Rasionalitas Dalam Memahami Ajaran Islam

RADAR SURABAYA ● Minggu, 3 Juli 2011

Junaidi Khab Berdebat Dengan Wahhabi

Junaidi Khab Berdebat Dengan Wahhabi

Judul               : Berdebat Dengan Wahhabi

Penulis             : Muhammad Idrus Rami

Penerbit           : Bina Aswaja

Distributor       : Khalista Surabaya

Cetakan           : II, 2011

Tebal               : 174 Halaman

Peresensi         : Junaidi*

Antar golongan dengan golongan yang lain tidak akan pernah berhenti di dalam perdebatannya mengenai suatu paham yang dipelajarinya. Semisal antar pemuka agama, pemuka kaum politik, pemuka adat, pemuka masyarakat, dan lain sebagainya. Perhelatan yang demikian kadang kala sampai membawa terhadap pertumpahan darah demi untuk mempertahankan pandangan/pemikirannya masing-masing.

Buku yang ditulis oleh tim LBM NU Jember ini memberikan sebuah contoh dialog menarik antara kalangan Sunni dengan kalangan Wahhabi. Ada yang perlu kita ketahui sebelumnya, bahwa kaum antara kalangan Wahhabi dengan Khawarij ada bebrapa kesamaan.

Pertama, Khawarij telah mengucilkan diri dari kaum Muslimin dengan berpendapat bahwa pelaku dosa besar itu kafir, dan ternyata  Wahhabi kaluar diri dari kaum Muslimin dengan mengkafirkan kaum Muslimin karena perbuatan dosa menurut asumsi kaum Wahhabi.

Kedua, Khawarij menetapkan Negara Islam yang penduduknya melakukan dosa besar sebagai Negara harbi (musuh),yang dihalalkan melakukantindakan seperti yang dilakukan oleh nabi Muhammad Saw terhadap Negara harbi (darah dan harta bendanya dihalalkan). Demikian pula kaum Wahhabi akan menghukumi Negara Islam sebagai negar harbi meskpun penduduknya adalah orang yang paling taat beribadah kepada Allah Swt dan paling shaleh apabila mereka meyakini bolehnya bepergian berziarah ke makam nabi dan makam-makam orang yang shaleh dan meminta syafaat kepada mereka. Dari kedua poin ini bisa disimpulkan bahw Wahhabi tiu lebih buruk dari pada Khawarij. Kaum Khawarij melihat perbuatan yang disepakati sebagai dosa besar oleh kaum Muslimin lalu mengkafirka pelakunya. Sementara kalangan Wahhabi melihat amal-amal yang sama sekali bukan perbuatan dosa, bahkan perbuatan sunnat yang dilakukan oleh generasi salaf yang shaleh dari kalangan sahabat nabi Muhammad Saw., tabi’in, dan generasi berikutnya tanpa ada perselisihan di kalangan ulama, lalu kaum Wahhabi mengakfirkan pelaku perbuatan sunnat tersebut.

Ketiga, Wahhabi dan Khawarij sama-sama ekstrim dalam beragama serta jumud dalam memahami suatu ayat. Keempat, ibn taimiyah berkata, “Aliran Khawarij adalah bid’ah petama yang muncul dalam Islam, lalu pengkut Khwarij mengkafirkan dan menghalalkan darah kaum Muslimin”. Demikian pula Wahhabi, bid’ah terakhir dalam Islam, pengikutnya, pengikutnya mengkafirkan dan menghalalkan darah kaum Muslimin.

Keempat, hadits-hadits shaheh yang menerangkan tentang khawarij dan keluarnya mereka dari agama, sebagiaannya sesuai dengan aliran Wahhabi. Dalam shaheh Bukhari, nabi Muhammad Saw bersabda:

“Akan ada sekelompok manusia keluar dari arah timur. Mereka membaca Alquran, namun apa yang mereka baca tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah yang keluar dari sasarannya. Tanda-tanda mereka adalah mencukur rambut”.

Ali-Imam Alqasthalani berkata dalam mengomentari hadits ini, bahwa yang dimaksud dari arah timur adalah arah timur kota Madinah seperti Nadj dan sesudahnya. Demikian pula kaum Wahhabi lahir dari di Najd dan kemudian menyebar ke mana-mana. Di samping mencukur rambut juga menjadi ciri khas mereka, kaum Wahhabi juga memerintahkan orang-orangyang mengikuti mereka agar mencukur rambut, meskipun kaum wanita sekalipun.

Oleh karena itu, sebagian ulama yang semasa dengan lahirnya ajaran kaum Wahhabi berkata, “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibn Abdil Wahhab. Karena nabi Muhammad Saw., sudah cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu: “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”.

Dalam hadits lain nabi Muhammad Saw., bersada: “Mereka akan membunuh ummat Islam, akan tetapi membiarkan penyembah berhala”. Hadits ini persis dengan kalangan/ajaran Wahhabi. Mereka belum pernah mengarahkan peperangan trhadap selain ummat Islam. Dalam sejarah, mereka belum pernah dikenal bahw mereka mendatangi atau bermaksud untuk memerangi para penyembah berhala, karena hal tersebut tidak masuk dalam prinsip dan buku-buku mereka yang isinya penuh dengan kecaman dan pengakfiran tehadap ummat Islam.

Imam Albukhari juga meriwayatkan dari Ibn Umar dalam menjelaskan crri-ciri kaum Khawarij, “mereka mengambil ayat-ayat Alquran yang turun mengenai orang-orang kafir, lalu mereka tuangkan kepada orang-orang beriman”. Ibn Abbas juga berkata: “Janganlah kalian seperti Khawarij, memaksakan penafsiran ayat-ayat Alquran untuk ummat Islam (Ahlulqiblah). Padahal ayat-ayat tersebut turun mengenai Ahlulkitab dan orang-orang Musyrik. Mereka tidak mengetahui ilmunya, lalu mereka mengalirkan darah dan merampas harta benda orang-orang Islam”. Demikian pula kaum Wahhabi, mengambil ayat-ayat yang turun mengenai pemuja berhala, lalu mereka terapkan pada orang-orang beriman. Hal tersebut memenuhi buku-buku dan menjadi dasar madzhab mereka.

Buku yang tidak begitu besar dan tidak begitu kecil ini memberikan sarana kepada kita dalam berdialog dengan para pakar-pakar Wahhabi dan Salafi sekaligus. Isi dari buku ini cukup ringkas dengan cerita-cerita perdebatan antara kalangan Wahhabi dengan kalangan Sunni. Perdebatan memang tidak dianjurkan untuk menang, yang diharapkan adalah saling meluruskan, akan tetapi dengan membaca buku ini kita akan mendapat beberapa trik dan tata cara untuk berdebat dengan kelompok yang menentang ajaran Islam dengan menggunakan alasan  yang rasional dan bisa diterima oleh masyarakat umum.

Buku ini sangat bermanfaat bagi warga Nahdliyyin sebagai tameng dalam menghadapi kalangan Wahhabi yang telah berani mengkafirkan kaum Muslim. Namun tidak hanya kalangan Nahdliyyin saja yang berhak mendapat beberapa trik berdebat, masyarakat umu juga bisa mendapatkan beberapa trik berdebat dengan kalangan wahhabi dengan mnggunakan alasanyang rasional sebagaimana contoh-contoh yang terdapat di dalam buku ini.

* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris IAIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail: john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: