Arus Perjalanan Pendidikan Bangsa Indonesia

Duta Masyarakat: Minggu, 22 Juli 2012

Junaidi Khab's Cover

Junaidi Khab’s Cover

Judul               : Sejarah Pendidikan Nasional dari Masa Klasik Hingga Modern

Penulis             : Muhammad Rifa’i

Penerbit           :AR-RUZZ MEDIA

Cetakan           : II, 2012

Tebal               : 304 Halaman: 13,5×20 cm

Peresensi         : Junaidi*

Knowledge is power”. Kutipan dari Francis Bacon tersebut mengungkapkan bahwa pokok kekuatan manusia adalah pengetahuan. Manusia dengan pengetahuannya mampu melakukan olah cipta sehingga manusia mampu bertahan dalam masa yang terus maju dan berkembang. Proses tersebut terlakasana berkat adanya sebuah aktivitas yang berlabel pendidikan. Sedangkan pendidikan itu sendiri meruapakan sebuah kegiatan perbaikan tata laku dan pendewasaan manusia melalui pengetahuan.

Pendidikan juga tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sebuah bangsa. Keduanya saling memengaruhi dan memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan. Kemajuan sebuah bangsa juga ditentukan dari kemajuan pendidikan yang dienyam rakyatnya. Demikian juga yang terjadi di Indonesia. Pendidikan di Indonesia juga telah mengalami berbagai fase perjalanan hingga seperti sekarang.

Kali ini Rifa’I mencoba untuk menelusuri sejarah sebuah bangsa, yang mana itu dapat dilihat dari pendidikannya, pendidikan yang dienyam oleh rakyatnya. Maju tidaknya sebuah bangsa juga dapat dilihat dari pendidikannya. Jika pendidikan di Negara tersebut maju, maka bangsanya juga akan ditahbiskan sebagai bangsa yang maju. Demikian pula sejarah pendidikan Indonesia, sebelum Indonesia merdeka bahkan sebelum Indonesia dijajah oleh bangsa lain, bangsa kita memiliki tradisi pendidikan tersendiri yang dikelola oleh masyarakat atau komunitas yang dipengaruhi oleh adat istiadat, tradisi, budaya, agama, dan kepercayaan masing-masing.

Dari catatan sejarah, proses pendidikan di tanah air dibarengi oleh proses masuknya agama-agama dari luar yang masuk ke wilayah Indonesia. Mayoritas, sumber tentang pendidikan di zaman kerajaan Hindu-Buddha berasal dari China. Pendidkan tersebut dimulai dengan proses masuknya peradaban dan agama Hindu-Buddha yang bisa kita lihat pada abad ke-5 Masehi melalui wilayah Kutai dan Kalimantan (Hal. 15).

Kemudian karena letak Indonesia yang strategis dan mempunyai kekayaan alam yang melimpah, Indonesia menjadi negeri jajahan. Mulai dari portugis, Spanyol, Belanda, hingga Jepang menjajah Indonesia. Penjajahan ini juga menerapkan sistem pendidikan bagi bangsa Indonesia. Diawali dengan maksud menyebarkan agama dan ideologi, para penjajah itu kemudian mengembangkan sistem pendidikan di Indonesia. Bahkan, Belanda menerapkan sistem pendidikan karena politik balas budi telah memberikan kesempatan untuk berada di alam yang kaya akan rempah-rempah ini.

Bangsa Portugis dan Spanyol yang datang ke Maluku di samping berdagang mereka juga bertujuan menyebarkan agama Katolik. Untuk tugas-tugas ini, maka didatangkan para misionaris. Fransiskus Xaverius, setelah menyelesaikan studinya di Sarekat Yesus diberi tugas ke daerah-daerah timur Asia. Malaka, itu juga menjadi tujuan dia datang ke Maluku. Dialah yang dianggap sebagai peletak dasar agama Katolik di Indonesia.

Untuk menyebarkan agama Katolik itu, para misionaris mendirikan sekolah. Pada tahun 1536 di Ternate didirikan sekolah yang mendidik calon-calon misionaris/pekerja agama. Sekolah seminari ini juga didirikan di pulau Solor. Banyak anak-anak Indonesia yang masuk sekolah ini. Dengan adanya usaha-usaha sosial  dari para misionaris, kehidupan masyarakat Maluku makin maju (Hal. 53-120).

Tanpa disadari oleh para penjajah, sistem pendidikan ini menjadi boomerang bagi mereka. Pemuda-pemuda pribumi yang merupakan produk pendidikan penajajah, justru berbalik menyusun kekuatan untuk memerdekakan bangsanya. Setelah merdeka, sistem pendidikan penjajah ini belum sepenuhnya dapat ditinggalkan. Beberapa sekolah dan sistem pengajaran penjajah masih dipertahankan. Kurikulum pun berganti seiring dengan pergantian menteri pendidikan dan pemegang kebijakan. Meski demikian, pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjalanan kehidupan bangsa.

Setelah proklamasi kemerdekaan Pancasila dijadikan sebagai dasar dan falsafah Negara Indonesia seperti yang tertera dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, kemudian dijadikan landasan utama pendidikan di Indonesia. Walaupun dalam kurun waktu 1945-1950 negara Indonesia mengalami bebagai perubahan. Oleh karena itulah Pancasila menjadi landsan utama pendidikan Indonesia(Hal. 121-285).

Secara garis besar buku Rifa’i ini menguak sejarah perjalanan dan evolusi pendidikan bangsa Indonesia mulai dari masa klasik yaitu pada masa sebelum bangsa Indonesia ini masih belum disinggahi oleh Negara asing. Yang mana pada masa itu pendidikan masih berada dalam lingkup agama  Hindu – Buddha. Kemudian pendidikan pada masa penjajahan, masa kemerdekaan, pendidikan orde lama yang menjadi pokok bahasan di dalam buku ini, pada perkembangan pendidikan pada masa orde baru, dan orde reformasi.

Dalam buku ini penulis memberikan catatan, penilaian, evaluasi kritis baik dari sisi positif dan negatifnya. Tujuannya agar kita sama-sama mengerti bagaiamana sejarah dan perkembangan pendidikan di Negara Indonesia berjalan. Kemudian dapat kita ambil hikmahnya, baik dari bagian negatif atau positifnya dari setiap periode dalam perjalanan pendidikan nasional agar dapat memilah mana yang harus kita tinggalkan, mana yang harus pertahankan, dan mana yang harus dikembangkan, sebagai kebutuhan mendasar pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, serta meningkatkan hakat dan martabat bangsa ini.

Sejarah pendidikan nasional Indonesia di dalam buku ini adalah sebuah pengantar atau sebuah sejarah ringkas perjalanan pendidikan nasional, bukan sebuah studi sejarah yang padat, penuh, dan tuntas. Namun, di dalamnya tercatat beberapa momen penting perjalanan pendidikan nasional, dari zaman pendidikan klasik, masa penjajahan, masa kemerdekaan, masa Orde Lama, masa Orde Baru, dan sampai sekarang yaitu Orde Reformasi. Di dalam setiap masa tersebut dicantumkan kebijakan-kebijakan dan putusan-putusan yang memuat institusi, ketetapan perundang-undangnya, landasan filosofi, tujuan, dan cara mencapai tujuan tersebut.

* Peresensi adalah jurnalis pada Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solidaritas IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: