Pentingnya Lapangan Kerja bagi Masyarakat

Harian Bhirawa: Selasa, 19 Juni 2011

Oleh: Junaidi*

Dari berbagai kota di Jawa Timur, Surabaya merupakan kota industri di Jawa Timur, tetapi dari sekian banyak industri di Surabaya, mengapa Doli terinvestasi di Surabaya?

Dari sekian banyak kabar yang telah beredar dan telah kita dengar, Surabaya sangatlah panas daerahnya, penuh persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, baik bidang ekonomi, politik, dan budaya. Namun, persaingan yang diantusiasi oleh masyarakat, khususnya masyarakat Surabaya sendiri adalah bisnis dan ekonomi, karena ekonomilah yang akan menentukan hidup dan matinya kota Surabaya. Mayoritas masyarakat yang ada di Surabaya adalah masyarakat luar kota untuk mengenal satu sama lain sangatlah sulit, karena kebanyakan dari mereka berpindah-pindah tempat demi melancarkan bisnis dan ekonominya.

Sebagian masyarakat mengatakan bahwa Surabaya adalah tempat orang mencari penghidupan, dengan kata lain Surabaya bukanlah kota pendidikan seperti halnya kota jogja yang mendapat julukan kota pendidikan yang sayangnya sekarang menjadi kota pengungsi.

Salah satu industri yang sangatlah diminati di Surabaya adalah Doli, selain diminati dan digemari, Doli juga ditakuti dan dicemaskan. Karena industri tersebut merupakan industri yang keji dan terklaknat bukan hanya terlaknat, bisa jadi nantinya Surabaya menjadi terkutuk akibat industri tersebut. Sepertinya Surabaya terancam akan mendapat laknat dan kutukan, yaitu ambruk bersama kota Sidoarjo yang telah banyak mengeluarkan isi buminya, lumpur lapindo. Setelah Sidoarjo banyak mengeluarkan isi buminya tentu didalamnya sudah menjadi ruangan hampa, jika ada gempa, Sidoarjo dan kota di sekitarnya akan ambruk termasuk Surabaya.

Tetapi, mereka yang hidup di Surabaya seakan-akan tidak merasakan hal tersebut, terutama para PSK  (Pekerja Seks Komersial) yang ada di Doli. Para PSK yang ada di Doli adalah para kaum hawa, mereka ada yang terdiri dari anak-anak usia remaja hingga dewasa. Alasan mereka masuk tempat tersebut adalah dikarenakan ekonominya lemah. Dengan alasan ekonomi yang lemah, apa mungkin tempat industri tersebut bisa dibubarkan?. Wali Kota Surabaya telah mendapat sebuah surat perintah pembubaran Doli dari Gubernur Jawa Timur, tetapi surat tersebut ditolak oleh wali kota Surabaya dengan alasan bahwa jika industri tersebut dibubarkan, maka para PSK-nya nanti akan berkeliaran di berbagai tempat, dan itu sangat memprihatinkan terhadap masyarakat.

Jika memang yang mempelopori para PSK itu karena ekonomi yang lemah, apakah wali kota Surabaya tidak bisa membangun lapangan kerja yang sesuai dan layak bagi mereka? Layak tidaknya lapangan kerja itu tergantung terhadap pekerjaannya, karena PSK itu juga terdiri dari anak perempuan usia muda yang konon lelangannya sangatlah tinggi. Asas-asas anak harus menikmati perlindungan khusus dan harus diberikan kesempatan dan fasilitas oleh hukum atau dengan peraturan lainnya, untuk memungkinkan tumbuh jasmaninya, rohaninya, kejiwaannya, dan kemasyarakatannya dalam keadaan sehat, wajar, dan dalam kondisi yang bebas dan bermartabat. Dalam penetapan hukum untuk tujuan ini, perhatian yang terbaik pada anak harus menjadi pertimbangan utama.

Selayaknya mereka bekerja di lapangan kerja yang benar. Mayoritas mereka masuk industri tersebut hanya karena masalah persoalan ekonomi saja, apakah tidak bisa dengan cara meminta pembuatan lapangan kerja baru yang layak kepada wali kota setempat, karena mereka juga memiliki hak untuk hidup layak, Hak Asasi Manusia. Secara pandangan rasional, wali kota Surabaya tidak mampu membangun lapangan kerja untuk para PSK yang ada di industri komersial tersebut. Pro dan kontra Wali kota Surabaya dan Gubernur Jawa Timur yang jelas memunculkan teka-teki dibenak masyarakat pemerhati budaya, karena sepertinya Surabaya menjadi penampungan budaya vulgar dengan adanya industri Doli.

Paling tidak dari bermacam keinginan masyarakat luas, terutama masyarakat Surabaya, menginginkan kota Surabaya penuh dengan industri. Akan tetapi industri yang bisa menjadikan masyarakat setempat merasa nyaman dan damai dengan penghasilan yang halal. Hak memang melekat pada diri manusia, namun hak itu terus digunakan sewajarnya. Namun, jika tidak wajar dan mengganggu orang lain maka hak tersebut jangan digunakan, karena setiap orang atau individu juga memiliki hak untuk hidup aman, tentram, dan damai. Dengan adanya Doli masyarakat akan cemas dengan suami yang tidak puas terhadap perlakuan hubungan intim dengan istrinya yang sah dinikahinya.

Untuk mengatasi meningkatnya masalah tersebut, sepertinya diperlukan tiga macam kabijaksanaan, yaitu; pendidikan seks, pengawasan/pengendalian, perencanaan. Pendidikan seks, pendidikan ini perlu diberikan di sekolah-sekolah, sejak dari sekolah dasar, dengan demikian anak-anak yang telah meningkat umurnya akan dapat mengetahui bahaya-bahaya yang akan menimpa dirinya akibat hubungan-hubungan gelap, baik ditinjau dari segi kesehatan, lingkungan tradisi, kultur, dan masyarakat.

Pengawasan/Pengendalian, dalam hal ini suatu pihak orang tua dengan para pendidik melakukan pengawasan dengan sebijaksana mungkin terhadap anak-anaknya (terutama anak-anak gadis), di lain pihak melakukan pengendalian-pengendalian agar tidak terjadi hubungan yang terlalu bebas di kalangan muda-mudi, mencegah terjadinya perkawinan mereka yang belum mencukupi umur seperti yang ditentukan dalam undang-undang perkawinan.

Perencanaan, yang termasuk dalam hal ini ialah menyadarkan para remaja tentang pentingnya bagi mereka untuk merencanakan hidup berkeluarga selain pada usia yang telah matang untuk itu, juga setelah mereka memperoleh kemampuan untuk membentuk kehidupan dan kelangsungan berkeluarga (Kartasapoetra, 1987:505).

Dengan adanya pembentukan lapangan kerja baru dan kebijaksanaan di atas kemungkinan kehamilan di luar pernikahan dapat dikurangi. Selain itu pula pentingnya pembangunan lapangan kerja akan meminimalisir keberadaan Doli yang selama ini masih beroperasi. Sangat ironis sekali dan tidak pantas rasanya jika kota Surabaya yang identik dengan kota industri tidak mampu membangun lapangan kerja di Surabaya sendiri. Jangan sampai kota Surabaya seperti kota Jogja yang identik dengan kota pendidikan kini lambat laun menjadi kota pengangguran.

 

* Penulis adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                                 : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: