Membangun Semangat Pemuda dengan Semangat ‘45

RADAR SURABAYA ●JUMAT, 21 OKTOBER 2011

Oleh: Junaidi*

Pemuda adalah tonggak kehidupan suatu bangsa. Semua liku-liku dan perjalanan suatu bangsa dan Negara berada di tangan para pemuda. Jika suatu bangsa para pemudanya memiliki moral yang tidak akurat lagi dengan kehidupan masyarakat sekitar. Maka kehiidupan suatu Negara tidak akan bertahan lama lagi, menuju kerusakan total. Namun, jika para pemuda itu memiliki moral dan semangat hidup yang begitu mencerahkan, maka kehidupan dan kemakmuran yang akan dicapai oleh suatu bangsa atau Negara tersebut. Dikarenakan betapa kehidupan suatu bangsa dan Negara berada di tangan para pemuda, sampai Soekarno memberanikan diri mengucapkan bahwa untuk membangun dan menghidupkan bangsa Indonesia ini hanya dengan sepuluh pemuda. Ini dengan alasan bahwa para remajalah yang memiliki semangat yang membara dan memiliki peran yang sangat penting di tengah-tengah masyarakat.

Peran pemuda bagi kehidupan bangsa sangatlah berpengaruh. Ini merupakan hal yang sangat krusial untuk memajukan kehidupan suatu bangsa. Jika peran pemuda tidak dibutuhkan lagi, maka cinta tidak akan tumbuh bersemi lagi di antara pasangan suami istri. Dengan peran dan semangat para pemuda banyak perkembangan yang dihasilkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat para pemuda tidak lepas dari cita-cita yang dimilikinya sejak dia sudah merasa akan memiliki masa depan. Dengan demikian semangat itulah yang mendorong untuk lebih maju dan berperan aktif demi untuk mencapai tujuan mereka. Namun perlu diakui keberadaan para pemuda antara yang satu dengan lainnya belum tentu memiliki semangat yang sama, semangat yang membara. Keadan dan kondisi yang bisa menyebabkan mereka memiliki semangat hidup yang berbeda. Kadang mereka memiliki antusias yang begitu membara dan selamanya membara, namun kadang mereka berantusias lalu sifat psimis dan tidak percaya diri mulai tumbuh setelah mereka tidak mendapat dukungan dari pihak lain.

Kita sekarang bisa melihat dan membedakan antara semangat pemuda masa kini dan semangat pemuda pada masa dahulu kala. Perbandingannya hanya ada pada dua titik saja antara semangat pemuda sekarang dengan pemuda pada masa dahulu ’45, “Gitar dan Tombak” yaitu pada masa ’45 semangat pemuda untuk mandiri sangatlah bergejolak, mereka tidak banyak bergantung kepada orang lain. Tombak yang mereka pegang digunakan untuk berjuang membela tanah air dan kehidupan bangsa ini. Mereka berani bekerja keras untuk bertahan hidup tanpa meminta-minta. Sedangkan masa pemuda sekarang, mereka banyak bergantung kepada orang lain, gitar yang dia pegang membuatnya kurang bersemangat untuk menjalani hidup dan memperjuangkan kehidupan bangsa dan negeri ini dari serangan-serangan ideologi yang mengancam keberadaan bangsa ini.

Memang tidak mengklaim mereka salah secara kehidupan sosial, namun sepantasnya mereka mau membangun dan berantusias dalam rangka memajukan bangsa dan negeri ini. Semangat baru seperti dahulu kala perlu kita bina dan kita bombing secara optimal dan maksimal. Kapabilitas mereka harus mendapat dukungan dan peran yang lebih dari pemerintah.

Berjuang atau Pecundang

Meski pemuda memiliki potensi yang cukup begitu gemilang, namun tidak ada gunanya apabila potensi itu tidak dikembangkan. Ini sangat krusial bagi kita semua, jika potensi para pemuda bisa dikembangkan dan digunakan dengan baik, maka mereka akan bisa menempuh berbagai persoalan kehidupan bangsa ini. Namun, sebaliknya jika potensi yang mereka miliki tidak bisa dikembangkan atau berkembang tapi dengan cara yang melenceng, maka sangat mengkhawatirkan pula bagi kehidupan bangsa ini.

Semangat dan potensi pemuda sekarang ini harus dikemas agar menjadi pemuda seperti pada masa dahulu kala, pemuda ’45, mau berjuang untuk bangsa dan negeri ini dan lebih-lebih untuk pribadi mereka sendiri. Tidak ayal lagi jika ada pemuda yang berjuang dan berkorban di jalan yang salah, itu semua dari cara dan didikan yang salah pula dari bagi mereka. Dengan demikian, pendidikan perlu diperhatikan dengan serius oleh pemerintah.  Belakangan ini pendidikan karakter mulai dirongrong, namun cara menerapkannya itu perlu banyak pertimbangan. Jika tidak dimulai dari para pemuda sangatlah nisbi untuk bisa diharapkan akan sukses.

Harapan bangsa dan negeri ini hanya ada dan bertumpu pada para pemuda, tonggak harapan yang perlu dibangun sedini mungkin. Tentu mereka harus dibangun dengan moral dan sifat-sifat yang memiliki karakter membangun terhadap negeri ini. Jika mereka mendapat edukasi yang kurang begitu caocok dan kurang mendukung terhadap hidupnya, maka kemungkinan besar rasa untuk berjuang akan pudar pula. Hingga mereka hanya akan cuma berani berorasi di depan khalayak, namun tidak akan membarikan bukti riil.

Membangun dan menumbuhkan semangat pemuda sekarang ini perlu manghadirkan semangat ’45 yang silam. Menyadarkan mereka untuk memilih pendidikan dan dimotivasi untuk lebih berkreasi demi untuk kemajuan bangsa dan negeri ini, khusunya bagi mereka sendiri. Ini perlu dukungan pemerintah untuk memaksimalkan tujuan suci ini. Jangan hanya masalah kemiskinan akan materi yang diperhatikan dan diberi tunjangan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun masalah pendidikan dibokongi, tidak ada Istilah BLT bagi perkembangan pendidikan. Ini sangat penting dan krusial bagi pemerintah dengan mengadakan progam BLT bagi mereka pemuda yang miskin akan pendidikan.

* Penulis adalah mahasiswa Jurusan Sastra Inggri. Fskultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya. Aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Hp                                 : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: