarahnya. Bisa dikatakan bahwa kebijakan otonomi khusus di tanah Papua yang diharapkan mampu meredam keinginan sejumlah kalangan untuk membuat Papua  merdeka, belum membuahkan hasil yang signifikan.

Meskipun otonomi daerah sudah diberlakukan, namun isu pelepasan Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih berhembus hingga sekarang. Situasi yang terbangun saat itu merupakan dampak dari ketertinggalan di bidang pembangunan fisik, dan Sumber Daya Manusia (SDM), terutama jika dibandingkan dengan pulau Jawa yang mengusik warga Papua untuk mengajukan tuntutan-tuntutannya. Namun sayangnya tuntutan tersebut tidak ditanggapi dengan tepat, sehingga tidak jarang tuntutan para pelopor ini dianggap sebagai bentuk pemberontakan, dan tak jarang pula karena sikap pemerintah yang apasi terhadap keadaan.

Banyak orang hanya mengetahui sisi luar apa yang terjadi di Papua tanpa memahami pemicu dan kejadian yang sebenarnya terjadi. Menagapa konflik yang didukung oleh para profokator ini terus berlanjut? Potensi apakah yang terpendam di dalamnya? Melalui buku ini akan diketahuai dan dipahami seluk beluk permasalahan tersebut.

 

* Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris, dan aktivis HMI  fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus peneliti di Lembaga Nusantara Centre, Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: