Ajaran Islam Sebagai Obat Alternatif

DUTA MASYARAKAT: Minggu 27 Maret 2011

Junaidi Khab's Cover

Junaidi Khab’s Cover

Judul          : Penuntun Qalbu Kiat Meraih Kecerdasan Spiritual

Penulis       : KH. Muhyiddin Abdusshomad

Penerbit      : Khalista

Tebal          : xvi+199 hlm; 12×18 cm

Peresensi    : JUNAIDI *

Hidup dan kehidupan merupakan misteri. Manusia terlahir bukan atas kehendaknya sendiri. Dari pasangan ibu bapak yang bukan pilihannya. Waktu dan tempat kelahirannya pun di luar perencanaannya. Setelah terlahir ke dunia, Allah swt memberikan kepada qalbu ayah dan ibunya perasaan kasih dan sayang yang dalam kepada anak-anaknya. Dengan kasih sayang itu, orang akan selalu merawat, membesarkan, melindungi serta mendidik buah hatinya. Tidak kenal lelah sepanjang hidupnya, mereka selalu memberikan perhatian dan bslas kasih untuk kesuksesan dan kebahagiaan keturunannya tersebut.

            Gus Muhyiddin menjelaskan bahwa dalam perjalanan waktu tersebut, hidup manusia tidak terlepas dari tiga hal, yakni (1) makan dan minum (2) tidur (3) serta buang air besar dan kecil. Ibarat mesin yang membutuhkan bahan bakar dan oli. Pada saatnya bahan bakar tersebut akan habis dan oli pun harus dibuang dan diganti dengan yang baru. Seperti itulah gambaran kehidupan manusia. Setiap hari tubuh manusia harus diisi dengan makanan dan minuman agar dapat digunakan untuk beraktifitas. Dan pada saatnya makanan minuman itu harus dibuang agar tidak menimbulkan penyakit bagi manusia itu sendiri.

            Namun yang perlu dipertanyakan adalah, apakah hanya seperti kehidupan manusia? Apakah hidup manusia hanya untuk memenuhi kebuthan jasad yang berupa makan, minum, tidur, dan buang hajat semata? Atau apakah hidup manusia hanya berisi sel-sel tubuh yang menakjubkan? Lalu apakah kehidupan itu sesungguhnya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selalu menggeleyut di dalam lubuk hati manusia yang oleh Allah swt telah dikaruniai akal pikir.

            Para filosuf pun mencoba mencari apa arti hidup sebenarnya, yang pada gilirannya kemudian memunculkan jawban yang berbeda-beda. Schopen Haveor (1788-1860) menyatakan bahwa “hidup adalah kehendak”. Berbeda dengan Nietzche (1844-1900) yang mendefinisikan “hidup adalah kekuatan”. Dan jauh sebelum kedua filosuf itu, imam Al-Ghazali ( Wafat 505 H / 1111 M ) menyatakan bahwa “hidup adalah cinta dan ibadah”.

            Dari beberapa macam pengertian hidup di atas, Al-Ghazali mengklasifikasikan manusia itu ada tiga macam. Pertama, perumpmaan mereka adalah bagaikan makanan pokok yang selalu dibutuhkan oleh semua orang. Kedua, bagaikan obat yang dibutuhkan pada saat-saat tertentu. Ketiga, bagaikan penyakit yang sama sekali tidak dibutuhkan (Bidayatul Hidayah, 150).

            Dari harta juga kedamaian dan kesengsaraan muncul, walaupun agama sangat mengecam keras orang yang cinta dunia, tetapi bukan agama islam menganjurkan untuk meninggalkan segala kehidupan dunia, kemudian menyendiri dan menyepi dari hiruk pikuk keramaian dunia. Atau tidak bekerja menceri anugerah allah swt di muka bumi, kemudian melakukan kepasrahan total kepada_Nya. Hal tersebut juga tidak dibenarkan. Sebagaimana firman allh swt: “Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia allah dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.( QS. Al-Jumua’ah, 10). Dalil ini membuktikan bahwa islam menganjurkan ummatnya menyeimbangkan kebutuhan dunia dan kepentingan akhirat. Karena itu hal yang paling penting dalam menyikapi harta adalah bagaimana mendudukkannya secara tepat, jangn sampai  kita yang didudkkan oleh harta.

            Begitu juga dengan shalat, kita diperintah shalat berarti diperintah punya pakaian, sebagaimana bunyi suatu dalil, ”Amrun bil amri amrun bimasaailihi”. Artinya : “perintah dengan suatu perkara, juga diperintah perantara yamg bias menjadikan perkara itu sempurna/sah”. Jadi, jika kita bershalat tanpa pakaian yang menutupi aurat, maka tidak sah shalat kita, berarti mencari/memakai pakaian itu hukumnya wajib, tidak hanya shalatnya yang wajib. Secara etimologis, shalat berarti doa, sedangkan menurut syara’ ( ajaran islam ), shalat adalah”Beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu”. ( Fathul Qarib, 12 ). Dari dalil inilah bahwasanya mencari anugerah tuhan (harta dunia) menjadi wajib dengan cara-cara yang baik dan halal.

            Pada sebagian orang mungkin akan muncul pertanyaan, mengapa harus berdoa? Tidak cukupkah usaha manusia untuk mengubah nasibnya sendiri? Dan bukankah Allah swt telah mentakdirkan segala sesuatu kepada manusia? Mungkin juga pada sebagian orang lain akan terbesit di qalbunya , “ Saya sudah sangat sering dan banyak berdoa, namun sampai sekarang permohonanku belum dikabulkan oleh Allah swt. Apakah Allah swt memang tidak mau mengabulkan doa yang aku panjatkan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, cukup buka buku Qalbu hal. 163.

Duka nestapa adalah sesuatu yang pasti dalam kehidupan manusia. Ia senantiasadatang dan pergi dari qalbu manusia. Begitupun perasaan suka. Ia adalah bagian dari romantika kehidupan. Duka akan melahirkan perasaan gundah gulana, sengsara, bahkan penderitaan yng berkepanjangan. Kendati demikian, sebagai makhluk yang berpikir rasional, penderitaan yang menimpa kita, bukan untuk disesali apalagi ditangisi, tetapi harus dicarikan jalan keluar agar segera menghilang dan berlalu dari kehidupan kita. Bagi seorang yang beriman, obatnya adalah dzikrullah( mengingat Allah dengan bacaan-bacaan dzikir dan menghadirkan allah di dalam qalbu). Sebagaimana firman Allah swt. “Ingatlah bahwa dengan dzikir kepada Allah , qalbu akan menjadi tentram”.(QS Al-Ra’du, 28).

Dalam buku ini , diulas dari berbagai bidang ilmu, diantaranya ilmu biologi, fisika, kedokteran, dan agama(fiqih) yang begitu memicu pada kenyamanan hidup dunia dan akhirat. Dari beberapa pembahasannya, tampaklah beberapa faedah yang sangat berguna diamalkan bagi jiwa yang gundah gulana yang bersarang dalam qalbu(hati). Liku-liku hidup yang berkecamuk yang penuh dengan kesusahan, stress, dan lain sebagainya akan sirna dengan membaca dan mengamalkan isi dari buku ini. Di sini diperlihatkan faktor-faktor yang memengaruhi penyakit qalbu dan cara-cara mengatasinya.

            * Penulis adalah lulusan SMA Al-In’Am Banjar timur Gapura Sumenep Madura, dan sekarang melanjutkan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Sastra Inggris (SI).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: