Obama dalam Perbincangan NU

Duta Masyarakat: Minggu, 28 Noveber 2010

Junaidi Khab Obama dan Amerika di Mata Nahdliyyin

Junaidi Khab Obama dan Amerika di Mata Nahdliyyin

Judul          : Obama dan Amerika di Mata Nahdliyyin

Penulis       : Tim PW. LTN. NU-Jatim

Penerbit     : Khalista

Cetakan     : I, 2010

Tebal         : 172 Halaman

Peresensi   : JUNAIDI KHAB*

Dalam buku NU ini banyak diceritakan janji-janji manis yang terucap dari lisan ras kulit hitam, Barrack Hussein Obama, saat-saat kampanye ketika manjadi delegasi calon presiden amerika serikat dari partai demokrat, terciptanya perdamaian tanpa keterlibatan militan, dan persamaan hak antar ras yang memungkinkan terciptanya keharmonisan antar ras dan ummat sedunia pada umumnya, itu merupakan sebuah harapan seorang Barrack Hussein Obama dan ummat seantero dunia.

Salah satu keunggulan Barrack Hussein Obama adalah isu “perubahan” yang menjadi jargon utama kampanye politiknya. Isu “perubahan” cukup sakti dan ampuh untuk menarik simpati dan mengundang decak kagum publik dunia. Itu merupakan bukan hal yang mustahil untuk menjadi harapan publik dunia, Amerika Serikat khsusnya, juga berharap ada suatu perubahan dari kepemimpinan Barrack Hussein Obama, perubahan yang pasti dari kepemimpinan presiden sebelumnya yang banyak menggunakan militan dan sifat arogan.

Tim PW. LTN. NU-Jatim melalui buku ini menerangkan keterlibatan Amerika dalam pemecahan masalah suatu Negara apakah dengan cara damai (pacific setlement) atau dengan cara militer?. Ini sering membuat masyarakat internasional tidak suka. Namun, setalah mendengar cuplikan pidato kampenya Barrack Hussein Obama, bahwa akan ada suatu perubahan, maka masyarakat internasional optimis dan berharap obamalah yang harus menjadi pemimpin Negara adidaya itu, sehingga dengan kampanye yang dilakukan oleh Barrack Hussein Obama, dengan visi perubahan itulah Obama banyak mendapat dukungan dan doa dari berbagai pihak dan golongan masyarakat internasional.

Mengamati visi politik obama sebagai individu tidak bisa dilepaskan dari faktor latar belakang dirinya dan keluarganya, pendidikan, pengalaman hidup serta lingkungan dimana ia tumbuh dan dewasa dan ketika dia mengikuti keluarganya ke Indonesia. Harapan bangsa Indonesia khususnya ummat islam terhadap kepemimpinannya adalah dengan adanya janji “perubahan” adalah damainya hubungan Amerika dan khususnya terhadap bangsa barat dengan Islam yang telah memandang islam sebagai agama kekerasan, padahal Islam adalah agama yang damai, bagaimana cara-cara dan metode-metode yang akan Obama terapkan agar bangsa barat tidak negative thinking, meskipun visi perubahan Obama tidak hanya tertuju terhadap ummat islam, khususnya ummat islam yang ada di Indonesia, itu tetap akan manjadi harapan yang harus tercapai.

Angin segar perubahan krbijakan luar negeri Amerika Serikat ke arah positf dengan islam dan Indonesia terjadi seiring dengan bergantinya tampuk pimpinan presiden George W. Bush ke Barrack H. Obama. Perubahan tampuk kepemimpinan Amerika Serikat terbukti mengubah bandul pendulum kebijakan luar negari Amerika Serikat.

Hal seperti inilah yang banyak diharapkan oleh kebanyakan masyarakat internasional, lebih-lebih oleh ummat islam yang berada di penjuru dunia. Memang banyak kalangan yang menafikan  angin segar perubahan itu, namun itu hanyalah persepsi mereka, takdirlah yang akan menentukan.

Obama dipilih karena “kelainannya”, karena ketidaklazimannya. Nah, dari “kelainan” itu pulalah kita bisa berharap dari dia. Sebagai orang yang berasal dari “warga kelas dua”- kerena non kulit putih. Obama tentu relatif steril dari sikap superioritas. Itu sangat tercermin dalam pidato-pidatonya yang selalu menekankan kesamaan. Jadi, seakan seorang Obama tidak pantas menunjukkan sikap superioritasnya meskipun menjadi presiden Negara adidaya itu.

Menurut buku yang ditulis oleh Tim PW. LTN. NU-Jatim ini, ke depan yang harus diperhatikan lebih lanjut adalah bagaimana membangun saling kesepahaman yang memuaskan kedua pihak, Indonesia dan Amerika Serikat. Amerika Serikat harus paham terhadap kepentingan islam , dan Indonesia sebagai Negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dan sebaliknya Indonesia harus memahami langkah-langkah demokratis Amerika. Apabila masalah pokok ini tidak diupayakan solusinya, maka hubungan Indonesia-Amerika Serikat akan terancam. Sejatinya, hubungan buruk bukanlah hal yang dikehendaki.

Yang pasti, kemenangan Obama dalam memperebutkan kursi AS I memberi secercah harapan bagi makin membaiknya hubungan Amerika Serikat dengan Negara yang mayoritas penduduknya beragama islam, termasuk Indonesia. Kemenangan Obama merupakan inspirasi bahwa perbedaan apa saja, termasuk perbedaan warna kulit dan keyakinan, bukan merupakan hambatan bagi sebuah Negara demokrasi untuk menyejahterahkan warganya secara lahir dan batin.

Obama menginginkan sikap tengah-tengah, seperti halnya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) adalah karakter Al-Tawassuth yakni sikap tengah-tengah yakni tidak ekstrim kanan dan tidak pula ekstrim kiri, sedemikian luhurnya Obama dalam penentuan sikapnya dalam mengambil keputusan.

“Selama hubungan kita ditentukan oleh perbedaan-parbedaan kita, kita akan memperkuat mereka yang menyebarkan kebencian bukan perdamaian, mereka yang mempromosikan konflik bukan kerja sama yang dapat membantu semua rakyat kita mencapai keadilan dan kemakmuran. Lingkaran kecurigaan dan permusuhan ini harus kita akhiri”. Itulah cuplikan pidato Barrack Hussein Obama saat kunjungannya ke Cairo Uneversity Mesir, 4 juni 2009.

Dari sekian maraknya tentang Barrack H. Obama, untuk membaca buku yang berjudul Obama dan Amerika di Mata Nahdliyyin sangatlah menggiurkan bagi mereka para ahli politik, siswa, ataupun mahasiswa yang masih bergelut dalam dunia pendidikan dan politik untuk menjadi sarjana yang berpikiran radikal dan kreatif dalam masalah politik, dan siapapun mereka memiliki hak untuk membaca buku ini, karena buku yang ditulis oleh Tim PW. LTN. NU-Jatim ini cukup banyak menyimpan kajian-kajian politik kenegaraan. Agar tidak ketinggalan keilmuan-keilmuan dalam berpikir kreatif dan kritis dalam dunia politik kenegaraan yang saat ini masih berbaur sana-sini, maka dengan buku ini, ketertinggalan itu bisa kita kejar dengan mudah untuk menuju dunia perpolitikan yang cemerlang yaitu Negara yang demokratis.

            * Penulis adalah lulusan SMA Al-In’Am Banjar timur Gapura Sumenep Madura, dan sekarang melanjutkan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Sastra Inggris(SI).

E-Mail: john_gapura@yahoo.com

Hp: 087866119361

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: