Menumbuhkan Hidup Kebersamaan yang Sirna

Harian Bhirawa: Rabu, 09 Mei 2012

Oleh: Junaidi*

Jika kita mengingat masa dahulu kala, masa di mana pendidikan tidak begitu berkembang dengan pesat, ilmu pengetahuan begitu terbatas, untuk memecahkan segala urusan kehidupan cukup begitu sulit dan rumit. Namun dalam keterbatasan tersebut kita masih banyak menjumpai hal-hal yang cukup begitu istimewa yang dimiliki oleh masyarakat meskipu mereka memiliki pengetahuan yang sangat minim. Minmnya pengetahuan yang mereka miliki tidak menjadikan kehidupannya terombang-ambing ddengan keadaan yang mencekal mereka. Malah mereka dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki bisa menumbuhkan segala apa yang bisa bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan bagi orang lain.

Ketika masa dahulu, kebanyakan dari masyarakat mengutamakan sifat toleransi dan gotong royong. Hidup yang demikian itulah menjadikan kehidupan mereka tenteram, damai, aman, dan makmur. Kehidupan yang demikian rupa bisa mereka miliki bersama meskipun dalam ranah minimnya pengetahuan dan pendidikan yang mereka miliki. Tidak diragukan lagi semangat hidup bersama mereka ketika bergaul dengan yang lainnya. Mereka bisa saling menghargai dan saling pengertian dalam segala hal ihwal tentang kehidupan bermasyarakat.

Masalah yang mereka hadapi dan cukup begitu sulit untuk dipecahkan, dengan perlahan dan bermusyawarah akhirnya bisa terselesaikan dengan sendirinya. Kebanyakan masyarakat yang melakukan dan memiliki sifat yang seperti itu dari golongan masyarakat pedesaan. Di mana semangat hidup mereka lebih kebal daripada masyarakat perkotaan. Semangat hidup masyarakat perkotaan jika dibanding dengan semangat hidup masyarakat pedesaan memang sangat berbeda jauh. Masyarakat kota tidak memiliki sifat kegotong royongan yang cukup kuat dalam hidup dengan masyarakat sekitarnya.

Metropolitan vs Pedesaan

Dalam kehidupan masyarakat pedesaan, hidup kebersamaan dan saling mengenal sangat diperhatikan. Dari beberapa kilo meter hinggal berkilo-kilo meter jauhnya dari rumah masing-masing, namun mereka tetap bisa saling mengetahui dan saling mengenal. Namun dalam kehidupan masyarakat perkotaan kehidupan mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Sangat diherankan sekali kehidupan masyarakat perkotaan ini, hingga tetangga yang ada di dekat rumahnya, mereka tidak bisa mengenalnya. Sungguh sangat tidak bisa kita bayangkan kehidupan yang seperti ada di kegelapan ini.

Semangat hidup bersama (gotong royong) dan bertoleransi kalah majunya jika kita bandingkan dengan masyarakat dahulu kala, dimana pengetahuan dan pendidikan mereka masih tercekal. Jika salah satu dari anggota masyarakat akan memindah kandang sapi saja tidak begitu sulit untuk mengumpulkan para pekerja. Mereka cukup memukulkan kentongan dengan beberapa detak kentongan, beberapa masyarakat berbondong-bondong datang untuk membantunya tanpa mengharapkan upah sepeser pun dari pihak yang berkepentingan.

Sangat memalukan sekali jika kita bandingkan dengan keadaan masyarakat masa sekarang ini. Saat ini, kapabilitas dan intelegensi masyarakat sangatlah tinggi dan banyak perkembangan dan pertumbuhan dari dunia kebodohan. Namun sifat seperti dahulu kala kini sirna bersamaan dengan mapannya pengetahuan dan pendidikan yang mereka miliki. Keadaan yang demikian seakan-akan lebih parah dibanding dengan kedaan pada masa dahulu kala. Semua pekerjaan, hidup bersama sekarang ini identik dengan materi semua. Istilanya “ada bayaran, ada pula pekerjaan”. Sungguh sangat naïf sekali keberadaan masyarakat yang penuh dengan pengetahuan yang hanya mengandalkan materi.

Setidaknya masyarakat yang sudah kaya akan pendidikan dan pengetahuan yang cukup pesat ini bisa mengembangkan dan mempraktekkan hidup bergotong-royong dan bertoleransi antar sesama. Semestinya mereka yang telah berpengetahuan dan berpendidikan ekstra, lebih banyak mengayomi masyarakat yang masih tertinggal. Namun sebaliknya, mereka malah memanfaatkan keterbelakangan mereka yang tertinggal demi meraup keuntungan yang memuaskan. Mereka labih menunjukan sifat ego dan kewibawaannya saja, tanpa memerhatikan terhadap masyarakat yang ada di sekitarnya. Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan serta ilmu pengetahuan selayaknya dibarengi dengan sifat lemah lembut dan lebih mengayomi terhadap kebutuhan bersama.

Yang paling diutamakan di dalam masyarakat bukanlah mengenai ilmu pengetahuan yang kita miliki, melainkan sopan santun dan saling menghargai antar sesama (bertoleransi) dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan apa-apa dari pihak lain. Perlu kita sadari bahwa jika kita cuma memiliki pengetahuan tanpa diterapkan kepada masyarakat dan tanpa disertai dengan moral yang baik sangatlah percuma dan sia-sia. Setidaknya dengan bekal ilmu pengetahuan yang mumpuni kita bisa menuai sikap gotong royong dan toleransi antar sesama, jangan kalah semangat hidup dengan masyarakat dahulu kala yang minim akan ilmu pengetahuan.

* Penulis adalah jurnalis pada Lembaga Pers Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                                 : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: